Setiap doa akan didengar, tiap doa akan dikabulkan, bersyukurlah

Bersabar bukanlah sifat melainkan keputusan karena aku hanyalah seorang hamba...
Tampilkan postingan dengan label War. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label War. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Desember 2011

Perang Hunain

Perang ini merupakan salah satu peperangan terbesar dan terpenting bagi kaum muslimin. Setelah berhasil menguasai kota Makkah, pasukan muslimin yang sekarang sudah menjadi sangat kuat, masih harus menyelesaikan tugas besar. Yaitu menghancurkan pasukan Malik bin Auf yang terdiri dari qabilah Hawazin dan Tsaqif.
Untuk menumpas perlawanan Malik dan kawan-kawannya, Rasul Allah s.a.w. memimpin
pasukan terdiri dari 12.000 orang. 2000 diantaranya adalah orang-orang Qureiys yang baru masuk Islam setelah jatuhnya kota Makkah. Pasukan ini merupakan pasukan terbesar yang pernah dikerahkan oleh Rasul Allah s.a.w. ke medan perang. Di antara komandan-komandan pasukan banyak yang baru saja memeluk agama lslam, termasuk Khalid bin Al-Walid.
Untuk menghadapi serangan kaum muslimin, Malik bin Auf menempatkan pasukannya pada posisi yang sangat strategis, yaitu di lambung kiri dan kanan lembah Hunain yang merupakan jalur lalu lintas sempit. Pada waktu pasukan Muslimin lewat lembah tersebut pasukan Malik akan menghujani mereka dengan anak panah. Siasat itu nampak berhasil baik.
Di kala fajar mulai menyingsing, pasukan Islam yang berada di baris depan, di bawah komando Khalid bin Al-Walid, benar-benar masuk perangkap Malik bin Auf. Dengan gencar dan tak henti-hentinya pasukan Malik menghujani pasukan muslimin dengan anak panah dan tombak. Karena kalah posisi dan diserang secara mendadak dan besar-besaran, pasukan muslimin menjadi kacau balau. Mereka lari terbirit-birit dan mundur tanpa teratur. Rasul Allah s.a.w. sendiri yang waktu itu masih berada di barisan belakang tidak dapat
mencegah pasukan yang panik dan berusaha menyelamatkan diri. Jerih payah Rasul Allah s.a.w. yang selama ini dicurahkan untuk membina pasukan muslimin, hampir saja hancur berantakan di lembah Hunain ini. Orang-orang munafik sejenis Abu Sufyan bin Harb, yang secara resmi sudah memeluk Islam dan bergabung dalam pasukan Rasul Allah s.a.w. bersorak-sorai kegirangan menyaksikan pasukan muslimin kocar-kacir. Demikian juga Syaibah bin Utsman.
Pasukan Malik bergerak terus mengejar pasukan muslimin yang lari mundur dalam keadaan kacau dan berpencar-pencar. Keadaan menjadi gawat dan mengkhawatirkan. Rasul Allah s.a.w. merasa sukar sekali mengendalikan pasukan yang sudah kehilangan pamor sama sekali. Namun, beliau tetap tenang dan tabah mengenderai kuda baghalnya yang berwarna putih. Orang-orang yang tetap mantap menyertai beliau antara lain terdapat Imam Ali r.a., Abbas bin Abdul Mutthalib r.a., Abu Bakar r.a. dan Umar r.a.
Berkat kegigihan dan ketangguhan para sahabat, berkat keberanian Imam Ali r.a. dan para sahabat lainnya dalam memukul tiap serangan yang ditujukan terhadap Rasul Allah s.a.w., akhirnya kaum muslimin dapat dikendalikan dan diarahkan untuk melancarkan serangan balasan. Berangsur-angsur situasi berubah dan berbalik, sehingga kemenangan yang sangat mengesankan akhirnya dapat diraih oleh kaum muslimin.

Perang Khaibar

Tidak lama setelah "Perjanjian Hudaibiyah" itu ditandatangani, Banu Khuza'ah segeramenyatakan bersekutu dengan Rasul Allah s.a.w. Sedangkan Banu Bakr menyatakan bersekutu dengan fihak Qureiys. Dengan perjanjian tersebut kaum muslimin memperoleh kesempatan leluasa untuk menyiarkan agama Islam kepada orang-orang Arab di luar kaum musyrikin Qureiys, dan memperoleh waktu yang cukup untuk membangun dan memperkuat negeri. Walaupun Rasul Allah s.a.w. telah mengadakan perjanjian perdamaian dengan musyrikin Qureiys (Perjanjian Hudaibiyah), namun beliau berfikir, bahwa keamanan dan keselamatan kaum muslimin belum terjamin, selama masih ada kekuatan-kekuatan anti Islam yang bercokol di utara Madinah. Kekuatan itu ialah kaum Yahudi yang mempunyai beberapa benteng di Khaibar.
Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, orang-orang Yahudi memang tidak dapat dipercaya kejujurannya dalam melaksanakan perjanjian perdamaian. Peristiwa pengkhianatan itu telah terjadi beberapa kali dilakukan oleh orang-orang Yahudi dari Banu Quraidah, Bani Qainuqa' dan Bani Nadhir.
Sekarang tibalah saatnya untuk mematahkan kekuatan terakhir kaum Yahudi, yang selama ini dirasakan sebagai duri di dalam daging. Tanpa membuang-buang waktu, Rasul Allah mempersiapkan pasukan sebanyak 1600 orang dan 100 pasukan berkuda guna diberangkatkan ke Khaibar. Setelah berjalan tiga hari tibalah pasukan muslimin di depan perbentengan Khaibar. Mereka telah berada di depan benteng Natat.
Esok paginya pertempuran mati-matian mulai berkobar. 50 orang dari pasukan muslimin gugur dan dari fihak Yahudi lebih banyak lagi, termasuk pemimpin Yahudi Khaibar, yaitu Salam bin Misykam. Setelah Salam terbunuh pimpinan Yahudi dipegang oleh Harits bin Abi Zainab. Ia keluar dari benteng Na'im bersama sejumlah pasukan dengan maksud hendak menggempur kaum muslimin.
Pasukan Muslimin yang terdiri dari orang-orang Khazraj berhasil memukul mundur pasukan Harits sampai mereka masuk ke dalam benteng. Pasukan muslimin makin memperketat pengepungan atas beberapa benteng Khaibar. Pihak Yahudi bertahan mati-matian. Bagi mereka, jika kali ini kalah, berarti penumpasan terakhir Bani Israil di negeri Arab. Pengepungan itu berlangsung selama beberapa hari. Untuk melancarkan serangan, Rasul Allah s.a.w. menyerahkan panji peperangan kepada Abu Bakar As Shiddiq r.a. Dengan tugas supaya menyerbu dan merebut benteng Na'im. Setelah terjadi pertempuran, Abu bakar r.a. kembali tanpa berhasil mendobrak benteng tersebut.
Keesokan harinya, Rasul Allah s.a.w. menugaskan Umar Ibnul Khattab r.a. Iapun mengalami nasib yang sama seperti Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. Sekarang Imam Ali r.a. dipanggil oleh Rasul Allah s.a.w. seraya berkata: "Pegang panji ini dan bawa terus sampai Allah memberikan kemenangan kepadamu!"
Imam Ali r.a. berangkat membawa panji Rasul Allah s.a.w. Setibanya dekat benteng, penghuni benteng itu keluar serentak menghadapinya. Ketika itu juga terjadi pertempuran. Salah seorang Yahudi berhasil memukul Imam Ali r.a. sampai perisai yang ada di tangannya terpental. Tetapi dengan gerakan kilat Imam Ali r.a. segera menjebol salah sebuah daun pintu yang ada di benteng dan dengan berperisaikan daun pintu itu terus menerjang dan menggempur. Akhirnya benteng itu dapat didobrak, dan daun pintu yang dipegangnya dijadikan jembatan. Dengan jembatan itu kaum muslimin menyeberang serentak dan menyerbu ke dalam benteng.
Kaum Yahudi bertahan mati-matian. Benteng Na'im itu baru jatuh sepenuhnya, setelahkomandan pasukan Yahudi, Harits bin Abi Zainab mati terbunuh. Peristiwa pertempuran itu menunjukkan betapa uletnya kaum Yahudi bertahan, dan menunjukan pula tingginya semangat juang kaum muslimin dalam perang Khaibar. Dengan jatuhnva benteng Na'im, praktis tidak banyak lagi kesukaran bagi kaum muslimin untuk menjebol dan mengobrak-abrik benteng-benteng Khaibar lainnya yang masih tinggal, sepertibenteng Qamus, benteng Sha'b dan lain-lain yang tidak seberapa kokoh.
Dengan jatuhnya semua benteng Yahudi di Khaibar, perasaan putus asa merayap di dalam hati mereka, kemudian mereka minta damai. Semua harta benda yang ada di dalam perbentengan diserahkan kepada Rasul Allah s.a.w. sebagai barang ghanimah, dengan syarat mereka diselamatkan. Rasul Allah s.a.w. menerima usul dan menyetujui permintaan mereka itu.
Mereka dibiarkan tetap tinggal di kampung-halaman mereka, mengerjakan tanah yang kini menjadi milik kaum muslimin. Sebagai imbalan mereka mendapat upah separuh dari hasil tanaman.
H.M.H. Al Hamid Al Husaini

Rabu, 30 November 2011

Perang Khandaq (perang parit)

Perang ini menjadi abadi dan masyhur dalam sejarah Islam, antara lain karena diikuti dengan turunnya firman Allah s.w.t. sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an (Surah Al-Ahzab). Untuk pertama kalinya dalam usia yang masih muda, kaum muslimin di Madinah dikepung oleh kurang lebih 10.000 orang pasukan musyrikin, yang terdiri dari berbagai suku dan qabilah. Pasukan itu diperkuat lagi oleh kaum Yahudi Banu Quraidhah, yang mengkhianati perjanjian perdamaian dengan Rasul Allah s.a.w. Mereka ini bergabung dengan pasukan musyrikin Qureiys yang membeludak dari Makkah guna mengepung kota Madinah.
Peperangan tersebut dinamakan juga perang Khandaq (Parit), karena untuk menanggulangi penyerbuan kaum musyrikin Qureiys atas usul dan prakarsa Salman Al Farisi, dengan persetujuan Rasul Allah s.a.w., kaum muslimin menggali parit-parit yang cukup lebar dan dalam di sekitar pinggiran kota Madinah. Di perang Khandaq ini keampuhan dan ketangkasan Imam Ali r.a. juga teruji dalam perang tanding melawan seorang pendekar Qureiys yang terkenal ulung, yaitu 'Amr bin Abdu Wudd
Al'Amiri. 'Amr seorang prajurit berkuda yang gesit dan lincah bermain pedang atau tombak. Dengan congkak dan sombong 'Amr bin Abdu Wudd berani maju ke depan menyeberangi parit pertahanan kaum muslimin, lewat bagian yang agak dangkal dan sempit. Sambil membanggakan kebolehannya mengendalikan kuda, ia berteriak menantang: "Hai . . . Apakah tak seorang pun yang berani keluar untuk bertanding?"
Tantangan dari seorang jagoan yang garang itu tidak ditanggapi oleh pasukan muslimin. Kaum muslimin banyak yang mengenal siapa 'Amr bin Abdu Wudd itu dan betapa tenar namanya sebagai pendekar yang mahir berperang tanding.
Setelah melihat kenyataan tak ada seorang pun yang menanggapi tantangan 'Amr, Imam Ali r.a. tidak tahan lagi menahan perasaan geramnya. Ia segera berdiri dan berkata kepada Rasul Allah s.a.w.: "Ya Rasul Allah, biarlah saya yang menandingi dia!"
Rasul Allah s.a.w. yang mengetahui benar ' Amr itu seorang pendekar yang kenyang makan "garam" perang tanding, beranggapan, bahwa 'Amr bukanlah tandingan bagi saudara misannya yang baru berusia kurang dari 30 tahun. Karena itu maka beliau menyahut: "Duduk sajalah engkau, dia adalah 'Amr!"
Karena tidak ada juga jawaban dari fihak muslimin, mak 'Amr yang beringas itu berkoar lagi: "Mana itu sorga yang akan kalian masuki bila kalian mati terbunuh, hah?!"
Ejekan itu terasa seperti sembilu yang sangat mengiris-iris hati kaum muslimin, tetapi mereka tetap diam. Dengan darah muda yang mendidih laksana lahar yang menyembur dari kepundan, Imam Ali r.a. tidak dapat lagi menahan gejolak hatinya mendengar penghinaan yang sangat menyakitkan itu. Ia mendesak lagi kepada Rasul Allah s.a.w.: "Biarlah saya yang menghadapinya; ya Rasul Allah!"
Tetapi Rasul Allah s.a.w. kembali memerintahkan supaya Imam Ali r.a. duduk dan tenang, sebab yang akan dihadapinya bukan sembarang orang. Dengan perasaan yang sudah terbakar dan dengan nada gemas, Imam Ali r.a. berusaha meyakinkan Rasul Allah s.a.w. bahwa ia sanggup melawan dedengkot kaum musyrikin itu: "Biar 'Amr sekalipun ya Rasul Allah!"
Mengingat tekad Imam Ali r.a. yang begitu bulat, dan mengingat pula perlu membangkitkan keberanian kaum muslimin, akhirnya Rasul Allah s.a.w. memberi izin dan restu kepada Imam Ali r.a. untuk tampil ke depan. Imam Ali r.a. dengan hangat menyambut persetujuan dan idzin Rasul Allah s.a.w. Ia segera meloncat ke depan menyongsong tantangan seorang lawan yang bukan sembarangan. Dengan mengenakan baju besi dan menghunus pedangnya yang tersohor dengan nama "Dzul Fiqar", Imam Ali r.a. maju dengan ayunan langkah yang tegap dan diiringi doa Rasul Allah s.a.w.: "Ya Allah, dia adalah saudaraku dan putera pamanku. Janganlah Kaubiarkan aku seorang diri tanpa dia. Sesungguhnya Engkau tempat aku berserah diri yang sebaik-baiknya."
Setelah berhadap-hadapan dengan 'Amr, tanpa perasaan gentar sedikit pun Imam Ali r.a. bertanya kepada 'Amr: "Hai 'Amr, bukankah engkau pernah berjanji, bahwa engkau akan menerima ajakan seorang dari Qureiys untuk menempuh salah satu di antara dua jalan hidup?" "Ya!" jawab 'Amr dengan singkat dan angkuh.
"Engkau kuajak. ke jalan Allah dan Rasul-Nya, ke jalan Islam", kata Imam Ali r.a. melanjutkan. Kata-kata Imam Ali r.a. ini diucapkan dengan suara lantang yang memecahkan kesunyian garis pertempuran. Hampir semua mata dua pasukan yang siap tempur tertuju kepada dua sosok tubuh yang sedang berhadap-hadapan.
'Amr bin Abdu Wudd yang sudah cukup usia, garang dan banyak pengalaman menghadapi perang tanding kini bertatap muka dengan seorang anak muda yang berdiri tegak di hadapannya. Pemuda pemberani, jantan dan perkasa, berbaju besi dengan pedang terhunus di tangan. Sungguh anggun kelihatannya. Konfrontasi antara dua orang itu melambangkan konfrontasi dari dua kekuatan yang berlawanan. Kekuatan lama yang sudah lapuk dan kekuatan baru yang sedang tumbuh, yaitu kekuatan jahiliyah dan kekuatan lslam.
Mendengar pertanyaan yang bernada desakan itu, dengan cepat 'Amr menyahut: "Aku tidak membutuhkan itu!"
"Kalau begitu, mari kita mulai bertanding!" tantang Imam Ali r.a. sambil siaga menghadapi gerakan 'Amr. Akan tetapi tantangan Imam Ali r.a. yang serius itu diremehkan saja oleh 'Amr: "Aku tak suka menumpahkan darahmu. Ayahmu kan teman karibku!" Tanpa memperdulikan ucapan 'Amr, Imam Ali r.a. dengan perasaan tak sabar lagi berucap: "Tetapi, demi Allah, aku justru ingin membunuhmu!"
Ucapan seorang muda yang dianggap ketus oleh 'Amr itu, ternyata membangkitkan amarah dan meluapkan emosinya. Cepat saja darah perang yang mengalir dalam tubuh 'Amr mendidih. Naluri keprajuritannya secara cepat menyentakkan gerak refleksi dan langsung seketika itu juga Imam Ali r.a. diserang. Demikian gesit dan tangkasnya 'Amr mengayunkan pedang dengan dorongan tenaga yang luar biasa. Tetapi Imam Ali r.a. tidak kalah tinggi nalurinya dan gerak refleksinya.
'Amr yang sejak semula meremehkan lawan, ternyata sia-sia belaka dalam mengerahkan segala kekuatan ototnya untuk menebas leher Imam Ali r.a. Kesempatan yang meleset itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Imam Ali r.a. Ia mengelak, menangkis dan menyerang dalam gerak beruntun secara kilat. Pada saat 'Amr kehilangan keseimbangan badan, Pedang Dzul Fiqar yang diayun kuat-kuat oleh Imam Ali r.a. menyambar bahu kanan 'Amr sampai terbelah dua. Pendekar kebanggaan Qureiys itu jatuh dari atas kuda menggelepar di tanah mandi darah dan debu.
Perang tanding berlangsung demikian cepat dan selesai jauh lebih cepat dari yang diperkirakan orang. Pada mulanya banyak yang menduga bahwa Imam Ali r.a. yang "masih hijau" itu akan "dibelah dua" oleh pedang 'Amr. Oleh karena itu ketika jagoan Qureiys itu tersungkur tidak bangkit kembali, banyak orang dari kedua pasukan terkesima. Hampir saja mereka, tidak mempercayai apa yang sudah terjadi. Baru setelah Imam Ali r.a. menyerukan takbir, kaum muslimin menyambutnya dengan mengumandangkan kebesaran Allah: Allaahu Akbar ...Allaahu Akbar.... !
Tanpa perasaan sombong dan tinggi hati Imam Ali r.a. kemudian menuju ke tempat Rasul Allah s.a.w. Dengan perasaan haru dan syukur ke hadirat Allah s.w.t., Rasul Allah s.a.w. mengeluarkan pernyataan singkat: "Perang tanding yang dilaksanakan oleh Ali bin Abi Thalib melawan 'Amr bin Abdu Wudd itu merupakan perbuatan paling mulia yang dilakukan umatku sampai hari kiyamat."
Akan tetapi terbunuhnya jagoan Qureiys belum menyelesaikan jalannya perang Khandaq.
Namun terbunuhnya tokoh Qureiys itu menimbulkan kegoncangan yang hebat di kalangan
pasukan penyerbu. Semangat pasukan penyerbu makin merosot, setelah harapan mereka untuk dapat menerobos parit makin tipis.
Dalam keadaan seperti itu terjadilah angin ribut dan hujan deras diiringi suara petir sambar-menyambar. Kemah-kemah dan perkakas-perkakas masak kaum musyrikin beterbangan dilanda angin kencang. Kubu pertahanan mereka menjadi porak poranda dan banyak sekali diantara mereka yang tak tahan menghadapi tekanan udara dingin.
Di tengah-tengah hembusan angin puyuh seribut itu, Abu Sufyan yang dalam perang Khandaq ini bertindak selaku rimpinan pasukan penyerbu, berkata kepada anak buahnya: "Saudara-saudara, kita tak perlu lama lagi tinggal di tempat ini. Banyak kuda dan unta kita yang sudah binasa.
Bani Quraidah sudah tak menepati janjinya lagi dengan kita. Bahkan kita mendengar hal-hal dari mereka yang tidak menyenangkan hati. Tambah lagi kita menghadapi angin kencang begini ributnya. Maka itu lebih baik kita pulang saja. Aku sendiri akan berangkat pulang!"
Di tengah-tengah angin puyuh yang begitu kencangnya, Abu Sufyan dan rombongan secara bergelombang meninggalkan tempat dan kembali ke Makkah. Keesokan harinya sudah tak ada lagi seorang Qureiys atau Yahudi yang masih tinggal. Semuanya sudah jauh meninggalkan parit. Rasul Allah bersama kaum muslimin lainnya dengan tenang kembali ke tempat kediaman masing-masing. Semuanya memanjatkan syukur sedalam-dalamnya kepada Allah s.w.t. yang telah menghindarkan mereka dari marabahaya.

Selasa, 29 November 2011

Perang Uhud

Dalam peperangan yang kedua ini, Rasul Allah s.a.w. menyerahkan panji kaum muhajirin kepada Imam Ali r.a. Sedangkan panji kum Anshar diserahkan kepada salah seorang di antara mereka sendiri. Peperangan Uhud terkenal dalam sejarah sebagai peperangan yang amat gawat. 700 pasukan muslimin harus berhadapan dengan 3.000 pasukan kafir Qureiys yang dipersiapkan dengan perbekalan dan persenjataan serba lengkap. Kecuali itu diperkuat pula dengan pasukan wanita di bawah pimpinan Hindun binti 'Utbah, isteri Abu Sufyan bin Harb, guna memberikan dorongan moril, agar orang-orang kafir Qureiys jangan sampai lari meninggalkan medan tempur.
Untuk menghadapi kaum musyrikin yang sudah memusatkan kekuatan di Uhud, pasukan
muslimin di bawah pimpinan Rasul Allah s.a.w. menuju ke tempat itu, dengan memotong jalan sedemikian rupa, sehingga gunung Uhud berada di belakang mereka. Kemudian Rasul Allah s.a.w. mulai mengatur barisan. 50 orang pasukan pemanah ditempatkan pada sebuah lembah di antara dua bukit. Kepada mereka diperintahkan supaya menjaga pasukan yang ada di belakang mereka. Ditekankan jangan sampai meninggalkan tempat, walau dalam keadaan bagaimanapun juga. Sebab hanya dengan senjata panah sajalah serbuan pasukan berkuda musuh dari belakang dapat ditahan.
Perang Uhud mulai berkobar dengan tampilnya Imam Ali r.a. ke depan melayani tantangan Thalhah bin Abi Thalhah yang berkoar menantang-nantang: "Siapakah yang akan maju berduel?" Seperti api disiram minyak semangat Imam Ali r.a. membara. Dengan ayunan langkah tegap dan tenang, serta sambil mengeretakkan gigi, ia maju dengan pedang terhunus. Baru saja Thalhah bin Abi Thalhah menggerakan tangan hendak mengayun pedang, secepat kilat pedang Imam Ali r.a. "Dzul Fikar" menyambarnya hingga terbelah dua. Betapa bangga Rasul Allah s.a.w. menyaksikan ketangkasan putera pamannya itu. Ketika itu kaum muslimin yang menyaksikan
kesigapan Imam Ali r.a., mengumandangkan takbir berulang-ulang.
Dengan tewasnya Thalhah bin Ahi Thalhah, pertarungan sengit berkecamuk antara dua pasukan. Sekarang Abu Dujanah tampil dengan memakai pita maut di kepala dan pedang terhunus di tangan kanan yang baru saja diserahkan oleh Rasul Allah s.a.w. kepadanya. Ia seorang yang sangat berani. Laksana harimau keluar dari semak belukar ia maju menyerang musuh dan membunuh siapa saja dari kaum musyrikin yang berani mendekatinya. Bersama Abu Dujanah, Imam Ali r.a. mengobrak-abrik barisan musuh.
Dalam pertempuran ini Hamzah bin Abdul Mutthalib tidak kalah semangat dibanding dengan putera saudaranya sendiri, Imam Ali r.a., dan Abu Dujanah. Hamzah demikian lincah dan tangkas melabrak pasukan musyrikin dan menewaskan tiap orang yang berani mendekat. Ia terkenal sebagai pahlawan besar dalam menghadapi musuh. Sama seperti dalam perang Badr, dalam perang Uhud ini Hamzah benar-benar menjadi singa dan merupakan pedang Allah yang sangat ampuh. Banyak musuh yang mati di ujung pedangnya.
Dalam pertempuran antara 700 pasukan muslimin melawan 3000 pastikan musyrikin itu, kita saksikan kejantanan trio Imam Ali r.a., Hamzah dan Abu Dujanah. Mereka merupakan tauladan dan wujud dari kekuatan moril yang sangat tinggi. Suatu kekuatan yang membuat pasukan Qureiys menderita kehancuran mental, mundur dan surut.
Tiap panji mereka lepas dari tangan pemegangnya dan diganti oleh pemegang panji yang lain, tiap kali itu juga dipangkas habis oleh tiga sejoli pahlawan Islam itu. Thalhah bin Abi Thalhah kepalanya dibelah dua oleh Imam Ali r.a. Utsman bin Abi Thalhah dipotong gembungnya oleh Hamzah, Abu Saad lolos dari ujung pedang Abu Dujanah dan berusaha merebut panji musyrikin
Qureiys yang sudah dirobek-robek oleh Abu Dujanah, tetapi keburu dipisahkan kepalanya dari batang tubuhnya oleh Imam Ali r.a. Sembilan orang pemegang panji musyrikin Qureiys tewas berturut-turut di ujung pedang Imam Ali r.a., Hamzah dan Abu Dujanah.
Mental pasukan Qureiys sudah patah sama sekali. Pasukan wanita mereka lari terbirit-birit. Berhala-berhala yang mereka bawa untuk dimintai restu dalam peperangan, sekarang sudah jatuh terpelanting dari punggung unta. Dalam keadaan masing-masing lari untuk menyelamatkan diri, semua perbekalan yang mereka bawa dari Makkah ditinggalkan dan senjata-senjata di buang di kiri-kanan jalan.
Alangkah banyaknya barang-barang itu. Hal ini membuat pasukan muslimin lengah dan lupa daratan. Fikiran mereka sudah teralih kepada kekayaan duniawi. Pasukan pemanah yang di wanti-wanti supaya jangan sampai meninggalkan tempat, walau dalam keadaan bagaimanapun juga, sekarang mulai mengarahkan pandangan-mata kepada teman-teman yang sedang sibuk mengangkuti barang-barang rampasan. Melihat barang-barang sedemikian banyaknya, mereka tak dapat lagi menahan air liur. Bahkan khawatir kalau-kalau tak akan mendapat bagian!
Sebagian besar pasukan pemanah itu turun meninggalkan lereng gunung untuk ikut ambil bagian dalam kesibukan mengumpulkan barang-barang peninggalan musuh. Pesan Rasul Allah s.a.w. mereka lupakan. Apalagi yang harus dikerjakan, tokh peperangan sudah kita menangkan?
Begitulah fikir mereka. Pada saat itulah Khalid bin Al Walid, seorang komandan pasukan berkuda Qureiys, mengambil kesempatan untuk menyerbu dari belakang kaum muslimin yang sedang memperebutkan barang rampasan.
Khalid bin Al Walid melancarkan serangan sengit. Bencana berbalik menimpa kaum muslimin. Setelah melihat situasi berubah, orang-orang kafir Qureiys yang lari kembali lagi dan melakukan serangan dahsyat, hingga pasukan muslimin terpaksa melemparkan barang-barang dan senjata rampasan yang baru dikumpulkan. Mau tidak mau kaum muslimin sekarang harus menghunus pedang guna menangkis.
Sayang seribu sayang. Mereka hanya berjuang untuk menyelamatkan diri dari ancaman maut. Iman mereka menjadi kendor, barisan tercerai-berai, terpisah dari pimpinan Rasul Allah s.a.w. Keadaan mereka sudah sedemikian kacau dirangsek oleh serangan musuh, sehingga tak aneh kalau sampai terjadi pedang seorang muslim tanpa disengaja mengenai saudaranya sendiri.
Di saat-saat yang genting seperti itu, Imam Ali r.a. dan para sahabat lainnya segera melindungi Rasul Allah s.a.w. Dengan segenap kekuatan yang ada mereka menangkis tiap serangan yang datang, guna menyelamatkan Rasul Allah s.a.w. 
Semua sudah bertekad hendak mati syahid, lebih-lebih setelah melihat Rasul Allah s.a.w. terkena lemparan batu besar yang dicampakkan oleh 'Utbah bin Abi Waqqash. Akibat lemparan batu itu geraham Rasul Allah s.a.w. patah, wajahnya pecah-pecah, bibirnya luka parah, dan dua buah kepingan rantai topi besi yang melindungi wajah beliau menembus pipinya.
Setelah dapat menguasai diri kembali, Rasul Allah s.a.w. berjalan perlahan-lahan dikelilingi oleh sejumlah sahabat. Tiba-tiba beliau terperosok ke dalam sebuah liang yang sengaja digali oleh Abu 'Amir untuk menjebak pasukan muslimin. Imam Ali r.a. bersama beberapa orang sahabat lainnya cepat-cepat mengangkat beliau. Kemudian dibawa naik ke gunung Uhud untuk diselamatkan dari pengejaran musuh. Di celah-celah bukit, Imam Ali r.a. mengambil air untuk membasuh wajah Rasul Allah s.a.w. dan menyirami kepala beliau. Dua buah kepingan rantai besi yang menancap dan menembus pipi beliau dicabut oleh Abu Ubaidah bin Al Jarrah dengan
giginya, sampai dua buah gigi-serinya tanggal.
Kaum musyrikin Quxeiys dengan kemenangan itu merasa sudah sungguh-sungguh berhasilmenebus kekalahan dalam perang Badr. Seperti yang dikatakan oleh Abu Sufyan: "Yangsekarang ini untuk menebus peristiwa perang Badr. Sampai jumpa lagi tahun depan!"
Akan tetapi isterinya yang bernama Hindun binti 'Utbah belum merasa cukup dengan kemenangan itu. Dan belum puas kalau hanya mendengar berita tentang tewasnya Hamzah bin Abdul Mutthalib, yang telah membunuh seorang saudaranya dalam perang Badr. Bersama beberapa orang wanita lain ia mencari-cari mayat kaum muslimin. Mereka memotongi telinga dan hidung mayat-mayat itu dan dijadikan barang mainan. Tidak itu saja, mayat Hamzah dibedah perutnya, dikeluarkan jantungnya (hatinya), lalu dikunyah-kunyah, tetapi ia tak sampai dapat menelannya. Demikian kejam dan sadisnya Hindun itu, yang kemudian ditiru oleh teman-temannya, bahkan tidak sedikit pula orang lelaki musyrikin Qureiys meniru sadisme Hindun.
Dari sangat kejinya perbuatan mereka itu, sampai pemimpin mereka, yakni suaminya Hindun, yaitu Abu Sufyan tidak mau bertanggung-jawab dan berusaha mencuci-tangan. Meskipun Abu Sufyan telah mencuci-tangan, namun kekotoran dirinya tak dapat disembunyikan. Inilah kata-kata Abu Sufyan: "Mayat-mayat kalian mengalami penganiayaan. Aku sungguh tidak senang, tetapi juga tidak benci. Aku tidak memerintahkan, tetapi juga tidak melarang."
Perang Uhud benar-benar memberi pelajaran berharga kepada kaum muslimin. Daya tarik
keduniaan hampir saja menghancurkan kaum muslimin yang masih pada awal pertumbuhannya.

Perang Badar

Perang Badr merupakan perang pertama yang terpaksa diarungi oleh kaum muslimin
menghadapi musuh yang jauh lebih besar juml ahnya. Perang ini merupakan demonstrasi
pertama dari ketangguhan kaum muslimin melawan serangan kaum musyrikin Qureiys. Untuk pertama kalinya panji perang Rasul Allah s.a.w. berkibar di medan laga. Dan yang diberi kepercayaan memegang panji yang melambangkan tekad perjuangan menegakkan agama Allah s.w.t. itu, ialah Imam Ali bin Abi Thalib r.a.
Tanpa pengalaman perang sama sekali dan dengan kekuatan pasukan yang hanya sepertiga kekuatan musuh, pasukan muslimin dengan kebulatan iman yang teguh berhasil menancapkan tonggak sejarah yang sangat menentukan perkembangan Islam lebih lanjut. Perlengkapan dan persenjataan kaum muslimin waktu itu boleh dibilang nol. Pasukan berkuda dan penunggang unta, yaitu pasukan yang dipandang paling ampuh dan "modern" pada masa itu, praktis tidak dipunyai oleh kaum muslimin. Demikian langkanya kuda dan unta dibanding dengan jumlah pasukan yang ada, sampai-sampai seekor unta dikendarai oleh dua hingga empat orang secara
bergantian. Hanya ada seekor kuda yang tersedia, yaitu yang dikendarai oleh Al Miqdad bin Al Aswad Al Kindiy. Itulah kekuatan "kavaleri" Rasul Allah s.a.w. di dalam perang Badr.
Dalam perang Badr itu pasukan muslimin tidak sedikit yang menerjang musuh hanya dengan senjata-senjata tajam yang sangat sederhana. Sedangkan musuh yang dilawan mempunyai persenjataan lengkap dengan kuda-kuda tunggang dan unta-unta. Tetapi sebenarnya kaum muslimin mempunyai senjata yang lebih ampuh dibanding dengan lawannya, yaitu kepemimpinan Rasul Allah s.a.w. dan kepercayaan kuat bahwa Allah pasti akan memberikan pertolongan-Nya. Allahu Akbar.
Perang Badr sebenarnya terjadi di luar rencana. Pada mulanya kaum muslimin di bawah
pimpinan Rasul Allah s.a.w. bermaksud hendak mencegat kafilah Abu Sufyan bin Harb yang telah meninggalkan Makkah berangkat menuju negeri Syam, dan akan kembali ke Makkah lewat sebuah tempat bernama 'Usyaira. Di tempat itulah kaum muslimin siap menghadang, tetapi ternyata kafilah Abu Sufyan sudah lolos lebih dulu.
Ketika peperangan mulai berkobar, Imam Ali bersama Hamzah bin Abdul Mutthalib dan
beberapa orang lainnya, berada di barisan terdepan. Pada tangan Imam Ali r.a. berkibar panji perang Rasul Allah s.a.w. Ia terjun ke medan laga menerjang pasukan musuh yang jauh lebih besar dan kuat. Dalam perang ini untuk pertama kalinya kalimat "Allahu Akbar" berkumandang membajakan tekad pasukan muslimin.
Saat itu terdengar suara musuh menantang: "Hai Muhammad suruhlah orang-orang yang
berwibawa dari asal Qureiys supaya tampil!" Mendengar tantangan itu, laksana singa lapar Imam Ali r.a. meloncat maju ke depan mendekati suara yang menantang-nantang. Terjadilah perang tanding (duel) antara Imam Ali r.a. dengan
Al Walid bin Utbah, saudara Hindun isteri Abu Sufyan. Dalam pertempuran yang seru itu, Al Walid mati di ujung pedang Imam Ali r.a. Dalam perang Badr ini 70 orang pasukan kafir Qureiys mati terbunuh, dan hampir separonya
mati di ujung pedang Imam Ali r.a. Kecuali itu lebih dari 70 orang pemuka Qureiys berhasil ditawan dan digiring ke Madinah. Perang Badr yang berakhir dengan kemenangan kaum muslimin itu merupakan fajar pagi yang menandai pesatnya kemajuan agama Allah s.w.t.

Minggu, 27 November 2011

Pelajaran Berharga dari Bumi Jihad

Saya telah memilih tema untuk ceramah pada hari ini dengan judul: “Pelajaran-Pelajaran Berharga dari Bumi Jihad”.
Saya memberikan judul itu karena saya merasa bahwa hal ini tidak hanya menunjukkan tentang apa niat saya untuk berdiskusi pada hari ini, tapi saya juga merasa judul itu juga memberikan sedikit konotasi militer –yang cocok, terkait dengan topik Jihad yang kita akan bahas hari ini.
Sekarang tentu saja, saya tidak berniat untuk hanya berbicara tentang hal-hal taktis yang biasanya dibahas setelah judul, tapi saya masih berpikir bahwa hal tersebut sebagai judul yang layak untuk apa yang kita akan bahas di sini hari ini.
Jadi Insya Alloh, sebelum kita mulai, sebagai tambahan saya ingin mengingatkan semua orang dari sedikit mendengar lalu pergi, bahwa ceramah ini akan menjadi sedikit lebih santai, dan mungkin agak kurang ringkas dari sebagian besar audio Jihad di luar sana. Jadi saya harus meminta Anda semua untuk bersabar dengan (ceramah) saya sebentar.
Langsung saja ke topik: pada dasarnya saya memiliki beberapa waktu untuk merenungkan tentang lima tahun lebih saya di Somalia. Dan saya berpikir bahwa mungkin transisi saya dalam berpikir –dari hari-hari sebelum (pra) Jihad dan hijrah sampai ke (pasca) setelah Jihad dan Hijrah– adalah sesuatu yang layak dibahas bagi mereka yang belum pergi dan melalui pengalaman yang serupa.
Beberapa isu yang akan kita munculkan, beberapa dari isu tersebut mungkin sangat inspiratif, beberapa hal lainnya mungkin akan sedikit lebih terbuka dan nyata dari yang mungkin kita sukai, dan kemudian ada hal lainnya yang dimaksudkan sebagai panggilan untuk bangkit (berjihad).
Sekarang untuk masuk ke topik pertama, saya ingin menyentuh pada masalah: “Menjadi bagian dari Umat”.
Yang saya maksud dengan hal ini adalah perasaan yang didapat seseorang ketika akhirnya ia menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang pekerjaan atau Green Card (kartu kewarganegaraan Amerika). Dia menemukan bahwa umat tidak hanya keluarga dekat dan orang-orang yang dilihat di Masjid pada hari Jumat. Sekarang, untuk benar-benar menjadi bagian dari umat tidak akan terwujud sampai Anda keluar dari perut binatang buas itu dan Anda benar-benar mulai hidup dalam zona krisis umat Islam. Anda mulai berjalan dalam kemiskinan, hidup dibawah penindasan, dan memiliki perasaan kehilangan harapan. Ini adalah apa-apa yang harus dialami jika ingin menjadi bagian dari umat. Ini bukan tentang berjalan teratur ditrotoar dan membeli sandwich di kereta bawah tanah dalam perjalanan kembali dari gym. Dan bukan tentang belajar untuk Magister Anda atau mendapatkan promosi di tempat kerja. Tapi mari kita sedikit masuk lebih dalam dari itu.
Ada semacam penyakit yang terjadi antara orang-orang ketika mereka terpisah dari umat, yang mungkin kita bisa sebut ‘Efek Starfish/Efek Bintang Laut’. Ini terjadi ketika kaum Muslim, mereka menemukan diri mereka terpisah dari umat. Jadi mereka mulai menghasilkan umat mini versi mereka sendiri –jauh di dalam jantung Darul Kufur (Negara Kafir). Satu-satunya masalah dengan ‘dunia mimpi’ mereka ini adalah bahwa benar-benar tidak ada contoh bagi umat Islam untuk melakukan hal ini pada hari-hari ketika di mana umat Islam masih waras dan mereka masih memiliki Kekhilafahan dan mereka masih memiliki kebanggaan dalam Dien nya.
Lagi pula, apa yang terjadi pada orang-orang adalah bahwa mereka mulai melihat masalah-masalah yang mempengaruhi dunia Muslim melalui perspektif Ray Ban mereka yang baru atau kacamata Oakley mereka. Sekarang, ketika seorang Muslim dari tempat yang sangat jauh akhirnya muak dan menyerang Amerika, apa yang anda dapat?! Anda mendapatkan salah satu teman Starfish/Bintang Laut kami di sini melompat-lompat dan berbicara tentang bagaimana hal itu akan sangat mengerikan bagi kaum Muslim. Ketika dia mengatakan ‘Muslim’, apa yang orang ini benar-benar ingin katakan adalah bahwa sebenarnya ini akan sangat buruk bagi gajinya atau masa depan anak-anaknya atau sesuatu-sesuatu sepanjang kereta pemikirannya. Atau mungkin juga ia takut dipenjara, atau mungkin lebih buruk.
Tapi pertanyaan sebenarnya di sini adalah apa yang membuat Starfish Mo lebih pantas memiliki kehidupan yang bahagia daripada sebagian besar umat Muslim lainnya? (Orang-orang yang hidup di negeri-negeri Muslim). Mengapa mereka tidak memiliki hak untuk menjadi bahagia? Maksudku, ketika mereka akhirnya muak, dan mulai melawan Amerika, apakah itu bukan seharusnya menjadi tanda untuk para Starfish Mo mulai bergegas pergi mencari tahu apa yang sedang terjadi? Haruskah dia tidak memiliki simpati yang lebih untuk orang itu? Atau bahkan mungkin sedikit kebencian terhadap orang-orang yang merugikan umat nya?
Saya pikir benar, dan aku cukup yakin bahwa agama kita membenarkannya. Namun sayangnya apa yang biasanya kita lihat dari orang-orang adalah bahwa mereka melihat melalui faktor emosional tentang kematian Joe atau Sally, dan kemudian mereka mulai berbicara bahwa mereka adalah manusia juga –kita bahkan mungkin mendengar tentang bagaimana hewan pun memiliki hak dalam Islam.
Tapi sungguh, di sisi lain dari gambaran di sini, kita telah menjadi begitu tidak peka terhadap penindasan terhadap umat Islam –dengan membiarkan diri kita untuk menjadi sasaran dari media Barat– bahwa ketika datang berita kematian Muhammad atau perkosaan terhadap Fatima, peristiwa ini hampir tidak mendapatkan celaan dan kemarahan yang sama seperti apa yang kita dapatkan dari para Starfish Mo tentang kemiskinan Joe dan kematian Sally.
Dan juga, untuk menambah bumbu dalam masalah ini, jika kita mendapatkan seseorang yang datang dan berkata: “Apapun … siapa juga yang peduli tentang Joe? Dia hanya seorang kafir! “, Maka kita akan mendapatkan banyak ceramah dari Starfish Mo tentang bagaimana itu baik dan keren untuk bersimpati terhadap kafir, dan pada dasarnya bermuara pada fakta bahwa Starfish Mo telah benar-benar kehilangan arah. Dia tidak menyadari bahwa ini adalah perang peradaban, ini bukan perang individu. Ini mungkin menjadi kasus yang pas bahwa Joe hanyalah ‘seorang Joe yang biasa’ , dia bisa … mungkin ia tidak pernah bermaksud jahat kepada Islam. Tetapi pada akhirnya hal ini tidak mengubah fakta bahwa ia masih merupakan bagian dari suatu peradaban yang sedang berperang dengan Islam! Jadi apa yang seharusnya dilakukan adalah bahwa pertama, kita … kita harus memilih untuk memihak. Dan kemudian setelah itu (kedua), kita mampu untuk khawatir dalam memberi keadilan kepada individu yang menemukan diri mereka terjebak dalam situasi yang buruk. Mirip dengan bagaimana Alloh (SWT) menggambarkan –dengan Ayat berikut– Alloh (SWT) berfirman:
“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Alloh. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong, kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada suatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Alloh menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. Tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Alloh tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.”. Ini adalah ayat 89-90 dari Surat An-Nisa.
Jadi di sini kita bisa melihat bahwa pertama-tama Alloh telah memerintahkan kita untuk memerangi kaum kafir, yaitu orang-orang yang tidak memilih untuk menerima Islam, dan Dia (Alloh SWT) tidak membuat perbedaan antara mereka dalam hal ini.
Kemudian, setelah itu Dia mengingatkan kita bahwa mereka yang datang kepada kita dan menginginkan gencatan senjata –yang mereka tidak ingin melawan kita juga tidak ingin melawan rakyat mereka sendiri– ini adalah orang-orang yang menjadi aman dari kita.
Sekarang masalahnya di sini adalah bahwa para Starfish Mo belum berada di sisi yang benar. Mereka tidak mengambil langkah yang pertama tetapi dia sudah pergi membela kasus untuk Joe – mereka tidak pernah keluar membela terhadap penindasan umat-Nya dan tidak pernah meminta gencatan senjata. Sekarang, salah satu alasan terbesar untuk hal ini adalah sentimen berlebihan yang ditujukan untuk kaum kafir yang biasanya berhubungan dengan, Anda tahu apa yang mereka katakan, bagaimana hal ini akan membahayakan apa yang mereka sebut ‘dakwah’. Tentu saja ketika mereka mengatakan ‘dakwah’, ini tidak berarti seperti dakwah yang Nabi (Sholallohu A’laihi Wasallam) pernah contohkan. Mereka tidak benar-benar bermaksud dalam mendefinisikan Islam yang secara sederhana dan singkat mengatakan: “Terimalah Islam dan Anda akan aman”. Atau salah satu yang mengatakan: “Jika anda tidak tunduk kepada Islam maka anda akan bertanggung jawab atas kehancuran kaum anda”.
Sekarang ini tidak seperti itu … ini bukan apa yang mereka maksud dengan ‘dakwah’. Apa yang mereka maksud dengan ‘dakwah’ adalah kepura-puraan, kepalsuan, ‘wajah Islam yang ramah’ yang mereka ingin gambarkan untuk menjaga posisi mereka sebagai Imam Masjid atau dalam rangka untuk menjaga diri dari penjara.
Dan sayangnya kita memiliki beberapa orang lainnya –yang konon bahkan percaya tentang Jihad– tapi mereka masih memberitakan jenis slogan yang sama. Beberapa dari mereka, Anda mendengar mereka berkata: “Jangan berHijrah !”. Beberapa dari mereka, mereka berkata: “Jangan membuat kita terlihat buruk di sini, di Darul Kufur !”. “Jangan melakukan apapun untuk membahayakan kita !”. Mereka memberitahu Anda: “Pilih Fulan (dan lain-lain), dan terlibat dalam sistem pemerintahan !”.
Jadi apa yang mereka coba lakukan di sini adalah, mereka mencoba untuk mengambil semacam ‘jalan tengah’ antara mereka yang pro Amerika dan mereka yang bersama ‘teroris’. Dan mereka melakukan ini pasca Peristiwa 9/11 di dunia. Dan masalahnya adalah bahwa meskipun fakta bahwa mereka ingin menapaki jalan tengah ini, kaum kafir mereka tidak berhenti memberi kita contoh sehari-hari dimana mereka tidak percaya pada ‘wilayah abu-abu’, mereka tidak percaya terhadap garis tipis di sini. Jadi setiap orang harus menyadari –cepat atau lambat– mencoba untuk mempraktekkan agama Anda di Darul Kufur adalah tidak lebih dari sebuah mimpi (khayalan saja). Tapi di sisi lain ada secercah cahaya, saya katakan yang sebenarnya, saya percaya bahwa beberapa orang mulai bangun. Banyak dari mereka, Anda tahu, saya mendengar mereka bertanya pada diri sendiri: “Bukankah ini merupakan suatu kemunafikan, bagi kita untuk mendukung Jihad dan umat, tetapi –pada saat yang sama– kita masih menjalani kehidupan normal kita, kehidupan sehari-hari, dan mencoba untuk terlibat dalam dakwah, dan kamu masih bisa memberikan kaum kafir senyuman.”
Hal yang masih menahan mereka sadar kembali, ada dalam pertanyaan dari mereka, alasan mengapa mereka tidak benar-benar mengerti tentang kenyataan, adalah bahwa mereka telah memiliki ide yang salah mengenai dakwah, seperti yang kita telah disebutkan diatas. Dan membiarkan mereka untuk berpikir bahwa dakwah yang dilakukan tanpa harus memiliki Izzah (kehormatan) apapun.
Jadi inilah (yang menyebabkan) mengapa mereka tidak dapat memahami kemunafikan yang nyata yang terletak dalam tindakan mereka yang mereka merasa aneh tentang nya. Dan fakta dari masalah ini adalah bahwa unsur nyata dari kemunafikan bukan tentang masalah bermuka dua, berhadapan dengan kaum kafir di satu sisi, dan kemudian bersimpati kepada mereka di saat yang lain.Unsur nyata dari kemunafikan di sini adalah bahwa anda mengklaim mendukung Jihad dan anda mengaku mendukung umat, tetapi Anda masih belum total dalam bergabung dengan seluruh umat. Jadi pada dasarnya, apa yang saya coba katakan di sini adalah bahwa menunggu Khilafah untuk muncul dan kemudian barulah bergabung bukan merupakan kesungguhan dalam mendukung kaum muslim di negeri-negeri Islam. Dan menunggu para mujahidin untuk gagal dan kemudian kembali ke kehidupan normal anda karena Anda tidak pernah berkompromi dengan itu adalah sesuatu yang juga bukan bentuk dukungan nyata.
Sekarang, setelah menyentuh menjadi bagian dari umat dan masuk dalam diskusi tentang dakwah dan kesan palsu dari orang-orang di Barat yang mereka miliki mengenai apa sebenarnya arti dakwah, ini membawa saya ke pelajaran berikutnya apa yang ingin dibahas di sini adalah saya menyebutnya: “Pengetahuan (Ilmu) Adalah Untuk Diamalkan Jadi Carilah Pengetahuan Yang Berhubungan Dengan Hal Tersebut”.
Sekarang, ketika kita masuk ke pelajaran ini, topik di sini, ada dua kutipan yang datang ke pikiran yang benar-benar mempengaruhi saya. Yang pertama saya ingat kembali pada hari-hari, dimana saya ingat menonton Khattab (semoga Alloh mengasihi beliau) dan salah satu wawancara selama ia tinggal lama di Chechnya, berjihad di Chechnya, ada satu wawancara di mana ia mengeluh bahwa umat muslim mati dan mereka tinggal dalam penindasan, dan kaum kafir yang telah mengambil tanah Muslim, namun kita memiliki ulama di tanah-tanah yang dijuluki berlandaskan syariah dan sebagainya, mereka khawatir semata-mata dengan hal-hal seperti boleh atau tidaknya piring satelit. Sekarang tentu saja kita harus memberikan setiap bagian dari agama kita hak-haknya dan karena semua hal dalam agama kita adalah penting. Tapi intinya di sini –titik yang Khattab coba untuk lalui di sini– adalah bahwa perlu bagi kita untuk memprioritaskannya. Terutama dalam masa krisis. Jadi kita harus menempatkan pembebasan tanah Muslim dalam urutan pertama. Jihad dan Hijrah harus menjadi urutan pertama hari itu. Dan kemudian setelah itu, semua Ahkam lain (Perintah), kita berikan prioritas yang sesuai.
Sekarang, kutipan kedua, yang juga berhubungan dengan topik di sini yakni pengetahuan (ilmu), menuntut ilmu (ilmu) sesuai dengan situasi kita saat ini (waqi). Kutipan kedua yang –saya selalu merasa tersentil– seperti kebanyakan kutipan dari Abdullah Azzam (semoga Alloh mengasihi beliau), itu kutipan yang benar-benar menunjukkan orang ini, dia hidup jauh di depan dari masanya. Dan sebagian kutipan nya, yang selalu penuh hikmah walaupun berapa lama telah berlalu adalah bahwa dia berkata kepada mereka. Yang saya maksudkan di sini, ia mengatakan: “Ada orang-orang di luar sana yang mereka percaya bahwa dasar atau prinsip agama ini hanyalah permainan atau hiburan sia-sia belaka. Mereka percaya bahwa prinsip-prinsip mereka dapat dicapai hanya oleh seseorang yang memberikan pidato dengan fasih, dengan memperindah kata-kata, atau dengan menulis sebuah buku yang dicetak dan ditempatkan pada rak-rak buku.” Sampai ia (Abdullah Azzam) mengatakan: “ini tidak pernah menjadi jalan para pendakwah (orang yang menyeru manusia kepada Alloh)”.
Kebenaran dari masalah di sini … adalah bahwa realitas situasi kita saat ini adalah banyak dari apa yang disebut ulama kita –bahkan orang-orang yang bersimpati dengan gagasan Jihad– masih terjebak dalam dunia kecil dari ceramah dan buku, seperti yang Syaikh kita telah katakan tadi. Sangat sedikit dari mereka yang siap untuk dipenjara –atau mati– untuk apa yang mereka percayai dan khotbahkan. Kemudian anda mempunyai orang lain, yang lebih jauh lagi keluar jalur. Mereka bahkan tidak sedikitpun memberikan topik tentang Jihad dan Hijrah. Sebaliknya mereka terlalu sibuk mendiskusikan apakah Madzhab Hambali lebih baik, atau Madzhab Hanafi, mereka ingin tahu apakah hal ini Sunnah atau yang itu bukan sunnah, secara teoritis, membatalkan suatu ayat dari Al-Qur’an, meskipun tidak pernah ada contoh-contoh semacam itu sebelumnya. Mereka ingin tahu apakah suatu hadits tertentu harus dianggap ‘Aziz’ atau masuk kategori ‘Mustafeedh’. Mereka ingin mencari jalur periwayatan hadits-hadits yang telah jamak dikenal sampai ke tingkatannya. Beberapa dari mereka, mereka berdebat tentang topik-topik lama semacam meluruskan shof diwaktu sholat, atau tentang pakaian yang menjulur di bawah pergelangan kaki (Isbal). Anda juga mempunya orang lain yang terjebak dalam Opera Sabun dari Robi’ Al-Madkholi dan para Murjiah kaki tangan nya. Jadi ini mungkin tampak normal bagi orang yang tinggal di Darul Kufur, tetapi bagi orang yang hidup di bawah dentuman pemboman altileri (alat berat) yang tanpa henti, atau seseorang yang terus menerus mendengar tentang kesyahidan salah satu dari teman dekatnya, diskusi-diskusi ini lebih mirip menjadi seperti lelucon yang sehat daripada mereka-mereka, kau tahu, mereka yang “tulus menuntut ilmu”.
Saya yakin bahwa, itu cukup sebagai diskusi tentang pelajaran di sini, mari kita lanjutkan ke pelajaran berikutnya, sedikit berhubungan dengan topik diatas. Pelajaran selanjutnya adalah – ini disebut: “Ribath Merupakan Sebuah Peluang Besar Untuk Meningkatkan Kualitas Diri Seseorang”.
Sekarang ada banyak orang di luar sana yang berpikir bahwa datang ke bumi Jihad atau berhijrah berarti mengakhiri untuk menuntut ilmu pengetahuan –atau mungkin bahkan mengakhiri kehidupan seperti yang kita dengar (selama ini). Banyak orang di luar sana, banyak dari mereka, mereka berbicara tentang semua hal yang mereka harus selesaikan sebelum mereka dapat pergi untuk berjihad. Mereka berpikir bahwa mereka tidak akan pernah melihat lagi kesempatan kedua. Tetapi orang-orang, mereka benar-benar belum melihat realitanya di lapangan. Semua orang, yang datang untuk berjihad atau berhijrah, mereka dapat memberitahu Anda, hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah Anda perlu untuk memiliki kecintaan. Karena memerangi musuh –sering kali itu sebuah kesempatan langka sebenarnya– mungkin hanya datang sekali sebulan atau lebih. Ada saat-saat –tentu saja– ketika hal yang benar-benar dalam situasi panas, tapi itu bukan menjadi suatu aturan baku.
Banyak orang yang jatuh ke dalam perangkap ini ketika berpikir tentang Siroh Nabi (SAW), mereka mendapatkan gambaran tentang para sahabat selalu melakukan operasi militer, selalu ada yang berkeliaran di gurun hanya untuk mencari pertempuran. Namun dalam kenyataannya Alloh (SWT) mengatakan dalam Surat-Taubah, ayat 126:
“Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran? “.
Banyak Muffassirin (ahli tafsir) mengatakan apa yang dimaksud di sini, adalah bahwa mereka dapat mencoba sekali atau dua kali setahun, dalam bentuk pertempuran, dalam bentuk keluar untuk berjihad. Jika dilihat tanggal pertempuran utama dalam Siroh akan berguna untuk menunjukkan seberapa realistis angka/jumlah pertempuran yang sebenarnya. Kemudian, sisanya merupakan pertempuran yang lebih kecil –mereka sebenarnya adalah Sariyah-sariyah (batalyon) yang dikirim keluar oleh Nabi (SAW), terdiri dari, Anda tahu mereka biasanya relatif terdiri dari sejumlah kecil para sahabat. Pada dasarnya adalah, untuk semua orang di luar sana, yang Anda tahu mereka merasa bahwa mereka tidak bisa datang ke jihad karena mereka ingin menuntut ilmu atau apapun alasannya, intinya adalah bahwa ada kehidupan setelah pertempuran. Kau tahu, untuk orang-orang yang tidak mendapatkan kesyahidan mereka tetap hidup, sehingga mereka memiliki banyak waktu luang yang mereka butuhkan untuk diisi dengan ibadah, yang mereka perlu untuk mengisinya dengan mencari ilmu pengetahuan dan hal-hal yang bermanfaat lainnya.
Jadi bagi Anda di luar sana yang percaya bahwa keutamaan menuntut ilmu lebih besar dari kebaikan untuk mengamalkannya, bahwa itu lebih besar daripada keutamaan memenuhi kewajiban individu untuk membebaskan negeri-negeri kaum Muslim, kita di sini, kita memiliki waktu penawaran terbatas bagi Anda, Anda memiliki kesempatan untuk terlibat langsung dalam kedua hal tersebut.
Dan ini membawa kita ke topik berikutnya, ini terkait pula dengan topik kita, pelajaran yang saya sebut: “Orang-Orang Umumnya Tidak Mengetahui Cara Untuk Membantu Jihad”.
Sekarang ada banyak orang di luar sana, mereka memiliki rencana-rencana sendiri tentang bagaimana mereka akan membantu Mujahidin. Tetapi kenyataannya adalah mereka telah sebenarnya ditipu oleh syaithan –atau banyak dari mereka– menjadi benar-benar tak melakukan apa pun. Jadi, untuk melanjutkan tema tentang menuntut ilmu, ada beberapa orang di luar sana, mereka berpikir bahwa mereka akan mempelajari agama selama 10 tahun, dan kemudian mereka akan datang ke tanah Jihad menjadi seorang “Mufti bagi Mujahidin” yang telah lama ditunggu-tunggu. Sekarang masalah dengan Rencana Utama ini adalah bahwa kebanyakan orang, mereka tidak berhasil melalui rintangan dari Dunia (dunia sementara), mereka tidak mampu melaluinya. Bahkan mereka, Anda tahu, tidak mendapatkan pula “kartu bebas penjara”. Banyak orang, menemukan diri mereka sebelum mereka berhasil masuk, gaya hidup ini telah menyebabkan mereka ke penjara sebelum membawa mereka ke Jihad yang sebenarnya. Sekarang, untuk yang berhasil masuk, banyak dari mereka, mereka menemukan diri mereka tidak pada tempatnya, untuk mencoba menerapkan pengetahuan teoritis mereka dengan realitas di lapangan.

Inilah alasan mengapa saya mengatakan bahwa yang terbaik adalah untuk datang langsung ke medan Jihad, dan kemudian mencari tahu, apa yang benar-benar diperlukan oleh para Mujahidin. Dan jika itu akan menjadi sepuluh tahun waktu untuk belajar, maka anda telah melakukan yang terbaik dalam lingkungan kehidupan yang nyata, diantara para Mujahidin. Sehingga Anda tidak perlu membuang waktu untuk kembali mencoba masuk ke bumi jihad.
Rencana lain yang umumnya dikemukakan adalah orang-orang di luar sana, mereka mengatakan bahwa mereka akan menjadi seorang dokter atau seorang pebisnis besar, dan kemudian mereka akan membantu mendanai Jihad. Sementara ini juga –seperti rencana sebelumnya– biasanya membutuhkan waktu satu dekade atau lebih, juga memiliki rintangan yang sama seperti ide diatas tadi. Ini benar-benar hanya sedikit terlalu naif. Karena, orang-orang ini, memiliki gagasan bahwa suatu hari mereka akan dapat memberikan, Anda tahu, Satu Juta Dolar untuk Mujahidin. Dan Insya Alloh jika mereka melakukan itu mereka akan diberi imbalan pahala. Insya Alloh mereka akan mendapatkan pahala yang besar untuk itu.
Tetapi kenyataannya ini hanyalah seperti tagihan satu bulan atau lebih untuk Mujahidin. Sudah pasti jauh lebih menguntungkan bagi mereka untuk bekerja pada suatu rencana, ide-ide tentang bagaimana untuk memanfaatkan sumber daya yang telah dimiliki oleh kaum Muslim, dan berpikir tentang bagaimana kita dapat menyalurkan zakat, atau shodaqoh rutin dari Muslim yang kaya kepada Jihad. Ide yang lain yaitu menggunakan sebagian kecil dari uang itu dan memasukkannya ke arah operasi yang dapat menghasilkan Ghonimah (harta rampasan yang di dapat dari perang) atau Fa’i (harta rampasan yang di dapat tanpa berperang) dalam jumlah jauh lebih besar dan dalam jumlah yang jauh lebih cepat waktunya.

Lalu ada orang lain, Anda tahu bahwa mereka memiliki rencana mereka tentang bagaimana mereka akan membantu Jihad, dan Anda tahu bahwa mereka akan membuang banyak waktu sebelum mereka datang, dan bahkan mungkin mereka akan menghamburkan banyak uang. Mereka mencoba untuk menjadi binaragawan raksasa atau menjadi pendekar bela diri. Tapi jangan salah mengartikan dahulu, maksud saya, pasti ada manfaat untuk hal ini, pasti bermanfaat untuk menjadi sehat, untuk mengetahui bagaimana melatih diri sendiri atau apapun yang ingin anda lakukan. Tapi tidak seharusnya terlalu dibesar-besarkan di luar proporsi. Dan bagi mereka yang telah melihat medan Jihad, mereka tahu kebanyakan ikhwan-ikhwan mereka tidak memiliki waktu atau uang untuk menjaga kebiasaan makan lima kali sehari dan minuman suplemen penunjang disela-sela sesi latihan dan istirahat, dan sebagainya. Pada kenyataannya beberapa hari hanya ada teh dan kurma, atau nasi putih. Dan untuk para pendekar bela diri ini merupakan benar-benar sebuah kesempatan langka ketika seseorang mendapat kesempatan untuk mengeksekusi tendangan terbangnya dengan sempurna pada seorang kafir: sebagian besar hanyalah peluru dan peluru dan hal-hal semacam itu.
Jadi, apapun yang Anda lakukan, intinya di sini adalah untuk melakukannya secara seimbang. Dan apa pun yang Anda lakukan, pastikan bahwa hal itu tidak mencegah Anda datang ke bumi jihad sesegera mungkin.
Sekarang pindah ke pelajaran berikutnya –masih bertema tentang teh dan kurma– pelajaran kelima adalah: “Kebutuhan Hidup Sebenarnya Hanya Sedikit”.
Topik –itu mengingatkan saya– saya memiliki beberapa teman seruangan di masa lalu, dan di sana ada satu saudara, ia pindah ke ruangku dan waktu itu saya sedikit ada pada posisi bangkrut. Setelah saya mendapat apartemen baru ia pindah pada hari berikutnya, ia mulai membawa kotak-kotak barangnya –satu kotak dan kotak lainnya– dan saya pergi melewati semua kotak-kotak itu, dan saya menemukan bahwa pria itu, kau tahu, saya mulai berpikir “mengapa orang ini membutuhkan begitu banyak sampah, hanya untuk hidup sehari-hari?”
Jadi saya mulai melihat isi kotak nya: Saya menemukan alat-alat dapur. Ada mesin khusus untuk membuat wafel. Satu lagi, hanya untuk menghancurkan lada hitam. Kemudian ada sendok khusus, Anda tahu, pisau khusus, saya tidak tahu ada pisau ikan, sendok buah atau sesuatu seperti itu. Untuk semua jenis makanan. Ada blender hanya untuk mengaduk adonan kue, Anda tahu apa yang saya maksud? Ini adalah sedikit gila untuk bujangan yang memiliki semua hal tersebut.
Intinya, sebelum anda paham tentang situasi di medan Jihad, simak sejenak tentang cerita ini, kecuali jika Anda memulai sebuah front Jihad baru di Uni Emirat, Anda tidak akan menemukan jenis kenyamanan hidup seperti itu yang mungkin anda dapatkan sewaktu tinggal di Barat. Di sini khususnya di Somalia, Anda mungkin tidak akan pernah melihat microwave, atau bahkan oven yang normal. Sekarang aku ingat nenek ku, beliau memiliki oven dari kira-kira tahun 60-an, dan itu terlihat seperti teknologi baru di sini. Dan kemudian Anda mendapatkan, bahwa sebagian besar Mujahidin, sekedar melihat televisi atau menggunakan ponsel, menjadi suatu yang sangat jarang bagi banyak dari kami disini.
Dan ketika tinggal di hutan bahkan lebih aneh lagi. Pada waktu Anda tinggal di luar sana begitu lama, sekelompok tenda dengan beberapa jalur yang terhubung melalui pohon-pohon, itu mulai terlihat seakan-akan sebuah kompleks apartemen, atau kota kecil. Kau tahu, jika pisang datang dari luar sana, menuju jalur Anda, atau jika Anda berhasil melewati sebuah desa yang entah bagaimana dapat menghasilkan es atau Anda tahu mereka menjual beberapa makanan penutup/snack Anda mendapatkan perasaan bahwa Anda telah menemukan Surga di bumi . Intinya, supaya tidak terlalu melebar kemana-mana, bahwa kami tidak mencoba untuk menakut-nakuti, mungkin kita ingin membangunkan mereka sedikit, tapi bahkan itupun bukan maksud kami disini, Maksud sebenarnya adalah seperti iklan komersial di televisi: “Jika saya bisa melakukannya, Anda pun bisa melakukannya juga!”
Jadi, singkatnya, pelajaran yang saya ingin sampaikan, setelah melalui jenis gaya hidup ini, adalah bahwa orang-orang akhirnya terbiasa, Anda tahu, kita menjadi terbiasa untuk hidup apa adanya. Dan ketika kita melalui proses tersebut, kita menyadari bahwa kebutuhan dasar kehidupan nyata sebenarnya, benar-benar dapat anda bawa pada tas ransel dibelakang punggung Anda. Mungkin jika Anda butuh lebih besar cukup diangkut oleh keledai.
Hal ini menggerakkan kita ke pelajaran berikutnya yang saya suka menyebutnya: “Hidup Bukan Seperti Yang Anda lihat dalam film”.
Pada kenyataannya judul ini benar-benar bisa mewakili sebagian besar pelajaran yang ada –atau bahkan bisa menjadi judul dari seluruh ceramah kali ini– tapi aku akan mencoba untuk membatasi beberapa poin saja, tentang Jihad di sini, orang-orang mungkin berpikir bagaimana keadaan berjalan di lapangan. Poin pertama adalah perlu diingat bahwa Mujahidin bukanlah para Sahabat (sahabat Nabi Muhammad SAW), dan mereka bukan pula malaikat. Dan saya tidak akan menyebutkan daftar panjang tentang kesalahan-kesalahan mereka, tetapi kenyataan dari hal ini bahwa Mujahidin adalah manusia biasa. Mereka membuat kesalahan mungkin sesering mereka melakukan hal yang benar.
Ada beberapa orang, mereka ingin mengambil fakta ini –yang seharusnya adalah suatu hal yang umum– mereka ingin mengambil itu menjadi semacam momen untuk menyerang prinsip-prinsip agama, Anda tahu, mereka ingin menyerang amal sholeh Jihad dan Hijrah. Tapi ini jelas bukan pendekatan yang adil. Kita harus memisahkan antara dasar validitas perjuangan dengan kesucian mereka yang berusaha menegakkannya. Dasar perjuangan mereka adalah seratus persen valid. Tidak ada keraguan tentang itu yang dibuktikan dengan adanya perintah tentang ini dalam agama Islam. Adapun orang-orang yang berusaha menegakkannya mereka hanyalah manusia biasa seperti yang kami katakan sebelumnya. Jadi daripada terfokus pada kesalahan mereka, apa yang kami benar-benar minta dari para kritikus di luar sana, agar datang ke bumi jihad, sehingga mereka dapat menunjukkan kepada semua orang bagaimana yang seharusnya dilakukan. Bagaimana hal ini harus dilakukan. Dan bahkan di sini dalam Jihad, saya telah melihat banyak kritikus, Anda tahu ada banyak sekali …di antara Mujahidin, dimana kita dapat menyaksikan bagaimana jihad berjalan dan sebagainya.
Setelah mereka naik pangkat dan mereka mulai menerima tanggung jawab, tidak butuh waktu lama sebelum mereka sendiri, menjadi rendah hati, karena masalah yang berkepanjangan yang dihadapi sehari-hari oleh Mujahidin. Dan kemudian mereka sendiri mereka mulai berbicara lebih lanjut tentang bagaimana kita dapat menemukan solusi, bukan siapa yang bisa tuding atas kesalahan ini-itu. Dengan penjelasan ini, saya telah menyebutkan bahwa mungkin Muhajirin, dan Mujahidin memiliki kesalahan-kesalahan dan sebagai tambahan, saya masih ingin mengatakan bahwa Mujahidin –sebagai benteng pertahanan umat saat ini– bahwa di antara mereka terdapat beberapa individu-individu terbaik yang telah seharusnya dihasilkan ummah. Maksudku sebagai penghargaan tambahan bagi mereka, bahwa meskipun hanya berjumlah beberapa ribu dengan persenjataan sangat sedikit, mereka telah berdiri sebagai benteng pertahanan bagi seluruh umat, dalam menghadapi musuh yang berjumlah ratusan ribu dengan negara super power dari sisi peralatan. Dan mengetahui sedikit berita gembira ini, membuat lebih mudah untuk memahami poin berikutnya, yang terkait dengan kehidupan di film.
Poin lain yang realistis di sini adalah bahwa dalam kehidupan nyata para pahlawan, para Mujahidin, mereka tidak selalu menang. Tentu saja kita tidak perlu untuk pergi ke beberapa diskusi panjang tentang apa artinya kemenangan sejati nyata, dan sebagainya, tapi saya pikir untuk anda semua, yang pernah membaca ‘Constants of Jihad (Tegar di Jalan Jihad)’ oleh Syaikh Yusuf al-Uyairi (semoga Alloh mengasihi beliau), semua itu akan dijelaskan dengan cukup baik. Untuk menjadi jelas di sini apa yang kita bicarakan adalah pertempuran yang sebenarnya di medan perang. Alasan utama untuk ini adalah kenyataan yang menyakitkan bahwa Mujahidin –umat Islam pada umumnya– kita tidak selalu layak mendapatkan kemenangan. Dan ini karena berkali-kali, kita belum memenuhi syarat dan kondisi yang diperlukan. Kita bisa melihat ini bahkan dalam kehidupan para sahabat, mereka juga diliputi oleh kekalahan.
Alloh (SWT) menguji mereka (para sahabat) dengan kepahitan berupa kekalahan karena tidak mematuhi perintah Nabi (saw), atau bahkan mungkin karena menjadi terlalu angkuh atau sombong. Mujahidin pun tidak berbeda, Mujahidin juga sedang berusaha dan mereka juga jatuh kedalam banyak kesalahan yang bermacam-macam. Untuk membuat keadaan menjadi lebih baik, mayoritas umat belum sepenuhnya bangun. Dan ini membawa kita mendapat cobaan lebih, ujian, dan kesengsaraan sampai keadaan fakta ini berubah: sampai umat mau bangun, ini akan menjadi tetap sama.
Dengan demikian, maksud saya berbicara seperti yang telah saya katakan tentang medan pertempuran, tingkatan taktik dalam medan perang dan sebagainya, tetapi pada tingkat strategis sisi terang dari situasi di sini adalah bahwa perang masih jauh dari selesai, dan catatan pertempuran hampir tidak berarti: tidak peduli berapa banyak kita kehilangan pertempuran individu, tujuan sebenarnya di sini adalah tentang peperangan. Dan kenyataan pahit lainnya adalah bahwa kaum kafir sendiri, mereka sangat paham, dan menyadari dengan pasti bahwa kemenangan tidak lebih adalah buah kesabaran. Jika umat muslim tetap terus melawan, dan memang umat ini ditakdirkan untuk itu, sebagaimana Alloh (SWT) telah memberikan kita kabar gembira maka mereka tidak pernah bisa ditaklukkan.
Sungguh, suatu bangsa yang ditaklukan bukan yang kehilangan tanah atau menderita kekalahan dalam medan pertempuran, tetapi sebuah bangsa yang takluk adalah yang menyerah, memilih menyerah dan berhenti melawan. Saya mengatakan hal ini karena faktor duniawi memiliki efek pada pertempuran yang sebenarnya dan sebagainya, pada pertempuran individu. Maksudku, memerangi tank dengan batu tidak akan membawa dampak apapun. Tetapi pada saat yang sama kita dapat melihat bahwa ketika orang tidak lagi peduli tentang kematian, dan ketika mereka memiliki kesabaran dan ketekunan yang mereka butuhkan untuk melanjutkan perjuangan, mereka tidak pernah bisa ditaklukkan! Bahkan oleh tank-tank yang dimana mereka tidak memiliki senjata yang sesuai untuk menanganinya, tidak peduli berapa banyak tank-tank ingin melampiaskan kehancuran, jika orang-orang memiliki kesabaran, kehancuran perorangan yang terjadi, contohnya penghancuran dari tank-tank ini tidak berarti banyak pada tingkat strategis siapa yang memenangkan perang.
Untuk membahas lebih dalam, izinkan saya memberikan contoh yang lebih kongkrit dari apa yang saya bicarakan. Di Somalia, dunia telah melihat bagaimana tank-tank AMISOM telah menjadi benar-benar dihancurkan hanya dengan keberanian beberapa pria yang menolak untuk melarikan diri. Tentu saja kita harus ingat bahwa kemenangan ini atas ijin dari Alloh (Subhanahu Wa Ta’ala). Qodar (Keputusan) Alloh –kita harus selalu ingat– Qodar Alloh memiliki peran besar dalam pertempuran ini. Karena seperti bala angin topan selama Pertempuran al-Ahzab (menjadi bala bantuan), Alloh (Subhanahu Wa Ta’ala) telah memberikan kemenangan Mujahidin di Somalia melalui bantuan dari bumi. Dari waktu ke waktu tank-tank AMISOM menemukan diri mereka terjebak dalam lubang, dan mereka dikelilingi oleh Mujahidin yang marah. Dalam hitungan jam, dapat dipastikan, mereka menyerah dan meninggalkan kendaraannya.
Dan seperti saya katakan, sekali lagi, bukan hanya bumi, Alloh (Subhanahu Wa Ta’ala) mempunyai jundi-jundi (tentara) yang kita tidak tahu, tetapi Alloh (Subhanahu Wa Ta’ala) juga adalah satu-satunya alasan dari keberanian Mujahidin dalam diri mereka untuk melawan tank-tank ini sementara mereka berada jauh dibawah level –dalam hal sumber daya dan perlengkapan. Dan Alloh (Subhanahu Wa Ta’ala) adalah alasan untuk kepengecutan musuh, Ia lah yang berkuasa menyebabkan rasa takut di hati musuh. Dan ini adalah karena Alloh (Subhanahu Wa Ta’ala) –melalui Nabi (SAW)– telah memberitahu kita bahwa hati umat manusia berada di antara jari-jari Ar-Rohman, dan Dia bolak-balik sebagaimana yang Dia inginkan.
Sekarang pada diskusi ini, Anda tahu, walaupun apapun kesulitan yang kita lalui pada tingkatan taktik, kemenangan ada disisi kami (mujahidin) Insya Alloh, dan ini membawa saya ke topik berikutnya, yang berkaitan dengan kekurangan kaum kafir, kelemahan mereka dan sebagainya, Saya menyebutnya pelajaran nomor tujuh, di sini: “Kaum Kafir adalah Kaum yang Tidak Tak Terkalahkan Seperti Yang Mereka Coba Gembar-gemborkan”.
Jadi seperti yang telah saya katakan, kita berbicara tentang bagaimana tank menjadi tidak berguna sama sekali, mereka terjebak dalam sebuah lubang, sekarang mari kita beralih tentang beberapa perangkat keras mereka yang lebih berharga seperti rudal jelajah. Tentu saja orang-orang di luar sana yang tahu sedikit sejarah Jihad, Pertempuran Jhangi menjelaskan sangat baik ketidakmampuan apa yang disebut kafir sebagai bom pintar.
Sekarang, sebagai contoh kongkrit di sini dari Somalia kita memiliki teladan Adam Hashi Ayrow (semoga Alloh mengasihi dia). Mungkin banyak orang tidak tahu bahwa dia benar-benar dibom pada berbagai kesempatan. Kafirin membom dia sekali di dekat Dobley, lain waktu mereka mencoba untuk membom dia di Ogaden, dan dia hanya bertemu nasib yang tak terhindarkan sebagai syuhada(Insya Alloh) setelah Kafirin berhasil menggunakan mata-mata dan peralatan khusus untuk menentukan keberadaannya dan kemudian setelah itu mereka menembakkan sekitar empat rudal jelajah pada satu rumah tinggal. Meskipun begitu ada beberapa orang yang tinggal di dalam rumah, mereka selamat, salah satu dari mereka, ia terus bertempur di garis depan dan ia mempecundangi tank-tank musuh yang sama yang kita bicarakan sampai hari ini. Nabhan misalnya (semoga Alloh mengasihi dia) dia juga, Anda tahu, mereka berusaha membom dia di berbagai kesempatan. Dia mengatakan kepada saya, pada suatu kesempatan bom mereka mendarat hanya 10-20 meter dari dia, dan meskipun begitu ia bahkan tidak terluka, ia tidak memiliki cedera sedikitpun untuk dapat ditunjukkan. Ini adalah dengan rudal jelajah. Dia menyaksikan pemboman kamp pelatihan Al Farouq di Afghanistan, dan itu tidak membuat dia benar-benar syahid sampai Amerika menyerang mobilnya dan mereka menembakinya dengan ribuan amunisi. Dan ini adalah menarik untuk diperhatikan karena ini ‘berlebihan’, satu-satunya alasan untuk itu adalah bahwa Amerika takut dengan harus turun ke medan perang dan terlibat dalam api peperangan dengan hanya beberapa ‘teroris’ bersenjata ringan.

Jadi poin dari semua ini adalah bahwa Amerika mereka memiliki alat propaganda untuk mendramatisir kekuatan mereka. Sebagai contoh, bahkan beberapa rudal lainnya, mereka memberi mereka nama-nama seperti rudal ‘Hellfire/Api Neraka’. Dan jika Anda mau meneliti tentang ini, atau jika Anda melihatnya dan efek yang ditimbulkan dan sebagainya, itu benar-benar itu tidak lebih dari sebuah RPG yang bonafit. Dan dalam kebanyakan situasi mereka menembakkan rudal-rudal itu pada kendaraan sipil normal dan kemudian mereka melompat karena sukacita ketika mereka melihat kehancuran: seolah-olah mereka telah menghancurkan sebuah tank lapis baja berteknologi tinggi.
Dengan semua cerita kosong tentang perangkat keras militer mereka, kita juga bisa berpindah tentang kenyataan badan-badan intelijen mereka yang memiliki kualitas yang kurang lebih sama, karena mereka semua dinilai terlalu tinggi. Sebuah contoh nyata di sini dari Somalia: salah satu saudara kami syahid (Insya Alloh) dari hari setelah mundurnya Islamic Court/Pengadilan Islam (Al Mahakim Al Islamiyah), ia adalah seorang ikhwan asal Amerika yang berstatus bebas bersyarat. Dia adalah seorang Hispanik/Keturunan Amerika Latin –ia tidak memiliki seorang teman pun dari somalia– meskipun begitu ia berhasil melakukan perjalanan keluar dari Amerika Serikat di bawah penyamaran menjadi orang Somalia dan ia melakukan itu sementara ia berstatus bebas bersyarat.
Dan seorang Ikhwan yang pernah menjadi buronan juga memberitahu saya bahwa ia menghabiskan sebagian besar waktunya bersembunyi dari polisi di rumahnya sendiri! Sungguh perlu dicatat di sini bahwa itu adalah bukti kebodohan lembaga ini, yang mereka sepertinya selalu merekrut mata-mata paling bodoh untuk melakukan pekerjaan kotor mereka ke titik yang benar-benar menjadi sebuah fenomena. Saya percaya bahwa mungkin informasi tertutup terbesar mengenai mata-mata yaitu benar-benar memiliki kemampuan untuk melihat, berbicara dan berjalan persis seperti bayangan dibenak setiap orang tentang bagaimana seorang mata-mata seharusnya melihat, berbicara dan berjalan.
Maksudku itu benar-benar luar biasa: setiap orang yang dicurigai sebagai mata-mata ternyata memang benar seorang mata-mata. Contoh lain dari ketidakmampuan mereka di sini, jangan lupa kebodohan yang melibatkan orang-orang top dari CIA, tim dari bin Ladin, seorang diri saudara kami di Khurosan meledakkan orang-orang CIA tersebut (maksudnya adalah Abu Dujanah Al Khurosani yang berhasil menjadi agen ganda dan melaksanakan operasi bom syahid di markas CIA di Khost Afghanistan yang berhasil membunuh beberapa petinggi/tokoh penting CIA, edt). Operasi-operasi semacam ini dan masih banyak lagi, semua ini adalah hanya sebagian kecil saja, maksud saya ada banyak contoh untuk menunjukkan bahwa organisasi ini (intelijen musuh) tidak mahatahu dan mahakuasa seperti yang mereka tampilkan agar setiap orang percaya.
Sekarang untuk mulai menutup hal-hal di sini, saya ingin masuk ke beberapa pelajaran penutup ceramah ini, yang pertama adalah pelajaran yang saya suka menyebutnya: “Para Alim Ulama Anda, tidak peduli seberapa hebatnya, tidak bisa diandalkan Sebagai Alat Ukur Dari Suatu Kebenaran Atau Kebathilan “.
Saya katakan ini karena ada banyak orang di luar sana yang menunggu untuk bergerak sampai ada Ulama yang mengumumkan kewajiban Jihad, atau untuk pergi dan memimpin mereka di jalan Jihad. Orang-orang yang sama mereka memiliki bukti, mereka tahu bahwa ini adalah kebenaran, mereka telah menyadari bahwa tindakan Jihad dan Hijrah adalah wajib atas mereka dan sebagainya. Tapi mereka tampaknya berpikir bahwa topik ini khusus untuk para ulama besar yang memiliki pengetahuan tinggi tentang masalah yang masih samar yang mereka sering menyebutnya “ilmu tentang maslahat dan madhorot”. Aku akan menjelaskan kepada Anda di sini dan hari ini suatu kenyataan sebenarnya perihal orang-orang yang berbicara tentang menimbang maslahat dan madhorot, dan menggunakan itu sebagai alasan untuk mengatakan bahwa Jihad dan Hijrah tidak tepat untuk saat ini, banyak alasan di balik pernyataan-pernyataan dari mereka adalah bahwa mereka sendiri terlalu takut, atau terlalu terikat kepada dunia untuk terlibat dalam jihad. Jadi saya sarankan Anda untuk tidak mendengarkan mereka, karena benar-benar mereka tidak punya kewenangan untuk berbicara tentang apa yang mungkin atau yang tidak mungkin di masa-masa berkaitan dengan Jihad dan Hijrah untuk alasan sederhana bahwa satu: mereka telah pernah terlibat dalam jihad. Dan kedua: orang-orang yang berjihad, dan mereka yang telah membuat video tentang hal ini memberitahu dunia bagaimana hal itu (hijrah dan jihad) dapat dilakukan, betapa besar peluang itu, dan bagaimana setiap orang harus mengambil bagian.
Sekarang masalah lain dengan ulama fiksi adalah bahwa diperlukan satu ulama lain untuk menentukan setiap satu situasi. Dimana orang-orang harus menggunakan cerita kosong itu pada seseorang sebagai alat untuk mengukur ke-ulama-annya. Hal ini karena kebanyakan orang, mereka tidak ahli dalam ilmu agama dan mereka tidak akan mampu membedakan antara seorang ulama dan orang awam jika bukan karena jenis pakaian yang dia pakai dan jumlah orang yang mengajukan pertanyaan kepadanya.
Jadi ini adalah fenomena di mana saya suka menyebutnya ‘sistem Vatikan’ yang telah masuk: yaitu di mana, sistem ini telah menghancurkan persepsi semua orang tentang kenyataan. “Sistem Vatikan” ini adalah usaha langsung dari beberapa penguasa dan media untuk menjadikan nama individu-individu tertentu sebagai otoritas tertinggi dalam Islam. Dan mereka melakukan ini untuk keuntungan pribadi. Mereka memilih orang-orang dengan bujukan tertentu dan mereka pastikan untuk membuat hidup mereka, Anda tahu, benar-benar nyaman, sehingga para ulama-ulama palsu itu tidak akan pernah menggigit tangan yang memberi makan mereka.
Kini dengan ulasan-ulasan tadi, kita semua harus bertanya kepada diri sendiri: Apakah benar-benar waras untuk menunggu orang-orang tersebut dengan jenis mandat semacam itu untuk menyerukan Jihad dan Hijrah?! Tentu saja tidak! Tapi masalahnya adalah bahwa semua ulama sejati, yang melakukan panggilan Jihad dan Hijrah atau benar-benar pergi keluar dan terlibat dalam gerakan ini segera diberi label –oleh orang-orang yang sama– sebagai orang jahil, takfiri Khowarij yang tidak menghormati Kibaarul Ulama. Jadi apa yang kita benar-benar harus pahami adalah bahwa mereka (para ulama) tidak sedang bermain-main dan mereka (para ulama) bukan bagian dari kaki tangan dari ‘Sistem Vatikan’, tetapi apa yang terjadi yaitu sekali orang-orang ini dilempar keluar dari Manhaj dan mereka ditempatkan pada daftar Ulama non ekstremis, kaum Muslim rata-rata dibiarkan berpikir: mengapa para ulama tidak pernah membuat panggilan untuk Jihad dan Hijrah kalau hal ini adalah wajib hukumnya?
Dan sungguh, saya pribadi telah menjadi korban dari mentalitas ini, di masa lalu, dan saya di sini untuk memberitahu Anda bahwa tidak peduli siapa ulama Anda, tidak terlalu penting siapa yang mengajarkan Anda tentang Islam dan yang memakai jubah, dan tidak peduli apakah itu ayahmu atau teman terbaik Anda. Jangan menunggu orang untuk menerima kebenaran sebagai alasan untuk kembali menggantung dan ragu. Yang benar adalah semua orang mampu menyaksikan, tapi hanya pemberani yang bisa pergi dan melaksanakannya.
Jadi ini membawa saya untuk pelajaran kita yang terakhir dan final di sini, yang disebut: “Kebenaran Dianggap Kegilaan bagi 99% Dari Penduduk Bumi”, atau kita bisa juga mengganti nama pelajaran ini: “Iman sejati adalah bentuk Kegilaan”.
Kita hidup dalam waktu di mana realitas dasar dari agama kita, seakan menjadi serupa dengan mengetahui bahwa matahari bersinar, pada masa para sahabat, telah menjadi sangat aneh dan tertinggal. Dan keanehan yang dirasakan ini yang menyebabkan banyak orang melihat Kebenaran sebagai suatu kebodohan, atau tidak rasional, atau berbahaya dan sebagainya. Kenyataannya bahwa orang-orang menghabiskan sangat sedikit waktunya untuk membaca Siroh Nabi SAW sebagai kisah nyata yang benar-benar terjadi. Dan bahkan menghabiskan lebih sedikit waktu untuk membayangkan bagaimana hal itu akan dijalankan pada zaman kontemporer kita ini. Jikalau ummat menghabiskan lebih banyak waktu melakukan hal-hal tersebut (mempelajari Siroh Nabi SAW), kita akan memiliki lebih sedikit orang yang berjalan di sekitar dan memanggil orang-orang yang memiliki semangat yang kuat bagi agama ini dengan sebutan-sebutan seperti: ‘konyol’, ‘bodoh’ ‘ekstrimis sesat’, dan ‘pengacau’ dan semacamnya.
Aku ingin mengingatkan semua orang dengan suatu riwayat di sini, cerita ini dapat ditemukan dalam Shohih al-Bukhori, hadits nomor 3328. Ini tidak lain adalah kisah Abu Dzar (RA) dan masuknya beliau ke dalam Islam. Dan hadits ini menyebutkan bahwa setelah Abu Dzar mencapai Makkah, dan ia meminta Ali (RA) untuk membawanya kepada Nabi (SAW) dan ia (Abu Dzar) berkata:
“Jadi aku pergi dengannya sampai ia masuk dan kemudian aku masuk bersamanya menemui Nabi SAW. Aku berkata kepada Nabi SAW: ‘Islamkan saya!’ dan Beliau pun meng-islam-kan saya maka jadilah aku sebagai Muslim. Dia Nabi SAW berkata kepadaku, ‘Wahai Abu Dzar, sembunyikan keislaman mu dan kembalilah ke negeri mu. Ketika telah sampai kepada mu berupa kabar bahwa kami telah menang, maka datanglah kembali.” Jawabku: “Demi Dzat yang mengutus Anda dengan kebenaran, aku akan berteriak di tengah-tengah mereka!”
“Jadi dia pergi ke masjid dimana kaum Quroisy berada dan berkata: “Wahai kaum Quroisy! Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang haq) selain Alloh dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya!” Mereka menjawab: “Tangkap orang sesat ini!” Lalu mereka bangkit dan memukuli saya sampai hampir mati.
Al-Abbas sampai padaku dan menempatkan dirinya di atasku dan kemudian berpaling kepada mereka dan berkata: “Celakalah kalian! Apakah kalian akan membunuh seorang dari Negeri Ghifar ketika perdagangan dan hubungan kalian melewati Ghifar?” Lalu mereka meninggalkan saya. Pagi hari berikutnya saya kembali dan mengatakan seperti apa yang saya katakan sehari sebelumnya.
Mereka berkata: “Tangkap orang sesat ini!” Dan perlakuan yang sama dilakukan kepada saya seperti sehari sebelumnya. .
Al-Abbas mencapai saya dan menempatkan dirinya di atasku dan kemudian berpaling kepada mereka dan mengatakan seperti apa yang telah dikatakan sehari sebelumnya. Dia berkata: “Jadi ini adalah awal Islam Abu Dzar, semoga Alloh mengasihi beliau!”
Jadi bagi anda yang mengerti bahasa Arab akan segera memahami relevansi dari cerita ini. Apa yang kita miliki di sini, kita memiliki Abu Dzar (RA) sebagai orang yang baru masuk islam, diberikan instruksi yang jelas dari Nabi (SAW) bahwa ia memiliki alasan jelas untuk menyembunyikan keislamannya. Tapi bukannya mengambil kemudahan tersebut ia justru mengatakan kepada Nabi (SAW) dengan jelas bahwa ia akan membuat keislamannya diketahui oleh semua orang, terlepas dari apa yang mungkin akan menimpa dirinya, dan bahaya apa yang mungkin datang kepadanya. Apa yang kemudian terjadi tidaklah Nabi (SAW) memegang dia dan menceramahi dia karena menjadi seorang radikal yang bodoh yang tidak mengerti ilmu suci tentang maslahat dan madhorot. Beliau tidak mengatakan kepada Abu Dzar bahwa ia akan menjadi penyebab dicabutnya ijin tinggal seluruh sahabat di Makkah, beliau tidak mengatakan kepadanya bahwa Abu Dzar akan menjadi penyebab mereka dikirim ke penjara. Bahkan, Abu Dzar, ia melanjutkan tindakannya dan menerima pemukulan bertubi-tubi pada beberapa hari, untuk menyatakan Iman dihadapan kaum Quroisy ditempat mereka yang paling suci (di depan Ka’bah).
Tetapi hadits ini tidak menyalahkannya dan datang dari Nabi (SAW) atau bahkan dari Abbas (RA) yang belum menjadi Muslim pada saat itu tetapi dia sayang kepada Nabi nya (SAW) umat Islam.
Hikmah dari atsar ini adalah bahwa Islam dimulai sebagai sesuatu yang asing dan sekarang kembali menjadi sesuatu yang asing, sehingga semua orang harus memastikan dirinya untuk bersama dengan kaum yang terasing itu adalah asing, dan menjadi di antara mereka yang disebut ‘gila’ dan ‘bebal’ dan ‘bodoh’ oleh mayoritas umat manusia.
Dan dengan itu, Insya Alloh, saya akan menutup ceramah sederhana yang berjudul: “Pelajaran-Pelajaran Berharga dari Bumi Jihad” ini, yang meliputi beberapa realisasi yang telah saya lakukan selama lima tahun saya berada dalam Hijrah dan Jihad, dan aku akan menutup dengan memanjatkan permohonan kepada Alloh (Subhanahu Wa Ta’ala) agar Ia menerima semua amal perbuatan kita, dan membuat kita tulus ikhlas dalam setiap amal kita. Aku meminta kepada Alloh (Subhanahu Wa Ta’ala) agar Dia menjadikan Kebenaran itu menjadi jelas bagi kita semua, dan menuntun kita untuk meniti jalan-Nya, agar Dia menjadikan Kebathilan itu jelas bagi kita, dan menuntun kita menjauh darinya. Aku meminta kepada Alloh (Subhanahu Wa Ta’ala) agar Ia memberikan kemenangan kepada Mujahidin dan mendirikan Khilafah Rosyidah secepatnya. Dan saya memohon-Nya untuk membebaskan semua tahanan kami dan mengembalikan mereka segera kembali kepada keluarga mereka dan rumah mereka. Dan akhirnya, aku meminta kepada Alloh (SWT) untuk memberi saya akhir yang baik dan menerima saya di antara para Syuhada.
Dan sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Muhammad yang diberkahi, keluarganya dan para sahabatnya secara keseluruhan.
Wa akhiru da’wana ‘anil hamdulillaahirobbil ‘alamiin (dan akhir seruan kami adalah segala puji bagi Alloh Robb semesta alam).
Saroya Media Istisyhadiyun

Minggu, 30 Oktober 2011

Kuselesaikan semuanya di Chechnya



Kulihat arloji di tanganku, pukul sebelas lewat delapan. Aku bergegas menuju gerbang sekolah, berbaur dengan siswa lain yang keluar. Jum’at ini kuputuskan untuk sholat Jum’at di kawasan Kramat Raya. Untuk menghemat waktu kuputuskan tidak usah pulang dulu, aku mau jalan kaki aja. Tidak terlalu jauh dari sekolahku. Jalan Salemba dan Jalan Kramat Raya nyambung. Jum’at pekan lalu aku sholat Jum’at di masjid Arif Rahman Hakim UI. Sekarang aku memutuskan ke masjid di Jalan Kramat Raya.

Aku tidak ingat persis kapan kebiasaanku ini kumulai. Mungkin sekitar setahun terakhir ini. Suatu kebiasaan yang mungkin agak aneh untuk ukuran anak SMU sepertiku. Awalnya seorang teman abangku main ke rumah, Bang Arif namanya. Karena abangku-Bang Rahman- sedang mandi, aku keluar menemani Bang Arif duduk di teras. Kulihat dia membawa beberapa buku, diletakkan di meja di antara dua kursi teras yang kami duduki.

“Buku baru ya bang?” Tanyaku.
“Bukan…barusan abang ambil dari rumah teman. Buku lama kok.”
“Boleh liat bang?” Pintaku. Bang Arif menyodorkan buku-buku itu padaku. Aku membolak-balik sekilas buku-buku itu. Aku belum pernah melihat buku-buku sejenis ini, apalagi membacanya. Buku-buku itu karangan Syekh Abdullah Azzam, Syekh Sayyid Qutb dan Syekh Abu Muhammad Al-Maqdisiy.
“Kalau Rasyid tertarik…boleh pinjam semuanya kok.”
“Benar bang?! Sampai kapan?” Aku benar-benar tertarik.
“Nanti kalau ke sini lagi baru abang ambil.”

Aku membawa buku-buku itu masuk ke kamar. Kebetulan Bang Rahman sudah dandan rapi dan bersiap mengeluarkan motornya. Gak lama kemudian kudengar motor abangku telah melaju pergi. Abang akhir-akhir ini jarang di rumah. Kalaupun di rumah, dia lebih asyik di depan komputernya dari pada ngobrol, becanda atau nonton televisi bersama kami. Sepertinya ada yang berubah pada abangku ini, lebih jarang ecanda dan menjadi lebih serius. Cambang dan jenggotnya dibiarkan tumbuh memanjang. Jika berjalan….kalau aku perhatikan….dia selalu fokus pada satu titik, tidak mendongak dan tidak menunduk. Padahal tadinya, di antara kami lima bersaudara, dia yang paling usil. Meskipun paling tua, tapi paling tidak bisa diam. Selalu ada saja ulahnya….ngumpetin sepatu olahragaku sebelah, padahal aku sedang buru-buru. Di lain waktu dia menukar-nukar kaos kaki yang telah ku susun rapi, menaruh mainan berbentuk cicak dalam buku adikku…yang menyebabkan dia menjerit-jerit histeris khas cewek. Tapi belakangan dia berubah. Jangankan usil…becandapun jadi jarang. Teman-teman Bang Rahman yang datang ke rumah juga berubah. Kalau dulu teman Bang Rahman yang datang ke rumah bawa gitar dan banyak yang punya tato, sekarang lain. Semua teman baru Bang Rahman yang ke rumah berpakaian rapi, berbicara sangat sopan dan pelan serta berjenggot. Mereka sering membawa buku-buku, diktat, atau proposal kegiatan…tak jelas benar bagiku. Yang aku tahu, Bang Rahman telah berubah.

Pernah suatu ketika, selepas sholat Asar, dia memberi tahu aku cara sholat yang benar. Bagaimana posisi kakiku saat rukuk, bagaimana aku memusatkan pandangan, caraku berdo’a… hal-hal yang selama ini tak pernah kuperhatikan, khas cowok pelajar SMU..he….he…..he…., setidaknya itu pendapatku. Dan dia marah padaku, saat melihat aku dan teman-temanku bercanda sambil mengerjakan tugas sekolah di teras. Begitu temen-temenku pulang, dia memanggilku. Meskipun suaranya pelan tapi ada nada marah yang ditekan. Dia bilang aku telah kelewat batas. Dalam Islam pergaulan pria dan wanita itu diatur. Sangat ketat dan sangat rinci……..untuk menghormati wanita. Itu sebabnya ada aturan menundukkan pandangan, ada larangan berkhalwat, ada larangan membuka aurat…..
“Ini kamu!! Malah teplak-teplok….towal-towel…..sama anak perempuan seenaknya!!…. ” aku melongo. Rasanya semua yang kulakukan masih wajar sebatas bercandanya remaja, khas pelajar SMU, he..he…he… sekali lagi itu pendapatku.
Setelah kejadian itu, Bang Rahman menyarankan aku ikut rohis di sekolah. Awalnya aku enggan..tapi karena ibu ikut-ikutan mendesak, akhirnya aku masuk juga ke kegiatan rohis. Mula-mula sekedar duduk manyun dalam pengajian…..lama-lama aku mulai aktif bertanya dan berdiskusi…..lama-lama aku berubah. Kajian rohis telah memahamkan aku akan perilaku Islami, perbaikan ibadah sehari-hari dan bacaan Al-Qur’an-ku.
Meskipun aku merasa aku telah banyak berubah menjadi lebih baik….tapi masih ada yang kurang. Masih ada yang belum kutemukan. Diam-diam dalam benakku terpaku dalam sebuah pemahaman, ah bukan!! Tapatnya pertanyaan!! Sebuah pertanyaan bermula setelah aku membaca buku-buku yang dipinjamkan Bang Arif. Aku baru tahu dari buku “Pelita Yang Hilang” karya Syeikh Abdullah Azzam kalau Daulah khilafah Islam telah runtuh pada tahun 1924. aku tahu sepak terjang Mustafa Kamal Attaturk dan semua kebobrokan yang terjadi di negeri-negeri kaum muslimin setelah Daulah Utsmani runtuh. Selama ini aku cuma tahu kalau ini negara Republik dengan segala pernak-perniknya…..selebihnya aku tidak peduli. Ternyata Syeikh Maqdisy menjelaskan kesalahan demokrasi, kesalahan bentuk-bentuk dan sistem kenegaraan yang diterapkan di semua negeri kaum muslimin sekarang ini. Sekali lagi………selama ini yang kupahami, demokrasi itu sempurna karena semua bermula dari rakyat karena kedaulatan di tangan rakyat. Dan di antara pemahaman baru itu yang paling menarik perhatianku adalah buku berjudul “Perang Jihad di Zaman Modern” karya Syeikh Abdulla Azzam. Selama ini aku memahami bahwa satu-satunya hal yang akan menyempurnakan agama adalah pergi haji. Sering aku berkhayal bahwa aku akan pergi haji kelak….menjelang tua….gak usah buru-buru. Tapi aku terkesiap!!! Ternyata ada sebuah kewajiban yang begitu mulia…dan tak semua kaum muslimin muslimin memahami apalagi melaksanakannya. Buku itu menerangkan definisi jihad, niat dan tujuan jihad, jalan menuju jihad dan semua hal itu menyentak jiwaku. Buku itu bahkan sempat kubaca hingga tiga kali sebelum kukembalikan pada Bang Arif.

Tiba-tiba aku ingin mencari-cari dimana pemahaman seperti itu kudapatkan. Meski aku sudah aktif di rohis sekian bulan, belum aku temukan tanda-tanda aku akan bertemu pemahaman seperti dalam buku-buku yang kupinjam dari Bang Arif. Maka akupun mulai mencari dari berbagai pengajian dan tabligh akbar, tapi tidak juga kutemukan. Dan kini perburuanku mengarah pada berbagai khotbah Jum’at. Aku melakukan shalat Jum’at berpindah-pindah, dari satu masjid ke masjid lain. Kalau lagi punya duit, pulang sekolah aku langsung naik bis dan setelah beberapa kali berganti bis dan angkot aku turun dan shalat Jum’at di sebuah masjid di mana saja. Berbagai pengalaman lucu kutemui dalam perburuanku ini. Aku pernah dihardik seorang ta’mir di sebuah masjid di kawasan Rawasari. Masjid itu tampak megah dan masih terlihat sepi saat aku datang. Tapi kenapa aku gak boleh shalat di sana….belakangan ada temanku yang bilang, itu semacam masjid untuk sebuah kelompok tertentu dan tertutup bagi orang diluar kelompok mereka. Aneh! Itu yang terpikir olehku. Di saat yang lain aku pernah masuk ke masjid ketika khutbah nyaris selesai, soalnya kejauhan nyari masjidnya.dan bahkan aku pernah pulang jalan kaki karena aku lupa memperhitungkan ongkos di kantongku, beruntung di daerah dekat Senen aku bertemu seorang tetangga yang memberiku tumpangan pulang. Sayangnya sejauh ini belum ada tanda-tanda kutemukan apa yang kucari. Kalaupun ada khatib yang bersemangat berapi-rapi memaparkan memberantaskan kemungkaran tapi ujungnya bukan jihad seperti yang kucari.
“Rasyid!!….mau ke mana?” teman sekelasku yang bernama Adi berlari-ari menyusulku.
“Ke masjid, mau bareng?” Tanyaku.
“Lu gila ya?…semangat banget!!! Gak pulang dulu, makan kek…nyantai kek…nyantai dulu kek…. ” Adi mencibir.
“Tadi pas istirahat gua udah makan…jadi sekarang mau jalan nyantai aja ke masjidnya. Ngirit ongkos.”
“Lu lagi bokek ya?!!” ledeknya. Aku mengangguk masam.
Setelah kubujuk, mau juga dia ke masjid bersamaku. Kami jalan santai sambil mengobrol di sepanjang Jalan Salemba Raya kemudian berlanjut di Jalan Krama Raya, menyeberang di jembatan sebrang dan masuk halaman masjid di kawasan itu. Belum terlalu ramai, kamipun langsung mengambil wudhu dan shalat sunnah. Kusimak seluruh uraian khatib hingga khutbah berakhir….belum juga kutemukan apa yang aku cari.

^^^
Hampir setahun aku mencari, sudah puluhan masjid kudatangi…..sebagian besar di wilayah Jakarta pusat, tapi belum juga kutemui hasil. Sebenarnya di mana aku harus mencari….apa yang salah dengan pencarianku….siapa yang bisa membantu…..
Ketika semua pertanyaan itu muncul silih berganti, pencarianku pun berakhir dan berhasil. Tadinya aku berpikir…..kadang berandai-andai…..pencarianku akan berhenti pada sosok khatib dengan khotbah yang berapi-api penuh semangat atau pada sosok ulama’ besar muncul di sebuah tabligh akbar. ternyata tidak. Pencarianku berhenti pada seorang pria yang kutabrak tidak sengaja di sebuah toko. Ya! Seorang berumur awal tiga puluhanan, setidaknya itu tebakanku.

Sore itu aku pergi ke sebuah toko buku di kawasan Kwitang. Aku berniat membeli Al-Qur’an kecil dan beberapa buah buku jika uangku cukup. Alqur’an kecil bersampul hitam kupilih, terlihat mungil dan bagus. Uangku masih cukup untuk membeli dua-tiga buah buku. Jadi aku asik memilih-milih buku. Tiba-tiba aku tersadar, jika waktu hampir masuk maghrib. Aku membayar di kasir dan buru-buru keluar. Di pintu keluar aku menabrak seorang pria, yang aku rasa juga sedang terburu-buru. Buku yang dibawanya dalam kantong plastik terjatuh.

“Maaf…maaf pak. Saya tidak sengaja…saya…saya lagi buru-buru…” Aku bersungguh-sungguh minta maaf. Pria itu tersenyum tulus. Aduuh… leganya..
“Gak papa, kok. Adik mau kemana?” Pria itu membetulkan letak kaca matanya.
“Mau sholat ke masjid, habis itu pulang.”
“Kita sama-sama yuk.” Ajaknya. Aku mengikutinya ketika dia berjalan ke arah jalan di sebelah toko buku itu, berbelok masuk ke sana. Tadinya aku berpikir dia akan mengajak aku shalat di area toko buku itu.
“Aku tinggal dekat sini….” Suaranya memecah kebisuan. Oh ternyata itu alasannya.

Selepas shalat aku duduk di teras masjid. Sebagian jama’ah shalat terlihat beranjak pulang. Tiba-tiba pria tadi duduk di sebelahku. Tatapan matanya bersahabat.

“Adik tinggal di mana?” Tanyanya.
“Percetakan negara, pak.” Dan tiba-tiba kami merasa akrab…setidaknya itu perasaanku….dan terlibat obrolan santai. Ketika kutunjukkan buku-buku yang kubeli dia tampak kaget. Aku membeli buku-buku syeikh Abdullah Azzam dan Sayyid Quthb. Meskipun sebagian buku itu pernah kubaca saat kupinjam dari Bang Arif. Aku ingin punya sendiri, jadi kuputuskan untuk membeli. Ketika kujelaskan tentang pencarianku ke masjid-masjid setahun belakangan ini, dia tampak menyimak dengan sungguh-sungguh. Tadinya kupikir dia akan mentertawakan aku atau setidaknya tersenyum. Ternyata tidak. Pria itu begitu menyimak penuturanku, seperti tak ingin terlewat dalam setiap detilnya.

“Adik bersungguh-sungguh mencarinya. Tentu. Setahun bukan waktu yang pendek. Sepertinya aku bisa membantu.” Dia menulis pada selembar kertas kecil dan menyerahkannya padaku.
“Datanglah ke alamat ini minggu depan. Hari Ahad ba’da ashar.”
Aku menerima kertas itu dan berpamitan. Aku masih belum mengerti benar dengan maksud perkataanya “membantu”. Dia bahkan tidak berkomentar banyak atas ceritaku. Tapi aku akan berusaha datang ke alamat itu minggu depan dan melihat bagaimana dia membantuku.

^^^
Rumah di alamat ini mudah ditemukan. Terletak di gang dekat masjid tempat aku shalat magrib minggu lalu. Ketika kuketuk pintu dan kuucapkan salam, pria yang kutabrak di toko buku itu yang membukakan. Aku kaget, tapi senyumnya segera menetralisir kekagetanku.
“Masuklah….. ayo silakan.”
Itulah pertama kali aku berkunjung ke rumahnya, rumah ustadz Umar, begitu aku memanggilnya kemudian. Minggu-minggu berikutnya aku datang ke rumah ini rutin, bersama beberapa anak seumuranku. Dirumah Ustadz Umar, aku benar-benar menemukan apa yang kucari selama ini. Dari Ustadz Umar aku belajar tauhid yang lurus, tauhid Ahlussunnah wal-jama’ah sunnah wal jama’ah, aku memahami jihad dengan segala hal yang berhubungan dengannya. Kadang seorang yang menurutku tingkatannya lebih tinggi, mengisi pengajian kami. Biasanya sebulan sekali. Namanya Ustadz Hamzah.

^^^
Ujian kehidupan memang harus dihadapi setiap insan. Setiap tahap dengan ujiannya sendiri, agar diketahui siapa yang bersabar dan tidak, siapa yang bertawakkal dan tidak. Dan ujianku pun datang dari Sang Khaliq untuk mengetahui seberapa tebal imanku.
Sore itu aku sakit perut, mules banget. Sudah tiga-empat kali aku ke belakang. Tadi aku juga sudah minum obat yang kubeli di warung depan, tapi sakitnya belum berkurang juga. Sambil memegang perut yang terasa meremas-remas aku duduk di teras.
“Bang Rasyid, nanti jemput rahmi di rumah Nina ya, mau bikin tugas. Jangan lupa ya!.” Pinta Rahmi, adikku sambil membuka pintu pagar.
“Aduh ….Abang lagi sakit perut…bikin tugasnya di sini aja…” aku meringis menahan sakit.
“Gak bisa! Udah janji, abis maghrib ya…please! Da-da abang, Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam….” Jawabku lemas.
Habis shalat maghrib aku berbaring di sofa, badanku terasa lemas, meski mulas perutku sudah berkurang. Tiba-tiba aku tertidur…entah berapa lama. Aku tergeragap ketika ibu membangunkanku untuk makan.

“Astagfirullah…sekarang jam berapa bu?”
“Delapan lewat dikit….”
“Hah!! Rahmi aku lupa menjemputnya!!”
Aku kalang kabut…kupakai jaket…kusambar kunci motor bapak dari gantungan, bergegas kukeluarkan motor. Serba tergesa.
“Hati-hati, Rasyid. Jangan ngebut!”.
“Assalamualaikum….”
“Waalaikum salam.” Jawab ibu sambil menutup pintu. Sepanjang jalan kuperhatikan orang-orang yang lewat…kalau-kalau ketemu Rahmi. Tiba-tiba aku merasa khawatir yang luar biasa. Jantungku terasa deg-degan tak menentu. Seperti ada firasat buruk menyelinap. Aku bergidik. Belum pernah aku merasa secemas ini, entah kenapa. Kupacu motor, berbelok di jalan Matraman. Ketika kumatikan motor di depan rumah Nina sahabat adikku, rumahnya tampak tertutup dan sepi. Hatiku makin khawatir.
Dari Nina kuperoleh keterangan kalau Rahmi pulang terakhir, setelah yang lain pulang. Karena lama menunggu aku, dia memutuskan pulang sendiri. Sebenarnya Nina dan ibunya sudah menahan agar jangan pulang sendiri. “Gak jauh”, begitu alasannya. Dengan dada yang semakin berdebar-debar aku susuri jalan pulang, mencoba memutar lewat JL Prmauka, siapa tahu Rahmi lewat sini. Di depan Statiun Kramat kusempatkan telpon ke rumah, menanyakan apa adikku sudah sampe ibu bilang belum. Aku makin berdebar-debar.
Sampai rumah semua panik. Kuhubungi lewat telpon temen-temen yang tadi mengerjakan tugas bersama. Tidak ada yang tahu. Mereka bilang, tadi mereka pulang duluan. Ya!! Aku sudah tahu. Semua karena aku terlalu panik tidak tentu mau buat apa.
Malam itu pencarian kami lakukan, dibantu aparat dan para tetangga. Semua jalan yang mungkin dilalui adikku kami susuri. Menjelang dini hari pencarian membawa hasil…hasil yang membuat aku terduduk lemas dan ibuku pingsan. Adikku telah meninggal…tergeletak berlumuran darah di sebuah kebun kosong. Ada dua luka tusukan menganga di perutnya. Darah membasahi baju dan kerudungnya. Badanku lemas gemetaran. Aku begitu syok..kenapa jadi begini….adikku….adikku yang malang….

^^^
Seminggu kemudian, kedua bajingan itu tertangkap. Dari mulut mereka mengakir pengakuan, bahwa malam itu dia melihat adikku berjalan sendirian. Jalanan cukup sepi karena langit mendung menggantung. Tiba-tiba bujukan setan halus merasuki setan-setan kasar itu. Mereka membekap dan menyeret adikku ke sebuah kebun kosong hendak memperkosanya. Karena adikku terus meronta-ronta dan menendang-nendang, dua bajingan itu kewalahan. Takut ketahuan orang yang lewat di jalan setapak pinggir kebun kosong itu, maka salah seorang menusuk adikku. Dan dua tusukan telah menghentikan perlawanan adikku.
Perasaan geram dan amarah luar biasa merasuki hatiku. Gigiku gemeretuk menahan marah. Sayang, setiap aku ingin menghajar….menendang…atau apa saja, tanganku selalu dipegang erat oleh para polisi. Terbayang, bagaimana tubuh mungil adikku berjuang dalam bekapan dua bajingan itu. Bagaimana adikku berjuang mempertahankan kehormatannya. Terbayang…bagaimana adikku tergeletak bersimbah darah….sendiri…hingga nafas terakhir terhembus. Ada perasan bersalah yang menghempas-hempas jiwaku. Ada sembilu mengiris-iris hatiku…seandainya aku menjemputnya tepat waktu…seandainya aku tidak tertidur…..seribu seandainya menyesaki rasa bersalahku. Bahkan hingga kini….
Tidak ada yang menyalahkan aku atas peristiwa itu. Tidak ibuku…bapakku pun nggak. Mereka kini bahkan sudah ikhlas menerimanya sebagai takdir Allah SWT dan begitulah adikku diambil Pemiliknya. Tapi tidak denganku. Semakin mencoba menerima kenyataan, semakin besar rasa bersalah menghunjam.

^^^

Hari ini Ujian Nasional terakhir. Masa SMA-ku akan segera usai. Tidak ada yang kurasa istimewa, semua datar dan terasa hampa. Meskipun obrolan-obrolan tentang kelulusan, nilai NEM atau daftar ke peguruan tinggi mulai semriwing mampir kek uping, aku tidak tertarik. Banyak teman-teman yang deg-degan menunggu kelulusan, banyak yang mulai asyik memilih-milih tempat kuliah.
“Hai sohib!! Lu mau kuliah di mana?” Adi sudah duduk di sebelahku, di pinggir lapangan sekolah.
“Afghanistan,” Jawabku serius.
“Lu gila kali!! Ga ada tempat lain?”
“Ada, Chechnya?”
“Di mana itu? Di dunia apa di akhirat?”
“Di dunia. Tapi bisa mengantarkan kita mulia dan bahagia di akhirat.”
“Aduh, lu kumat lagi ya?!! Baru kemarin lu waras dari berburu masjid.” Dia menempelkan tangannya di jidatku.
“Apaan sih?” kutepis tangannya.
“Tapi lu nggak panas….” Dia nyengir..hiih!!! anak satu ini emang tengil. Tapi ia temenku yang baik.

Sekarang sudah bulan Juli 1995. Awal bulan depan, Juli, segala hal yang berhubungan dengan sekolahku akan berakhir. Dan aku sedang mempertimbangkan ke mana aku akan pergi. Ada seorang teman yang akan pergi ke Afghanistan bersama ustadz Hamzah. Mereka akan pergi berjihad membentu pejuang Taliban. Tapi seorang ustadz yang lain menawarkan suatu tempat bernama Chechnya. Dan dua orang teman sepengajianku telah mendaftar.

Aku pernah minta izin pada ibu untuk ikut berjihad, beberapa hari yang lalu. Kujelaskan pada ibu kenapa jihad dan kenapa aku harus ikut. Dari sorot mata ibu dan bahasa tubuhnya, aku tahu ibu bisa memahami penjelasanku. Tapi ibu hanya diam, bersandar pada kursi dan kemudian air mata begitu deras mengalir di pipi ibu. Aku tidak mendesaknya…tapi tidak juga menyerah…

Chechnya adalah negeri yang jauh. Negeri yang nyaris tak pernah di dengar kaum muslimin beritanya. Chechnya adalah negeri yang jauh….jauh dari perhatian kaum muslimin di sini. Padahal, masuk pertengahan tahun 1995 ini telah setengah tahun mujahidin chechen-penduduk chechnya- mengangkat senjata. Pada 11 Desember 1994 Pasukan kufur Rusia masuk dan menyerang Chechnya untuk mencegah pemisahan dari negeri itu dari pemerintah Federasi Rusia. Masuk tahun 1995, Rusia telah berhasil menduduki kota Grozny setelah mematahkan perlawanan mujahidin Chechen, dalam perang yang sengit berkepanjangan.

Chechnya dan negara-negara Asia Tengah yang masuk dalam cengkeraman Federasi Rusia memang telah lama bergolak ingin melepaskan diri. Negeri-negeri itu dihuni oleh kaum muslimin yang menjadi penduduk mayoritas. Chechnya dan negara-negara Asia Tengah seperti Azerbaijan, Turkmenia, Uzbekistan, Kirzistan, Tajikistan dan sekitarnya adalah negeri-negeri yang memiliki populasi muslimdi atas 50%. Beberapa di antaranya bahkan berpenduduk muslim di atas 70%. Negeri-negeri itu adalah negeri yang subur. Berbagai bahan tambang tertanam di bumi yang telah lama menjadi bagian dari hegemoni Rusia itu. Hasil pertanian dan perkebunan melimpah.
Kekayaan alam ditambah berbagai instalasi militer yang tertanam di bumi kaum muslimin itu kini sedang dimanfaatkan oleh penduduknya untuk melepaskan diri, merdeka dari tindasan sosialis komunis Rusia. Dan itulah yang kini sedang terjadi di Chechnya, sebagaimana jihad juga berlangsung di Tajikistan sebelumnya.

Aku benar-benar berada dalam kebimbangan besar. Inilah hal terbesar yang harus kuputuskan sendiri. Aku, dalam usiaku yang delapan belas tahun adalah seorang pria dewasa dalam pandangan Islam. Taklif hukum berada di pundakku. Dosa dan pahala berada dalam kuasaku…apa yang kupilih untuk ku usahakan. Dan kaum muslimin …..jauuuuh di seberang lautan dari tempatku menghirup nafas dengan leluasa, sedang meminta bantuan dari saudara-saudara seiman. Dan di antara ratusan juta kaum muslimin yang bahkan tidak tahu di mana letak Chechnya di peta, aku adalah salah seorang yang tahu….dari penjelasan para ustadzku, bahwa Rusia bahkan telah bercokol di Grozny yang menjadi-setidaknya dianggap- ibu kota negeri itu.pasukan Rusia dengan tank-tank dan pesawat tempurnya telah memaksa penduduk sipil mengungsi pasukan Rusia merazia hampir setiap penduduk pria di manapun mereka bertemu…menangkap, menyiksa, dan bahkan membunuhnya.
Kenapa semua kenyataab itu belum mampu membantuku membuat sebuah keputusan?! Apa karena air mata ibu? Apa karena aku tak inginorang tuaku kehilangan satu lagi anak mereka? Apa karena aku takut kehilangan masa depan…..tapi bukankah masa depan yang sejati itu ridha Allah di syurga? Aku bergidik!! Apa sesungguhnya yang membuatku takut? Kenapa aku takut?! Bukankah kematian itu bisa datang kapan saja? Bahkan pada adikku, kematian itu begitu tiba-tiba dan menyentak…jadi kenapa aku tidak pergi….padahal aku tahu saudara-saudaraku sedang berjihad….sedang minta bantuan…..sedang kelaparan di tenda-tenda pengungsian…banyak muslimah Chechnya minta tolong karena mereka diperkosa!!….diperkosa!!!….tiba-tiba dadaku terasa sesak….napasku tersengal….kenapa aku tidak membantu? Kenapa aku harus merasakan siksaan rasa bersalah sekali lagi?!

^^^
“Akh Hisyam, tolong berikan surat ini pada ibu, aku tak sanggup melihat air matanya saat melihatku pergi. Sebulan ke depan…berikan surat ini pada beliau, aku rasa saat itu aku telah berada di sebuah kamp latihan mujahidin Chechen. Insya Allah.” Kuserahkan surat pesanku itu pada seorang kawan sepengajianku. Aku tak sanggup pamit langsung pada mereka.
“Doakan aku supaya bisa segera menyusul antum.” Dia memelukku erat.
“Insya Allah.”
Hari itu aku berangkat bersama Ustadz Umar. Seorang teman bisa mengurus dokumen perjalanan kami sebagai turis ke Turk. Kami pergi berdua, karena akan mencolok jika beramai-ramai. Dari Turki, seorang penghubung akan membawa kami ke Georgia. Dia seorang mujahid yang baru kembali dari jihad Tajikistan. Dia akan membawa kami masuk ke Chechnya lewat jalur darat dari Georgia. Menurut perhitungannya, itu yang paling mungkin bagi kami lalui meskipun mungkin akan memakan waktu lebih lama.
Perasaan deg-degan terus menghantui perasaanku sepanjang perjalanan. Seumur hidup, inilah pertama kali aku mengambil keputusan besar dan pergi begitu jauh. Meski sudah sekuat tenaga kuredam, tetap ada rasa was-was. Apalagi kami harus transit di Turki dulu untuk mengurus keberangkatan kami ke Georgia. Dua minggu tinggal di Turki, rasanya begitu lama, begitu menyiksa. Apalagi kami juga tertahan di Georgia beberapa hari. Wajah kami terlalu mencolok perbedaannya dengan penduduk negeri yang harus kami datangi, jadi pemandu kami harus ekstra hati-hati menyiasati perjalanan dan wilayah perbatasan. Bagaimanapun juga Chechnya bukanlah negeri tempat berwisata…yang memungkinkan segala rupa wajah keluar masuk dengan melenggang. Chechnya adalah medan perang…..di mana maut mengintai di setiap tarikan napas.
Perasaan lega tak terhingga adalah ketika kami diterima di sebuah kamp di luar kota Grozny. Pemandu kami segera menemui komandan kamp dan menjelaskan keberadaan dan tujuan kami, setidaknya itu yang tertangkap dalam pemahaman bahasa Arab-ku yang cekak.
Kamp ini terdiri dari semacam lapangan atau tanah terbuka di bagian depan. Banyak peralatan latihan militer seperti yang kulihat dari video-video sewaktu di Jakarta. Di bagian samping, ada papan-papan bergagang kayu yang kurasa adalah sasaran untuk latihan tembak. Beberapa barak berdiri setelah lapangan itu, untuk amar para kader mujahidin seperti kami. Aku tak bisa menghitung pasti jumlahnya, tapi kurasa sekitar 60 kader tinggal di sini. Mungkin jumlahnya memang tak pernah pasti, karena banyak kader yang sudah siap segera bertempur dan meninggalkan kamp ini. Sementara beberapa yang baru datang seperti kami. Di bagian samping barak ada sebuah perpustakaan yang berdampingan dengan sebuah pusat perawatan bagi mujahidin yang terluka semacam klinik kecil, karena terlalu kecil untuk disebut sebuah rumah sakit. Sebuah bangunan yang cukup besar ada di belakang deretan barak tersebut. Bangunan itu difungsikan sebagai masjid. Sedang di deretan paling belakan, dekat semak-semak ada sebuah gudang senjata kecil, sebuah lab yang juga kecil dan sebuah bangunan memanjang yang dijadikan sebagai dapur umum dan tempat makan. Kamar mandi sederhana berdiri berderat di sebelah bangunan dapur.

Aku melewati setiap detil latihan dengan sungguh-sungguh. Postur tubuhku yang lebih kecil dibanding mereka yang merupakan pemuda Chechen asli dan sekitarnya, membuatku harus berusaha lebih keras dalam setiap latihan fisik jika aku ingin mendapatkan hasil yang sama. Tapi dalam hal membidik sasaran, aku tidak berkecil hati. Seorang teman bahkan sempat memujiku, setidaknya itu menambah semangat dan membunuh rasa tidak sabarku menunggu diperbolehkan terjun langsung berjihad.
Bersama seorang pelatih, aku mempelajari berbagai macam senjata. Beliau seorang veteran mujahid Afghanistan. Pertama-tama kami belajar tentang berbagai macam senapan tangan. Kami belajar nama-nama senjata, amunisi jenis apa yang diperlukan, prosedur keselamatan saat menggunakannya, spesifikasi masing-masing senjata tersebut dan cara membersihkannya. Kami mempelajari semuanya sebelum diperbolehkan belajar menembak.
Aku menyimak dengan teliti setiap detilnya, sehingga aku cepat menghafalnya. Setelah itu kami belajar dengan senjata yang lebih besar dan berat. Ada senapan Uzi, yang didesain Uziel Gal pada tahun 1948. ada senapan militer Soviet yang bernama Degtyarev DP dan senapan yang biasa diselempangkan di pinggang bernama RPD, serta tentu saja Kalashnikov AK-47 yang legendaris dan favorit temuan Mikhail Kalashnikov. Ada senapan mesin otomatis bernama PK dan PKM. Kami juga menghabiskan berhari-hari untuk mempelajari senjata yang biasa dipasang tentara Rusia pada tiang kecil di tank mereka, namanya Dushka. Ada dua tipe Dushka; yaitu DshK dan DshKM 12,7. senjata itu sangat berat dan besar.
Setelah berbagai pistol dan senapan, kami beralih ke peluncur roket; RPG-7, RPG-181 dan RPG-22 yang sangat canggih. Dan terakhir, kami belajar tentang bahan peledak, ranjau dan berbagai teknik penyergapan. Semua harus kami pelajari dengan seksama dan secepat yang kami bisa. Karena medan jihad telah menunggu.

“Dhuarr!!” dentuman besar memekakkan telinga disusul dentuman-dentuman yang susul menyusul. Dua tank Rusia meledak diikuti api yang berkobar, sedang iring-iringan mobil dibelakangnya segera berbalik.
“Allahu Akbar!” Kami menghela napas lega. Sedari tadi kami diam membeku dibalik pepohonan menanti detik-detik keberhasilan operasi kami. Kami telah menanam bahan peledak dengan sistem PTD (Programmed Time Delay) yang kami tanam begitu kami dengar konvoi Rusia lewat. Kami menunggu dari tempat persembunyian beberapa ratus meter dari belokan jalan tempat kami menanam PTD untuk meledakkannya. Ini merupakan salah satu metode penyergapan kami yang cukup berhasil.
Setengah jam kemudian kami memeriksa bekas ledakan, nyaris tak ada yang tersisa. Ada empat atau lima tentara Rusia yang hancur, begitu hancur sehingga susah kami pastikan jumlahnya. Tak ada ghanimah…semua tinggal puing. Kami segera kembali ke markas karena mereka tentu akan segera kembali dengan ank-tank lain untuk mengambil mayat-mayat teman mereka.
Kurebahkan diri di matras tipis sesampai di markas, mengusir penat sebelum kami melapor kepada komandan. Kuurai kembali segala hal yang telah kami lakukan seharian ini, mencari celah kesalahan dan kekurangan. Untuk kembali menyusun rencana serangan dan menerima perintah selanjutnya dari komandan pasukan kami.
Dari hari ke hari pertempuran kian sengit. Dari hari ke hari pasukan Rusia kian biadab. Mereka sering mengadakan serangan dadakan ke sebuah wilayah atau desa, menangkap para pria, memperkosa para wanita dan gadis, menembak serampangan dan meninggalkan desa itu telah berasap di antara puing-puingnya. Dari hari ke hari gelombang pengungsi penduduk sipil, wanita dan anak-anak serta pria lanjut, semakin banyak. Mereka hanya membawa barang sekedarnya dan perbekalan yang minim. Mereka sering sudah kelaparan, bahkan sebelum sampai ke kamp-kamp pengungsian. Dari hari ke hari semakin banyak desa yang dibakar dan gedung yang hancur. Tetapi, dari hari ke hari juga semakin bertambah semangat para mujahidin dan makin banyak mujahidin yang datang membantu.

Kulihat di kamp-kamp latihan, banyak pemuda Dagestan, Uzbek, Tajikistan dan sekitarnya mulai datang untuk berlatih. Di antara pemuda-pemuda itu banyak yang kutaksir berumur antara 14 atau 15 tahun. Meskipun tinggi, postur mereka masih mirip anak-anak dibanding pria dewasa. Tapi sorot mata mereka tajam penuh semangat. Kesungguhan terpancar dari setiap gerak-gerik dan ucapan mereka. Mereka mempelajari segala hal begitu cepat…begitu menakjubkanku.

Hari ini kami akan mencegat iring-iringan pasukan Rusia yang akan membawa suplai bahan makanan dan amunisi dalam truk-truk besar mereka. Belum dapat diketahui berapa jumlah kendaraan dalam konvoi tersebut, tapi seorang informan mujahidin telah memberitahu rute yang kemungkinan besar akan mereka lalui. Kami tidak memasang bahan peledak…karena mengharapkan rampasan bahan makanan dan terutama amunisi. Segala hal kami rencanakan dengan cepat dan cermat.

Kami membawa AK-47, dua Duhka dan beberapa PKM. Di sebuah tikungan tajam menurun yang diapit pegunungan bersalju kami berpencar. Para pembawa Ak-47 dan PKM berpencar di bukit di kedua sisi jalan, mengintai dari balik semak dan pepohonan. Jika semua AK-47 dan PKM belum mampu melumpuhkan konvoi, maka di posisi paling ujung setelah jalanan menurun dua Dushka kami pasang di kedua sisi jalan. Begitulah rencananya dan kami menunggu.

Di kejauhan terlihat iring-iringan mobil dan truk. Satu mobil paling depan tiga truk mengiringi dan sebuah lagi mobil bak terbuka berisi personil tentara Rusia. Perasaan tegang menjalani sekujur tubuhku. Kupejamkan mata sekian detik untuk membaca bismillah. Semua telah siap dalam posisi masing-masing.

Serangan mendadak tentu saja menyentak mereka. Kurasa para sopir, terutama supir yang membawa suplai bahan makanan dan amunisi sedang berkonsentrasi pada jalan yang menikung tajam dan turun curam. Tapi bagaimanapun mereka adalah pasukan negara yang terlatih, jadi serangan balasan yang sengit segera mereka lancarkan. Tapi posisi kami dari atas, jadi lebih beruntung. Setelah beberapa menit baku tembak, aku melihat ledakan dahsyat pada mobil bak terbuka yang berisi personil yang terpelanting berhamburan ke segala arah. Ledakan itu pasti dari Dushka kami. Baku tembak masih berlangsung beberapa menit lagi sebelum konvoi itu kami lumpuhkan total. Kami membawa dua orang kawan yang syahid, Insya Allah, dan dua orang lagi yang terluka tembak. Segera mengambil alih sebuah mobil dan dua truk berisi bahan pangan, sebuah truk berisi berbagai macam senapan dan amunisi, dan itulah rampasan perang kami hari ini. Cukup banyak.

Beberapa hari ini aku tidak terlibat dalam operasi penyergapan. Kugunakan hari-hariku untuk belajar kembali beberapa teknik penyergapan dari buku manual dan teknik melarikan diri dari kepungan musuh. Tiba-tiba wakil komandan markasku datang dan berbicara berbisik kepadaku. Dia menyuruhku berganti pakaian dengan pakaian berwarna abu-abu. Setelah itu dia memberiku sebuah surat dan aku harus mengantarkan surat rahasia itu kepada seorang komandan dari sebuah markas mujahidin yang berjarak sekitar dua mil dari markas kami. Sebuah pistol diberikannya padaku dan segera kuselipkan di pinggang. Kuraih jaket dari gantungan dan kukenakan serapi mungkin. Setelah menerima intruksi dan kata sandi yang harus kuucapkan, aku berangkat. Meskipun merasa deg-degan, tapi aku bangga menerima tugas ini.

Kulalui jalan yang berbeda sepulang mengantar surat rahasia itu. Aku tak ingin ada yang mengenali dan membuntuti. Kupilih jalan melewati sebuah desa yang telah ditinggalkan sebagian penduduknya mengungsi. Desa ini masih berpenghuni karena masih ada asap mengepul dari beberapa cerobong asap di beberapa rumah yang kulewati. Tiba-tiba kupingku menangkap samar-samar suara jerit perempuan.seseorang nampaknya berusaha membekapnya karena suaranya kadang terdengar dan kadang tidak, seperti dibungkam dari belakang. Aku mencari sumber suara itu. Dikejauhan kulihat seseorang tentara Rusia mendorong-dorong seorang gadis Chechen berusia belasan tahun, mungkin 16 atau 17 tahun. Kedua tangan gadis itu terikat kebelakang. Seorang tentara mendekap bahu gadis itu dan mendorong-dorongnya agar mau berjalan. Sedang seorang tentara Rusia yang lain mengawal di belakang mereka dengan senjata yang dia acungkan ke kiri-ke kanan.

Tiba-tiba amarah yang luar biasa menjalari diriku. Darahku terasa mendidih dan gigi-gigiku terasa gemeretuk. Dua biadab Rusia itu tba-tiba menjelma sebagai dua bajingan yang berusaha memperkosa adikku. Aku bergidik!! Tapi di mataku biadab Rusia itu benar-benar berwajah bajingan-bajingan yang kulihat di kantor polisi waktu itu. Refleks aku mengikuti mereka dari kejauhan. Mereka berbelok dan memasuki sebuah rumah yang kurasa telah kosong ditinggal pemiliknya mengungsi. Setelah beberapa menit, aku menyusul dari samping rumah itu.

Dari dalam terdengar seorang biadab itu membentak-bentak gadis itu dan mengancamnya. Gadis itu menangis dan memohon. Kuraba-raba pistol dibalik bajuku, kucabut dan kukokang. Dengan pistol terkokang aku mendobrak pintu yang ternyata tidak terkunci. Besar juga nyali bajingan-bajingan ini. Seorang biadab mengacungkan senapan kutembak jidatnya. Aku lebih cepat sepersekian detik kurasa. Sementara bajingan satu lagi nyaris telanjang tergopoh-gopoh mencari pistolnya. Segera kutembak di dadanya…dua tembakan berhasil membuatnya roboh ke lantai.
Dengan isyarat, aku menyuruh gadis iu segera pergi. Tidak aman berlama-lama di sini. Kalau ada patroli Rusia bisa bahaya. Masih dengan wajah pucat dan gemetaran, gadis itu mengucapkan terima kasih….berkali-kali….lalu pergi. Kututup pintu rumah itu dan aku segera menyelinap di antara rumah-rumah penduduk. Perasaanku bercampur aduk, ada rasa deg-degan dan perasaan lega. Tiba-tiba perasaan bersalah yang menghunjam jiwaku selama ini tercerabut begitu saja. Tiba-tiba aku merasa seperti telah membunuh dua bajingan yang mencoba memperkosa adikku.
Perasaan bahagia dan lega merayapi sekujur tubuhku. Di bumi Chechnya….semua bebanku terangkat, lenyap. Beban yang sekian lama menghimpit itu terlepas, di Bumi Chechnya. Dan tiba-tiba…”Dharr!!” sebuah ledakan pecah di dadaku. Darah panas mengucur….kulihat di kejauhan dua orang tentara Rusia sedang menyeringai. Kuraba pistol di balik jaketku, dan sebuah letusan sekali lagi meletus di perutku. “Allah!” aku roboh….semuanya selesai sudah….bagiku!!.

*** ummu fauzi