Setiap doa akan didengar, tiap doa akan dikabulkan, bersyukurlah

Bersabar bukanlah sifat melainkan keputusan karena aku hanyalah seorang hamba...
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Desember 2011

Mengapa Hatimu Begitu Keras Dan Hidupmu Terasa Kacau?

Dunia, lagi- lagi dunia, mengeraskan hati bagi jiwa- jiwa yang lalai. Menundukkan ketegaran bagi pemegang iman yang lemah dan mengacaukan pikir manusia berhati gersang.
Episode selanjutnya, adalah kesempitan dada, hidup penuh dengan goncangan, dan tidak pernah merasakan ketenangan dan kedamaian sama sekali. Betapa kasihannya manusia seperti ini. Ibarat tenggelam dalam lautan luas tanpa batas, dia sama sekali tidak memiliki pegangan apapun, sampai akhirnya dia tenggelam dan... mati.
Tidaklah Allah memberikan hukuman yang lebih besar kepada seorang hamba selain dari kerasnya qalbu dan jauhnya dari Allah subhanahu wa ta'ala. Dan neraka adalah diciptakan untuk melunakkan hati yang keras.
Tengoklah betapa hati yang keras begitu sangat kering dan merongrong hidup manusia tersebut terus-menerus, sedang kegundahannya muncul terhadap segala sesuatu. Jiwanya pun terasa kosong, sehingga bagian tubuhnya yang lain ikut bercermin kepadanya.
Dengarkan lisannya. Dia bergerak tanpa berpikir. Bagai menyebar bulu keluar dijalan, sehingga dalam beberapa detik bulu- bulu itu hilang entah kemana. Ketika manusia tersebut berniat kembali untuk menemukan dan membersihkannya, hal itupun menjadi hal yang mustahil untuk dilakukan. Maka banyak tersakitilah hati- hati saudaranya karena ketajaman kata dari lidah yang tiada berdzikir. Lisan adalah anak kandung hati. Lisan mengikuti hati. Hati yang keras adalah hati yang kosong dari berbagai nasehat yang baik, dan akan menjadi buta karenanya. Dan bila seseorang telah buta hatinya maka ia akan semakin jauh dari cahaya Illahi.  
Begitulah gambaran jelas ketika kekerasan hati sudah terlanjur menancap dan akhirnya si manusia hanya menjadi budak dan bulan-bulanan nafsu, sedang setan sebagai pengemudinya. 
Naudzubillah...
Maka tidak adalah keraguan atas firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman Dalam Az Zumar 22 : "Maka celakalah bagi mereka yang keras qalbunya dari berdzikir kepada Allah. Mereka berada dalam kesesatan yang nyata."
Sungguh betapa betapa kasihan manusia- manusia itu......Tidaklah Allah memberikan hukuman yang lebih besar kepada seorang hamba selain dari kerasnya qalbu dan jauhnya dari Allah subhanahu wa ta'ala. Dan neraka adalah diciptakan untuk melunakkan hati yang keras...
Saudaraku...Dalam sendiri, jujurlah pada diri, apakah kau merasa jauh dari Allah? Jika ya, mungkin saja keadaan hatimu sudah sedemikian mengeras. Dan pantaslah jika kau bersedih, sebab hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang paling keras, dan jika hati sudah mengeras maka indrawi pun terasa gersang. Hatimu yang keras bisa saja ditimbulkan oleh empat hal yang dilakukan melebihi kebutuhan: makan, tidur, bicara, dan pergaulan.
Maka Berhentilah!...Sudahilah derita penyiksaan atas dirimu sendiri itu!Sudahilah semua kekacauan hidupmu yang diakibatkan kekerasan hatimu ini! Tidakkah kau kasihan melihat sampai seperti itu kau mendholimi dirimu sendiri?
Menyerahlah!...
Karena hanya Allah yang akan mengeyangkan batinmu dengan kebahagiaan.Bukankah itu yang selama ini kau cari?. Menyerahlah kepada sang Maha Rahman, sumber kebahagiaan sejatimu.
Kembalilah!...
Kembalilah untuk berkelana mengarungi makna-makna Kalamullah dan ayat-ayat-Nya yang nampak di pelupuk matamu, dan kau pun akan menuai hikmah-hikmah yang langka dan faedah-faedah yang indah. Jika hatimu senantiasa disuapi dzikir dan disirami dengan berfikir serta dibersihkan dari kerusakan, maka kau pasti akan melihat keajaiban dan diilhami hikmah.
Bukankah selama ini kaupun tumbuh dalam kasih sayang dan kelembutan Allah sang maha rahman, lalu mengapa kau tetap harus berkeras hati menyebarkan kekerasan dan kekasaran hati dan lisanmu kepada sesamamu? Tidakkah dapat kau rasakan kasih dari Tuhanmu?
Bukankah Allah juga mengkaruniakan akal kepada kita untuk menjadi manusia berhati lembut dan penuh kasih sayang? Lalu mengapa kau masih berkasar hati? ataukah sudah karena saking terlalu banyaknya dosa yang menutup sehingga cahaya hati terlalu susah untuk menyinari lagi?
Saudaraku...
Tidak setiap orang yang berhias dengan ilmu dan hikmah serta memeganginya akan hidup dalam kebaikan. Kecuali jika mereka menghidupkan qalbu dan mematikan hawa nafsunya. Adapun mereka yang membunuh hatinya dengan menghidupkan hawa nafsunya, maka tak akan muncul hikmah dari lisannya.
Dan siapapun yang ingin mensucikan hatinya maka ia harus mengutamakan Allah dibanding keinginan dan nafsu jiwanya. Kerapuhan hati kita adalah karena lalai dan merasa aman, sedang tenangnya batin adalah karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan dzikir. Maka tengoklah dan belajarlah dari sebuah hati yang merasa zuhud dari hidangan-hidangan kenikmatan dunia, dia akan duduk menghadap hidangan-hidangan akhirat. Sebaliknya jika ia ridha dengan hidangan-hidangan dunia, ia akan terlewatkan dari hidangan akhirat.
Siapapun, siapapun yang menempatkan hatinya disisi Rabb-nya, ia akan merasa tenang dan tentram. Dan siapapun yang melepaskan hatinya di antara manusia, ia akan semakin kacau dan gersang hatinya.
Ingatlah! Kecintaan terhadap Allah tidaklah akan masuk ke dalam hati yang teramat mencintai dunia kecuali seperti masuknya gajah ke lubang jarum.
...Kecintaan terhadap Allah tidaklah akan masuk ke dalam hati yang teramat mencintai dunia kecuali seperti masuknya gajah ke lubang jarum...
Hati kitapun bisa sakit seperti halnya badan yang bisa terluka. Dan obat dari semua itu adalah dengan bertaubat. Hati pun bisa tumpul dan berkarat, seperti benda yang di umbar begitu saja tanpa ada perhatian untuk mengurusnya. Dan cemerlangnya semua itu adalah dengan berdzikir. Hati bisa pula telanjang sebagaimana badan, dan pakaian keindahannya adalah taqwa. Hati pun bisa lapar dan dahaga sebagaimana badan, maka makanan dan minumannya adalah mengenal Allah subhanahu wa taala, cinta, tawakkal, bertaubat dan tunduk patuh hanya kepada Allah Subhanahu Wata'ala.
Saudaraku...
Betapapun kerasnya hidupmu sekarang, namun jagalah hatimu agar senantiasa lembut, mendamaikan dan menyejukkkan, paling tidak untuk dirimu sendiri dahulu. Ketahuilah, bahwa hanya orang yang baik yang akan selalu dekat dengan kebaikan, dan kebaikan akan selalu mendekatkan kepada rahmat dan keberuntungan.
Jika Allah Subhanahu wa Wa'ala cinta kepada seorang hamba, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memilih dia untuk diri-Nya sebagai tempat pemberian nikmat-nikmat-Nya, dan Ia akan memilihnya di antara hamba-hamba-Nya, sehingga hamba itu pun akan menyibukkan harapannya hanya kepada Allah. Hatinya senantiasa dengan berdzikir kepada-Nya, anggota badannya selalu dipakai untuk berkhidmat kepada-Nya.
Wahai jiwa.. tunduklah! Tunduklah kepada sang penguasa langit dan bumi, sang pemegang nyawa dan ubun- ubun manusia,sang penggerak dan pencipta jagad raya. Tunduklah dalam keikhlasan dan kepasrahan kepadaNya.
Wahai jiwa.. damailah! Damailah dalam kelembutan dan kebaikan sebagai cerminan rahmat dari sang maha Penyayang kepada hamba- hambanya yang senantiasa memenuhi celah kosong mereka dengan keagungan dan keperkasaanNya yang Abadi. Adalah mudah jika dengan klaim-klaim sepihak kita merasa dekat dengan Allah, tetapi apa kita mampu mencerminkan pribadi yang dekat dengan Allah lebih dari sekedar slogan belaka.
(Syahidah/Voa-islam.com)

Minggu, 30 Oktober 2011

Kuselesaikan semuanya di Chechnya



Kulihat arloji di tanganku, pukul sebelas lewat delapan. Aku bergegas menuju gerbang sekolah, berbaur dengan siswa lain yang keluar. Jum’at ini kuputuskan untuk sholat Jum’at di kawasan Kramat Raya. Untuk menghemat waktu kuputuskan tidak usah pulang dulu, aku mau jalan kaki aja. Tidak terlalu jauh dari sekolahku. Jalan Salemba dan Jalan Kramat Raya nyambung. Jum’at pekan lalu aku sholat Jum’at di masjid Arif Rahman Hakim UI. Sekarang aku memutuskan ke masjid di Jalan Kramat Raya.

Aku tidak ingat persis kapan kebiasaanku ini kumulai. Mungkin sekitar setahun terakhir ini. Suatu kebiasaan yang mungkin agak aneh untuk ukuran anak SMU sepertiku. Awalnya seorang teman abangku main ke rumah, Bang Arif namanya. Karena abangku-Bang Rahman- sedang mandi, aku keluar menemani Bang Arif duduk di teras. Kulihat dia membawa beberapa buku, diletakkan di meja di antara dua kursi teras yang kami duduki.

“Buku baru ya bang?” Tanyaku.
“Bukan…barusan abang ambil dari rumah teman. Buku lama kok.”
“Boleh liat bang?” Pintaku. Bang Arif menyodorkan buku-buku itu padaku. Aku membolak-balik sekilas buku-buku itu. Aku belum pernah melihat buku-buku sejenis ini, apalagi membacanya. Buku-buku itu karangan Syekh Abdullah Azzam, Syekh Sayyid Qutb dan Syekh Abu Muhammad Al-Maqdisiy.
“Kalau Rasyid tertarik…boleh pinjam semuanya kok.”
“Benar bang?! Sampai kapan?” Aku benar-benar tertarik.
“Nanti kalau ke sini lagi baru abang ambil.”

Aku membawa buku-buku itu masuk ke kamar. Kebetulan Bang Rahman sudah dandan rapi dan bersiap mengeluarkan motornya. Gak lama kemudian kudengar motor abangku telah melaju pergi. Abang akhir-akhir ini jarang di rumah. Kalaupun di rumah, dia lebih asyik di depan komputernya dari pada ngobrol, becanda atau nonton televisi bersama kami. Sepertinya ada yang berubah pada abangku ini, lebih jarang ecanda dan menjadi lebih serius. Cambang dan jenggotnya dibiarkan tumbuh memanjang. Jika berjalan….kalau aku perhatikan….dia selalu fokus pada satu titik, tidak mendongak dan tidak menunduk. Padahal tadinya, di antara kami lima bersaudara, dia yang paling usil. Meskipun paling tua, tapi paling tidak bisa diam. Selalu ada saja ulahnya….ngumpetin sepatu olahragaku sebelah, padahal aku sedang buru-buru. Di lain waktu dia menukar-nukar kaos kaki yang telah ku susun rapi, menaruh mainan berbentuk cicak dalam buku adikku…yang menyebabkan dia menjerit-jerit histeris khas cewek. Tapi belakangan dia berubah. Jangankan usil…becandapun jadi jarang. Teman-teman Bang Rahman yang datang ke rumah juga berubah. Kalau dulu teman Bang Rahman yang datang ke rumah bawa gitar dan banyak yang punya tato, sekarang lain. Semua teman baru Bang Rahman yang ke rumah berpakaian rapi, berbicara sangat sopan dan pelan serta berjenggot. Mereka sering membawa buku-buku, diktat, atau proposal kegiatan…tak jelas benar bagiku. Yang aku tahu, Bang Rahman telah berubah.

Pernah suatu ketika, selepas sholat Asar, dia memberi tahu aku cara sholat yang benar. Bagaimana posisi kakiku saat rukuk, bagaimana aku memusatkan pandangan, caraku berdo’a… hal-hal yang selama ini tak pernah kuperhatikan, khas cowok pelajar SMU..he….he…..he…., setidaknya itu pendapatku. Dan dia marah padaku, saat melihat aku dan teman-temanku bercanda sambil mengerjakan tugas sekolah di teras. Begitu temen-temenku pulang, dia memanggilku. Meskipun suaranya pelan tapi ada nada marah yang ditekan. Dia bilang aku telah kelewat batas. Dalam Islam pergaulan pria dan wanita itu diatur. Sangat ketat dan sangat rinci……..untuk menghormati wanita. Itu sebabnya ada aturan menundukkan pandangan, ada larangan berkhalwat, ada larangan membuka aurat…..
“Ini kamu!! Malah teplak-teplok….towal-towel…..sama anak perempuan seenaknya!!…. ” aku melongo. Rasanya semua yang kulakukan masih wajar sebatas bercandanya remaja, khas pelajar SMU, he..he…he… sekali lagi itu pendapatku.
Setelah kejadian itu, Bang Rahman menyarankan aku ikut rohis di sekolah. Awalnya aku enggan..tapi karena ibu ikut-ikutan mendesak, akhirnya aku masuk juga ke kegiatan rohis. Mula-mula sekedar duduk manyun dalam pengajian…..lama-lama aku mulai aktif bertanya dan berdiskusi…..lama-lama aku berubah. Kajian rohis telah memahamkan aku akan perilaku Islami, perbaikan ibadah sehari-hari dan bacaan Al-Qur’an-ku.
Meskipun aku merasa aku telah banyak berubah menjadi lebih baik….tapi masih ada yang kurang. Masih ada yang belum kutemukan. Diam-diam dalam benakku terpaku dalam sebuah pemahaman, ah bukan!! Tapatnya pertanyaan!! Sebuah pertanyaan bermula setelah aku membaca buku-buku yang dipinjamkan Bang Arif. Aku baru tahu dari buku “Pelita Yang Hilang” karya Syeikh Abdullah Azzam kalau Daulah khilafah Islam telah runtuh pada tahun 1924. aku tahu sepak terjang Mustafa Kamal Attaturk dan semua kebobrokan yang terjadi di negeri-negeri kaum muslimin setelah Daulah Utsmani runtuh. Selama ini aku cuma tahu kalau ini negara Republik dengan segala pernak-perniknya…..selebihnya aku tidak peduli. Ternyata Syeikh Maqdisy menjelaskan kesalahan demokrasi, kesalahan bentuk-bentuk dan sistem kenegaraan yang diterapkan di semua negeri kaum muslimin sekarang ini. Sekali lagi………selama ini yang kupahami, demokrasi itu sempurna karena semua bermula dari rakyat karena kedaulatan di tangan rakyat. Dan di antara pemahaman baru itu yang paling menarik perhatianku adalah buku berjudul “Perang Jihad di Zaman Modern” karya Syeikh Abdulla Azzam. Selama ini aku memahami bahwa satu-satunya hal yang akan menyempurnakan agama adalah pergi haji. Sering aku berkhayal bahwa aku akan pergi haji kelak….menjelang tua….gak usah buru-buru. Tapi aku terkesiap!!! Ternyata ada sebuah kewajiban yang begitu mulia…dan tak semua kaum muslimin muslimin memahami apalagi melaksanakannya. Buku itu menerangkan definisi jihad, niat dan tujuan jihad, jalan menuju jihad dan semua hal itu menyentak jiwaku. Buku itu bahkan sempat kubaca hingga tiga kali sebelum kukembalikan pada Bang Arif.

Tiba-tiba aku ingin mencari-cari dimana pemahaman seperti itu kudapatkan. Meski aku sudah aktif di rohis sekian bulan, belum aku temukan tanda-tanda aku akan bertemu pemahaman seperti dalam buku-buku yang kupinjam dari Bang Arif. Maka akupun mulai mencari dari berbagai pengajian dan tabligh akbar, tapi tidak juga kutemukan. Dan kini perburuanku mengarah pada berbagai khotbah Jum’at. Aku melakukan shalat Jum’at berpindah-pindah, dari satu masjid ke masjid lain. Kalau lagi punya duit, pulang sekolah aku langsung naik bis dan setelah beberapa kali berganti bis dan angkot aku turun dan shalat Jum’at di sebuah masjid di mana saja. Berbagai pengalaman lucu kutemui dalam perburuanku ini. Aku pernah dihardik seorang ta’mir di sebuah masjid di kawasan Rawasari. Masjid itu tampak megah dan masih terlihat sepi saat aku datang. Tapi kenapa aku gak boleh shalat di sana….belakangan ada temanku yang bilang, itu semacam masjid untuk sebuah kelompok tertentu dan tertutup bagi orang diluar kelompok mereka. Aneh! Itu yang terpikir olehku. Di saat yang lain aku pernah masuk ke masjid ketika khutbah nyaris selesai, soalnya kejauhan nyari masjidnya.dan bahkan aku pernah pulang jalan kaki karena aku lupa memperhitungkan ongkos di kantongku, beruntung di daerah dekat Senen aku bertemu seorang tetangga yang memberiku tumpangan pulang. Sayangnya sejauh ini belum ada tanda-tanda kutemukan apa yang kucari. Kalaupun ada khatib yang bersemangat berapi-rapi memaparkan memberantaskan kemungkaran tapi ujungnya bukan jihad seperti yang kucari.
“Rasyid!!….mau ke mana?” teman sekelasku yang bernama Adi berlari-ari menyusulku.
“Ke masjid, mau bareng?” Tanyaku.
“Lu gila ya?…semangat banget!!! Gak pulang dulu, makan kek…nyantai kek…nyantai dulu kek…. ” Adi mencibir.
“Tadi pas istirahat gua udah makan…jadi sekarang mau jalan nyantai aja ke masjidnya. Ngirit ongkos.”
“Lu lagi bokek ya?!!” ledeknya. Aku mengangguk masam.
Setelah kubujuk, mau juga dia ke masjid bersamaku. Kami jalan santai sambil mengobrol di sepanjang Jalan Salemba Raya kemudian berlanjut di Jalan Krama Raya, menyeberang di jembatan sebrang dan masuk halaman masjid di kawasan itu. Belum terlalu ramai, kamipun langsung mengambil wudhu dan shalat sunnah. Kusimak seluruh uraian khatib hingga khutbah berakhir….belum juga kutemukan apa yang aku cari.

^^^
Hampir setahun aku mencari, sudah puluhan masjid kudatangi…..sebagian besar di wilayah Jakarta pusat, tapi belum juga kutemui hasil. Sebenarnya di mana aku harus mencari….apa yang salah dengan pencarianku….siapa yang bisa membantu…..
Ketika semua pertanyaan itu muncul silih berganti, pencarianku pun berakhir dan berhasil. Tadinya aku berpikir…..kadang berandai-andai…..pencarianku akan berhenti pada sosok khatib dengan khotbah yang berapi-api penuh semangat atau pada sosok ulama’ besar muncul di sebuah tabligh akbar. ternyata tidak. Pencarianku berhenti pada seorang pria yang kutabrak tidak sengaja di sebuah toko. Ya! Seorang berumur awal tiga puluhanan, setidaknya itu tebakanku.

Sore itu aku pergi ke sebuah toko buku di kawasan Kwitang. Aku berniat membeli Al-Qur’an kecil dan beberapa buah buku jika uangku cukup. Alqur’an kecil bersampul hitam kupilih, terlihat mungil dan bagus. Uangku masih cukup untuk membeli dua-tiga buah buku. Jadi aku asik memilih-milih buku. Tiba-tiba aku tersadar, jika waktu hampir masuk maghrib. Aku membayar di kasir dan buru-buru keluar. Di pintu keluar aku menabrak seorang pria, yang aku rasa juga sedang terburu-buru. Buku yang dibawanya dalam kantong plastik terjatuh.

“Maaf…maaf pak. Saya tidak sengaja…saya…saya lagi buru-buru…” Aku bersungguh-sungguh minta maaf. Pria itu tersenyum tulus. Aduuh… leganya..
“Gak papa, kok. Adik mau kemana?” Pria itu membetulkan letak kaca matanya.
“Mau sholat ke masjid, habis itu pulang.”
“Kita sama-sama yuk.” Ajaknya. Aku mengikutinya ketika dia berjalan ke arah jalan di sebelah toko buku itu, berbelok masuk ke sana. Tadinya aku berpikir dia akan mengajak aku shalat di area toko buku itu.
“Aku tinggal dekat sini….” Suaranya memecah kebisuan. Oh ternyata itu alasannya.

Selepas shalat aku duduk di teras masjid. Sebagian jama’ah shalat terlihat beranjak pulang. Tiba-tiba pria tadi duduk di sebelahku. Tatapan matanya bersahabat.

“Adik tinggal di mana?” Tanyanya.
“Percetakan negara, pak.” Dan tiba-tiba kami merasa akrab…setidaknya itu perasaanku….dan terlibat obrolan santai. Ketika kutunjukkan buku-buku yang kubeli dia tampak kaget. Aku membeli buku-buku syeikh Abdullah Azzam dan Sayyid Quthb. Meskipun sebagian buku itu pernah kubaca saat kupinjam dari Bang Arif. Aku ingin punya sendiri, jadi kuputuskan untuk membeli. Ketika kujelaskan tentang pencarianku ke masjid-masjid setahun belakangan ini, dia tampak menyimak dengan sungguh-sungguh. Tadinya kupikir dia akan mentertawakan aku atau setidaknya tersenyum. Ternyata tidak. Pria itu begitu menyimak penuturanku, seperti tak ingin terlewat dalam setiap detilnya.

“Adik bersungguh-sungguh mencarinya. Tentu. Setahun bukan waktu yang pendek. Sepertinya aku bisa membantu.” Dia menulis pada selembar kertas kecil dan menyerahkannya padaku.
“Datanglah ke alamat ini minggu depan. Hari Ahad ba’da ashar.”
Aku menerima kertas itu dan berpamitan. Aku masih belum mengerti benar dengan maksud perkataanya “membantu”. Dia bahkan tidak berkomentar banyak atas ceritaku. Tapi aku akan berusaha datang ke alamat itu minggu depan dan melihat bagaimana dia membantuku.

^^^
Rumah di alamat ini mudah ditemukan. Terletak di gang dekat masjid tempat aku shalat magrib minggu lalu. Ketika kuketuk pintu dan kuucapkan salam, pria yang kutabrak di toko buku itu yang membukakan. Aku kaget, tapi senyumnya segera menetralisir kekagetanku.
“Masuklah….. ayo silakan.”
Itulah pertama kali aku berkunjung ke rumahnya, rumah ustadz Umar, begitu aku memanggilnya kemudian. Minggu-minggu berikutnya aku datang ke rumah ini rutin, bersama beberapa anak seumuranku. Dirumah Ustadz Umar, aku benar-benar menemukan apa yang kucari selama ini. Dari Ustadz Umar aku belajar tauhid yang lurus, tauhid Ahlussunnah wal-jama’ah sunnah wal jama’ah, aku memahami jihad dengan segala hal yang berhubungan dengannya. Kadang seorang yang menurutku tingkatannya lebih tinggi, mengisi pengajian kami. Biasanya sebulan sekali. Namanya Ustadz Hamzah.

^^^
Ujian kehidupan memang harus dihadapi setiap insan. Setiap tahap dengan ujiannya sendiri, agar diketahui siapa yang bersabar dan tidak, siapa yang bertawakkal dan tidak. Dan ujianku pun datang dari Sang Khaliq untuk mengetahui seberapa tebal imanku.
Sore itu aku sakit perut, mules banget. Sudah tiga-empat kali aku ke belakang. Tadi aku juga sudah minum obat yang kubeli di warung depan, tapi sakitnya belum berkurang juga. Sambil memegang perut yang terasa meremas-remas aku duduk di teras.
“Bang Rasyid, nanti jemput rahmi di rumah Nina ya, mau bikin tugas. Jangan lupa ya!.” Pinta Rahmi, adikku sambil membuka pintu pagar.
“Aduh ….Abang lagi sakit perut…bikin tugasnya di sini aja…” aku meringis menahan sakit.
“Gak bisa! Udah janji, abis maghrib ya…please! Da-da abang, Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam….” Jawabku lemas.
Habis shalat maghrib aku berbaring di sofa, badanku terasa lemas, meski mulas perutku sudah berkurang. Tiba-tiba aku tertidur…entah berapa lama. Aku tergeragap ketika ibu membangunkanku untuk makan.

“Astagfirullah…sekarang jam berapa bu?”
“Delapan lewat dikit….”
“Hah!! Rahmi aku lupa menjemputnya!!”
Aku kalang kabut…kupakai jaket…kusambar kunci motor bapak dari gantungan, bergegas kukeluarkan motor. Serba tergesa.
“Hati-hati, Rasyid. Jangan ngebut!”.
“Assalamualaikum….”
“Waalaikum salam.” Jawab ibu sambil menutup pintu. Sepanjang jalan kuperhatikan orang-orang yang lewat…kalau-kalau ketemu Rahmi. Tiba-tiba aku merasa khawatir yang luar biasa. Jantungku terasa deg-degan tak menentu. Seperti ada firasat buruk menyelinap. Aku bergidik. Belum pernah aku merasa secemas ini, entah kenapa. Kupacu motor, berbelok di jalan Matraman. Ketika kumatikan motor di depan rumah Nina sahabat adikku, rumahnya tampak tertutup dan sepi. Hatiku makin khawatir.
Dari Nina kuperoleh keterangan kalau Rahmi pulang terakhir, setelah yang lain pulang. Karena lama menunggu aku, dia memutuskan pulang sendiri. Sebenarnya Nina dan ibunya sudah menahan agar jangan pulang sendiri. “Gak jauh”, begitu alasannya. Dengan dada yang semakin berdebar-debar aku susuri jalan pulang, mencoba memutar lewat JL Prmauka, siapa tahu Rahmi lewat sini. Di depan Statiun Kramat kusempatkan telpon ke rumah, menanyakan apa adikku sudah sampe ibu bilang belum. Aku makin berdebar-debar.
Sampai rumah semua panik. Kuhubungi lewat telpon temen-temen yang tadi mengerjakan tugas bersama. Tidak ada yang tahu. Mereka bilang, tadi mereka pulang duluan. Ya!! Aku sudah tahu. Semua karena aku terlalu panik tidak tentu mau buat apa.
Malam itu pencarian kami lakukan, dibantu aparat dan para tetangga. Semua jalan yang mungkin dilalui adikku kami susuri. Menjelang dini hari pencarian membawa hasil…hasil yang membuat aku terduduk lemas dan ibuku pingsan. Adikku telah meninggal…tergeletak berlumuran darah di sebuah kebun kosong. Ada dua luka tusukan menganga di perutnya. Darah membasahi baju dan kerudungnya. Badanku lemas gemetaran. Aku begitu syok..kenapa jadi begini….adikku….adikku yang malang….

^^^
Seminggu kemudian, kedua bajingan itu tertangkap. Dari mulut mereka mengakir pengakuan, bahwa malam itu dia melihat adikku berjalan sendirian. Jalanan cukup sepi karena langit mendung menggantung. Tiba-tiba bujukan setan halus merasuki setan-setan kasar itu. Mereka membekap dan menyeret adikku ke sebuah kebun kosong hendak memperkosanya. Karena adikku terus meronta-ronta dan menendang-nendang, dua bajingan itu kewalahan. Takut ketahuan orang yang lewat di jalan setapak pinggir kebun kosong itu, maka salah seorang menusuk adikku. Dan dua tusukan telah menghentikan perlawanan adikku.
Perasaan geram dan amarah luar biasa merasuki hatiku. Gigiku gemeretuk menahan marah. Sayang, setiap aku ingin menghajar….menendang…atau apa saja, tanganku selalu dipegang erat oleh para polisi. Terbayang, bagaimana tubuh mungil adikku berjuang dalam bekapan dua bajingan itu. Bagaimana adikku berjuang mempertahankan kehormatannya. Terbayang…bagaimana adikku tergeletak bersimbah darah….sendiri…hingga nafas terakhir terhembus. Ada perasan bersalah yang menghempas-hempas jiwaku. Ada sembilu mengiris-iris hatiku…seandainya aku menjemputnya tepat waktu…seandainya aku tidak tertidur…..seribu seandainya menyesaki rasa bersalahku. Bahkan hingga kini….
Tidak ada yang menyalahkan aku atas peristiwa itu. Tidak ibuku…bapakku pun nggak. Mereka kini bahkan sudah ikhlas menerimanya sebagai takdir Allah SWT dan begitulah adikku diambil Pemiliknya. Tapi tidak denganku. Semakin mencoba menerima kenyataan, semakin besar rasa bersalah menghunjam.

^^^

Hari ini Ujian Nasional terakhir. Masa SMA-ku akan segera usai. Tidak ada yang kurasa istimewa, semua datar dan terasa hampa. Meskipun obrolan-obrolan tentang kelulusan, nilai NEM atau daftar ke peguruan tinggi mulai semriwing mampir kek uping, aku tidak tertarik. Banyak teman-teman yang deg-degan menunggu kelulusan, banyak yang mulai asyik memilih-milih tempat kuliah.
“Hai sohib!! Lu mau kuliah di mana?” Adi sudah duduk di sebelahku, di pinggir lapangan sekolah.
“Afghanistan,” Jawabku serius.
“Lu gila kali!! Ga ada tempat lain?”
“Ada, Chechnya?”
“Di mana itu? Di dunia apa di akhirat?”
“Di dunia. Tapi bisa mengantarkan kita mulia dan bahagia di akhirat.”
“Aduh, lu kumat lagi ya?!! Baru kemarin lu waras dari berburu masjid.” Dia menempelkan tangannya di jidatku.
“Apaan sih?” kutepis tangannya.
“Tapi lu nggak panas….” Dia nyengir..hiih!!! anak satu ini emang tengil. Tapi ia temenku yang baik.

Sekarang sudah bulan Juli 1995. Awal bulan depan, Juli, segala hal yang berhubungan dengan sekolahku akan berakhir. Dan aku sedang mempertimbangkan ke mana aku akan pergi. Ada seorang teman yang akan pergi ke Afghanistan bersama ustadz Hamzah. Mereka akan pergi berjihad membentu pejuang Taliban. Tapi seorang ustadz yang lain menawarkan suatu tempat bernama Chechnya. Dan dua orang teman sepengajianku telah mendaftar.

Aku pernah minta izin pada ibu untuk ikut berjihad, beberapa hari yang lalu. Kujelaskan pada ibu kenapa jihad dan kenapa aku harus ikut. Dari sorot mata ibu dan bahasa tubuhnya, aku tahu ibu bisa memahami penjelasanku. Tapi ibu hanya diam, bersandar pada kursi dan kemudian air mata begitu deras mengalir di pipi ibu. Aku tidak mendesaknya…tapi tidak juga menyerah…

Chechnya adalah negeri yang jauh. Negeri yang nyaris tak pernah di dengar kaum muslimin beritanya. Chechnya adalah negeri yang jauh….jauh dari perhatian kaum muslimin di sini. Padahal, masuk pertengahan tahun 1995 ini telah setengah tahun mujahidin chechen-penduduk chechnya- mengangkat senjata. Pada 11 Desember 1994 Pasukan kufur Rusia masuk dan menyerang Chechnya untuk mencegah pemisahan dari negeri itu dari pemerintah Federasi Rusia. Masuk tahun 1995, Rusia telah berhasil menduduki kota Grozny setelah mematahkan perlawanan mujahidin Chechen, dalam perang yang sengit berkepanjangan.

Chechnya dan negara-negara Asia Tengah yang masuk dalam cengkeraman Federasi Rusia memang telah lama bergolak ingin melepaskan diri. Negeri-negeri itu dihuni oleh kaum muslimin yang menjadi penduduk mayoritas. Chechnya dan negara-negara Asia Tengah seperti Azerbaijan, Turkmenia, Uzbekistan, Kirzistan, Tajikistan dan sekitarnya adalah negeri-negeri yang memiliki populasi muslimdi atas 50%. Beberapa di antaranya bahkan berpenduduk muslim di atas 70%. Negeri-negeri itu adalah negeri yang subur. Berbagai bahan tambang tertanam di bumi yang telah lama menjadi bagian dari hegemoni Rusia itu. Hasil pertanian dan perkebunan melimpah.
Kekayaan alam ditambah berbagai instalasi militer yang tertanam di bumi kaum muslimin itu kini sedang dimanfaatkan oleh penduduknya untuk melepaskan diri, merdeka dari tindasan sosialis komunis Rusia. Dan itulah yang kini sedang terjadi di Chechnya, sebagaimana jihad juga berlangsung di Tajikistan sebelumnya.

Aku benar-benar berada dalam kebimbangan besar. Inilah hal terbesar yang harus kuputuskan sendiri. Aku, dalam usiaku yang delapan belas tahun adalah seorang pria dewasa dalam pandangan Islam. Taklif hukum berada di pundakku. Dosa dan pahala berada dalam kuasaku…apa yang kupilih untuk ku usahakan. Dan kaum muslimin …..jauuuuh di seberang lautan dari tempatku menghirup nafas dengan leluasa, sedang meminta bantuan dari saudara-saudara seiman. Dan di antara ratusan juta kaum muslimin yang bahkan tidak tahu di mana letak Chechnya di peta, aku adalah salah seorang yang tahu….dari penjelasan para ustadzku, bahwa Rusia bahkan telah bercokol di Grozny yang menjadi-setidaknya dianggap- ibu kota negeri itu.pasukan Rusia dengan tank-tank dan pesawat tempurnya telah memaksa penduduk sipil mengungsi pasukan Rusia merazia hampir setiap penduduk pria di manapun mereka bertemu…menangkap, menyiksa, dan bahkan membunuhnya.
Kenapa semua kenyataab itu belum mampu membantuku membuat sebuah keputusan?! Apa karena air mata ibu? Apa karena aku tak inginorang tuaku kehilangan satu lagi anak mereka? Apa karena aku takut kehilangan masa depan…..tapi bukankah masa depan yang sejati itu ridha Allah di syurga? Aku bergidik!! Apa sesungguhnya yang membuatku takut? Kenapa aku takut?! Bukankah kematian itu bisa datang kapan saja? Bahkan pada adikku, kematian itu begitu tiba-tiba dan menyentak…jadi kenapa aku tidak pergi….padahal aku tahu saudara-saudaraku sedang berjihad….sedang minta bantuan…..sedang kelaparan di tenda-tenda pengungsian…banyak muslimah Chechnya minta tolong karena mereka diperkosa!!….diperkosa!!!….tiba-tiba dadaku terasa sesak….napasku tersengal….kenapa aku tidak membantu? Kenapa aku harus merasakan siksaan rasa bersalah sekali lagi?!

^^^
“Akh Hisyam, tolong berikan surat ini pada ibu, aku tak sanggup melihat air matanya saat melihatku pergi. Sebulan ke depan…berikan surat ini pada beliau, aku rasa saat itu aku telah berada di sebuah kamp latihan mujahidin Chechen. Insya Allah.” Kuserahkan surat pesanku itu pada seorang kawan sepengajianku. Aku tak sanggup pamit langsung pada mereka.
“Doakan aku supaya bisa segera menyusul antum.” Dia memelukku erat.
“Insya Allah.”
Hari itu aku berangkat bersama Ustadz Umar. Seorang teman bisa mengurus dokumen perjalanan kami sebagai turis ke Turk. Kami pergi berdua, karena akan mencolok jika beramai-ramai. Dari Turki, seorang penghubung akan membawa kami ke Georgia. Dia seorang mujahid yang baru kembali dari jihad Tajikistan. Dia akan membawa kami masuk ke Chechnya lewat jalur darat dari Georgia. Menurut perhitungannya, itu yang paling mungkin bagi kami lalui meskipun mungkin akan memakan waktu lebih lama.
Perasaan deg-degan terus menghantui perasaanku sepanjang perjalanan. Seumur hidup, inilah pertama kali aku mengambil keputusan besar dan pergi begitu jauh. Meski sudah sekuat tenaga kuredam, tetap ada rasa was-was. Apalagi kami harus transit di Turki dulu untuk mengurus keberangkatan kami ke Georgia. Dua minggu tinggal di Turki, rasanya begitu lama, begitu menyiksa. Apalagi kami juga tertahan di Georgia beberapa hari. Wajah kami terlalu mencolok perbedaannya dengan penduduk negeri yang harus kami datangi, jadi pemandu kami harus ekstra hati-hati menyiasati perjalanan dan wilayah perbatasan. Bagaimanapun juga Chechnya bukanlah negeri tempat berwisata…yang memungkinkan segala rupa wajah keluar masuk dengan melenggang. Chechnya adalah medan perang…..di mana maut mengintai di setiap tarikan napas.
Perasaan lega tak terhingga adalah ketika kami diterima di sebuah kamp di luar kota Grozny. Pemandu kami segera menemui komandan kamp dan menjelaskan keberadaan dan tujuan kami, setidaknya itu yang tertangkap dalam pemahaman bahasa Arab-ku yang cekak.
Kamp ini terdiri dari semacam lapangan atau tanah terbuka di bagian depan. Banyak peralatan latihan militer seperti yang kulihat dari video-video sewaktu di Jakarta. Di bagian samping, ada papan-papan bergagang kayu yang kurasa adalah sasaran untuk latihan tembak. Beberapa barak berdiri setelah lapangan itu, untuk amar para kader mujahidin seperti kami. Aku tak bisa menghitung pasti jumlahnya, tapi kurasa sekitar 60 kader tinggal di sini. Mungkin jumlahnya memang tak pernah pasti, karena banyak kader yang sudah siap segera bertempur dan meninggalkan kamp ini. Sementara beberapa yang baru datang seperti kami. Di bagian samping barak ada sebuah perpustakaan yang berdampingan dengan sebuah pusat perawatan bagi mujahidin yang terluka semacam klinik kecil, karena terlalu kecil untuk disebut sebuah rumah sakit. Sebuah bangunan yang cukup besar ada di belakang deretan barak tersebut. Bangunan itu difungsikan sebagai masjid. Sedang di deretan paling belakan, dekat semak-semak ada sebuah gudang senjata kecil, sebuah lab yang juga kecil dan sebuah bangunan memanjang yang dijadikan sebagai dapur umum dan tempat makan. Kamar mandi sederhana berdiri berderat di sebelah bangunan dapur.

Aku melewati setiap detil latihan dengan sungguh-sungguh. Postur tubuhku yang lebih kecil dibanding mereka yang merupakan pemuda Chechen asli dan sekitarnya, membuatku harus berusaha lebih keras dalam setiap latihan fisik jika aku ingin mendapatkan hasil yang sama. Tapi dalam hal membidik sasaran, aku tidak berkecil hati. Seorang teman bahkan sempat memujiku, setidaknya itu menambah semangat dan membunuh rasa tidak sabarku menunggu diperbolehkan terjun langsung berjihad.
Bersama seorang pelatih, aku mempelajari berbagai macam senjata. Beliau seorang veteran mujahid Afghanistan. Pertama-tama kami belajar tentang berbagai macam senapan tangan. Kami belajar nama-nama senjata, amunisi jenis apa yang diperlukan, prosedur keselamatan saat menggunakannya, spesifikasi masing-masing senjata tersebut dan cara membersihkannya. Kami mempelajari semuanya sebelum diperbolehkan belajar menembak.
Aku menyimak dengan teliti setiap detilnya, sehingga aku cepat menghafalnya. Setelah itu kami belajar dengan senjata yang lebih besar dan berat. Ada senapan Uzi, yang didesain Uziel Gal pada tahun 1948. ada senapan militer Soviet yang bernama Degtyarev DP dan senapan yang biasa diselempangkan di pinggang bernama RPD, serta tentu saja Kalashnikov AK-47 yang legendaris dan favorit temuan Mikhail Kalashnikov. Ada senapan mesin otomatis bernama PK dan PKM. Kami juga menghabiskan berhari-hari untuk mempelajari senjata yang biasa dipasang tentara Rusia pada tiang kecil di tank mereka, namanya Dushka. Ada dua tipe Dushka; yaitu DshK dan DshKM 12,7. senjata itu sangat berat dan besar.
Setelah berbagai pistol dan senapan, kami beralih ke peluncur roket; RPG-7, RPG-181 dan RPG-22 yang sangat canggih. Dan terakhir, kami belajar tentang bahan peledak, ranjau dan berbagai teknik penyergapan. Semua harus kami pelajari dengan seksama dan secepat yang kami bisa. Karena medan jihad telah menunggu.

“Dhuarr!!” dentuman besar memekakkan telinga disusul dentuman-dentuman yang susul menyusul. Dua tank Rusia meledak diikuti api yang berkobar, sedang iring-iringan mobil dibelakangnya segera berbalik.
“Allahu Akbar!” Kami menghela napas lega. Sedari tadi kami diam membeku dibalik pepohonan menanti detik-detik keberhasilan operasi kami. Kami telah menanam bahan peledak dengan sistem PTD (Programmed Time Delay) yang kami tanam begitu kami dengar konvoi Rusia lewat. Kami menunggu dari tempat persembunyian beberapa ratus meter dari belokan jalan tempat kami menanam PTD untuk meledakkannya. Ini merupakan salah satu metode penyergapan kami yang cukup berhasil.
Setengah jam kemudian kami memeriksa bekas ledakan, nyaris tak ada yang tersisa. Ada empat atau lima tentara Rusia yang hancur, begitu hancur sehingga susah kami pastikan jumlahnya. Tak ada ghanimah…semua tinggal puing. Kami segera kembali ke markas karena mereka tentu akan segera kembali dengan ank-tank lain untuk mengambil mayat-mayat teman mereka.
Kurebahkan diri di matras tipis sesampai di markas, mengusir penat sebelum kami melapor kepada komandan. Kuurai kembali segala hal yang telah kami lakukan seharian ini, mencari celah kesalahan dan kekurangan. Untuk kembali menyusun rencana serangan dan menerima perintah selanjutnya dari komandan pasukan kami.
Dari hari ke hari pertempuran kian sengit. Dari hari ke hari pasukan Rusia kian biadab. Mereka sering mengadakan serangan dadakan ke sebuah wilayah atau desa, menangkap para pria, memperkosa para wanita dan gadis, menembak serampangan dan meninggalkan desa itu telah berasap di antara puing-puingnya. Dari hari ke hari gelombang pengungsi penduduk sipil, wanita dan anak-anak serta pria lanjut, semakin banyak. Mereka hanya membawa barang sekedarnya dan perbekalan yang minim. Mereka sering sudah kelaparan, bahkan sebelum sampai ke kamp-kamp pengungsian. Dari hari ke hari semakin banyak desa yang dibakar dan gedung yang hancur. Tetapi, dari hari ke hari juga semakin bertambah semangat para mujahidin dan makin banyak mujahidin yang datang membantu.

Kulihat di kamp-kamp latihan, banyak pemuda Dagestan, Uzbek, Tajikistan dan sekitarnya mulai datang untuk berlatih. Di antara pemuda-pemuda itu banyak yang kutaksir berumur antara 14 atau 15 tahun. Meskipun tinggi, postur mereka masih mirip anak-anak dibanding pria dewasa. Tapi sorot mata mereka tajam penuh semangat. Kesungguhan terpancar dari setiap gerak-gerik dan ucapan mereka. Mereka mempelajari segala hal begitu cepat…begitu menakjubkanku.

Hari ini kami akan mencegat iring-iringan pasukan Rusia yang akan membawa suplai bahan makanan dan amunisi dalam truk-truk besar mereka. Belum dapat diketahui berapa jumlah kendaraan dalam konvoi tersebut, tapi seorang informan mujahidin telah memberitahu rute yang kemungkinan besar akan mereka lalui. Kami tidak memasang bahan peledak…karena mengharapkan rampasan bahan makanan dan terutama amunisi. Segala hal kami rencanakan dengan cepat dan cermat.

Kami membawa AK-47, dua Duhka dan beberapa PKM. Di sebuah tikungan tajam menurun yang diapit pegunungan bersalju kami berpencar. Para pembawa Ak-47 dan PKM berpencar di bukit di kedua sisi jalan, mengintai dari balik semak dan pepohonan. Jika semua AK-47 dan PKM belum mampu melumpuhkan konvoi, maka di posisi paling ujung setelah jalanan menurun dua Dushka kami pasang di kedua sisi jalan. Begitulah rencananya dan kami menunggu.

Di kejauhan terlihat iring-iringan mobil dan truk. Satu mobil paling depan tiga truk mengiringi dan sebuah lagi mobil bak terbuka berisi personil tentara Rusia. Perasaan tegang menjalani sekujur tubuhku. Kupejamkan mata sekian detik untuk membaca bismillah. Semua telah siap dalam posisi masing-masing.

Serangan mendadak tentu saja menyentak mereka. Kurasa para sopir, terutama supir yang membawa suplai bahan makanan dan amunisi sedang berkonsentrasi pada jalan yang menikung tajam dan turun curam. Tapi bagaimanapun mereka adalah pasukan negara yang terlatih, jadi serangan balasan yang sengit segera mereka lancarkan. Tapi posisi kami dari atas, jadi lebih beruntung. Setelah beberapa menit baku tembak, aku melihat ledakan dahsyat pada mobil bak terbuka yang berisi personil yang terpelanting berhamburan ke segala arah. Ledakan itu pasti dari Dushka kami. Baku tembak masih berlangsung beberapa menit lagi sebelum konvoi itu kami lumpuhkan total. Kami membawa dua orang kawan yang syahid, Insya Allah, dan dua orang lagi yang terluka tembak. Segera mengambil alih sebuah mobil dan dua truk berisi bahan pangan, sebuah truk berisi berbagai macam senapan dan amunisi, dan itulah rampasan perang kami hari ini. Cukup banyak.

Beberapa hari ini aku tidak terlibat dalam operasi penyergapan. Kugunakan hari-hariku untuk belajar kembali beberapa teknik penyergapan dari buku manual dan teknik melarikan diri dari kepungan musuh. Tiba-tiba wakil komandan markasku datang dan berbicara berbisik kepadaku. Dia menyuruhku berganti pakaian dengan pakaian berwarna abu-abu. Setelah itu dia memberiku sebuah surat dan aku harus mengantarkan surat rahasia itu kepada seorang komandan dari sebuah markas mujahidin yang berjarak sekitar dua mil dari markas kami. Sebuah pistol diberikannya padaku dan segera kuselipkan di pinggang. Kuraih jaket dari gantungan dan kukenakan serapi mungkin. Setelah menerima intruksi dan kata sandi yang harus kuucapkan, aku berangkat. Meskipun merasa deg-degan, tapi aku bangga menerima tugas ini.

Kulalui jalan yang berbeda sepulang mengantar surat rahasia itu. Aku tak ingin ada yang mengenali dan membuntuti. Kupilih jalan melewati sebuah desa yang telah ditinggalkan sebagian penduduknya mengungsi. Desa ini masih berpenghuni karena masih ada asap mengepul dari beberapa cerobong asap di beberapa rumah yang kulewati. Tiba-tiba kupingku menangkap samar-samar suara jerit perempuan.seseorang nampaknya berusaha membekapnya karena suaranya kadang terdengar dan kadang tidak, seperti dibungkam dari belakang. Aku mencari sumber suara itu. Dikejauhan kulihat seseorang tentara Rusia mendorong-dorong seorang gadis Chechen berusia belasan tahun, mungkin 16 atau 17 tahun. Kedua tangan gadis itu terikat kebelakang. Seorang tentara mendekap bahu gadis itu dan mendorong-dorongnya agar mau berjalan. Sedang seorang tentara Rusia yang lain mengawal di belakang mereka dengan senjata yang dia acungkan ke kiri-ke kanan.

Tiba-tiba amarah yang luar biasa menjalari diriku. Darahku terasa mendidih dan gigi-gigiku terasa gemeretuk. Dua biadab Rusia itu tba-tiba menjelma sebagai dua bajingan yang berusaha memperkosa adikku. Aku bergidik!! Tapi di mataku biadab Rusia itu benar-benar berwajah bajingan-bajingan yang kulihat di kantor polisi waktu itu. Refleks aku mengikuti mereka dari kejauhan. Mereka berbelok dan memasuki sebuah rumah yang kurasa telah kosong ditinggal pemiliknya mengungsi. Setelah beberapa menit, aku menyusul dari samping rumah itu.

Dari dalam terdengar seorang biadab itu membentak-bentak gadis itu dan mengancamnya. Gadis itu menangis dan memohon. Kuraba-raba pistol dibalik bajuku, kucabut dan kukokang. Dengan pistol terkokang aku mendobrak pintu yang ternyata tidak terkunci. Besar juga nyali bajingan-bajingan ini. Seorang biadab mengacungkan senapan kutembak jidatnya. Aku lebih cepat sepersekian detik kurasa. Sementara bajingan satu lagi nyaris telanjang tergopoh-gopoh mencari pistolnya. Segera kutembak di dadanya…dua tembakan berhasil membuatnya roboh ke lantai.
Dengan isyarat, aku menyuruh gadis iu segera pergi. Tidak aman berlama-lama di sini. Kalau ada patroli Rusia bisa bahaya. Masih dengan wajah pucat dan gemetaran, gadis itu mengucapkan terima kasih….berkali-kali….lalu pergi. Kututup pintu rumah itu dan aku segera menyelinap di antara rumah-rumah penduduk. Perasaanku bercampur aduk, ada rasa deg-degan dan perasaan lega. Tiba-tiba perasaan bersalah yang menghunjam jiwaku selama ini tercerabut begitu saja. Tiba-tiba aku merasa seperti telah membunuh dua bajingan yang mencoba memperkosa adikku.
Perasaan bahagia dan lega merayapi sekujur tubuhku. Di bumi Chechnya….semua bebanku terangkat, lenyap. Beban yang sekian lama menghimpit itu terlepas, di Bumi Chechnya. Dan tiba-tiba…”Dharr!!” sebuah ledakan pecah di dadaku. Darah panas mengucur….kulihat di kejauhan dua orang tentara Rusia sedang menyeringai. Kuraba pistol di balik jaketku, dan sebuah letusan sekali lagi meletus di perutku. “Allah!” aku roboh….semuanya selesai sudah….bagiku!!.

*** ummu fauzi

Tampil lebih besar dari ukuran kemanusiannya


Betapa banyak orang yang terpenjara dalam sempitnya sangkar hati yang begitu sangat membelenggunya. Sedangkan kunci untuk memerdekakan hidup dan batinya tersebut hanyalah dengan ikhlas. Namun keadaannya masih juga belum berubah. Semua karena keengganan atau rasa separoh hati yang menuruti perhitungan untung rugi yang dikatakan logikanya. Maka ditangguhkannya kemerdekaan jiwanya tersebut dan dinikmatinya kesakitan yang berkepanjangan. Jika semua sudah sampai pada titik puncak, sayang sekali bahwa dia lalu melanjutkan kemarahan dan penghujatan tiada henti kepada Allah, karena merasa telah didholiminya. Tidak, sama sekali tidak, Allah adalah sang maha penyayang atas hambaNya.
Sejenak lihatlah betapa telah jelas terbukti bahwa alangkah kerugian dan kesempitan yang menyita batin manusia jika dia tidak mau atau tidak mau tahu tentang keberadaan aturan tuhannya. Dan betapa pandai manusia ketika dia dapat menghebatkan batinnya untuk tertuntun dalam keteduhan jalan Allah. 
Salah satu nilai kehebatan itu terkandung dalam Ikhlas. Bukan hanya kesediaannya menyerahkan jiwa kepada tuntunan kehendak Allah, namun ikhlas adalah tentang memohon untuk yang terbaik,berusaha untuk hasil terbaik sampai batas akhir sebuah kekuatan yang kemudian hasilnya kita terima dengan penuh syukur,dan atau kemudian lebih berusaha lagi demi yang lebih baik.
Jiwa yang ikhlas tidak terlalu cerewet bertanya tentang keberlakuan takdir Allah atasnya, melainkan jiwanya berkata bahwa Allah yang paling tahu atas kebutuhan hidupnya. Dibesarkannya pemikiran positif atas sang maha pengatur hidupnya itu, karena kepastian diberikan dan dipenuhinya kepentingan atas hidup dan keberlangsungannya.
Jiwa yang ikhlas tidak akan berhenti hanya bertanya, tanpa bersungguh-sungguh mencoba. Dipertebal rasa malunya untuk memerintah sang maha kuasa guna mengharuskan mudahnya kebaikan itu datang baginya, sebelum dia ikhlas berupaya.
Jiwa yang ikhlas akan menghentikan rengekan atas permintaan jaminan penghargaan oleh para makhluk ataupun dari penciptanya, karena kuatnya keyakinannya bahwa kebaikan adalah jaminan kepastian bagi yang ikhlas.
Jiwa yang ikhlas tidak akan gampang menyalahkan Allah atas kelemahan dan kealpaannya. matanya akan melihat dan kemudian berpikir bahwa ternyata banyak orang lain yang tidak sekuat dia namun akhirnya lebih berhasil dari padanya karena keikhlasannya.
Jiwa-jiwa yang ikhlas menyadari dan mengakui serta menetapkan hati bahwa Allah subahanahu wata'ala adalah maha dalam segalanya. Sungguh, ketetapan itu tidak diterimanya kecuali dengan damai.diperkuatnya kesungguhan,maka batinnya akan berkata bahwa Allah yang akan menghebatkan sekecil-kecil kekuatan,untuk merampungkan sebesar-besar tugas dan kepentingan hidupnya.
Lihatlah, jiwa-jiwa yang ikhlas terlihat tampil lebih besar dari ukuran kemanusiannya. Sendirian dia bisa melakukan tugas dari seribu orang. Dia melihat yang tiada mampu dilihat manusia lain, dan dia dapat mendengar atas sesuatu yang tak tersuarakan. dia dapat mempelajari dan mengambil hikmah lebih banyak dari pada para batin manusia lain yang terlalaikan. Kelebihan kesaktian tersebut pasti akan dilebihkan oleh Allah sebagai sebuah harga yang lebih dari pantas. Jiwa yang ikhlas adalah jiwa yang sakti.
Dan sesungguhnya Allah tidak akan pernah mencukupkan satu bahasa cukup untuk menggambarkan keindahan kehidupan bagi jiwa yang ikhlas, karena ikhlas adalah bagai sebuah siklus tanpa akhir yang membahagiakan dan memerdekakan manusia.
Betapa banyak orang yang terpenjara dalam sempitnya sangkar hati yang begitu sangat membelenggunya. Sedangkan kunci untuk memerdekakan hidup dan batinya tersebut hanyalah dengan ikhlas. Namun keadaannya masih juga belum berubah. Semua karena keengganan atau rasa separoh hati yang menuruti perhitungan untung rugi yang dikatakan logikanya. 
Maka ditangguhkannya kemerdekaan jiwanya tersebut dan dinikmatinya kesakitan yang berkepanjangan. Jika semua sudah sampai pada titik puncak, sayang sekali bahwa dia lalu melanjutkan kemarahan dan penghujatan tiada henti kepada Allah, karena merasa telah didholiminya. Tidak, sama sekali tidak, Allah adalah sang maha penyayang atas hambaNya.Sejenak Lihatlah betapa telah jelas terbukti bahwa alangkah kerugian dan kesempitan yang menyita batin manusia jika dia tidak mau atau tidak mau tahu tentang keberadaan aturan tuhannya. 
Dan betapa pandai manusia ketika dia dapat menghebatkan batinnya untuk tertuntun dalam keteduhan jalan Allah. salah satu nilai kehebatan itu terkandung dalam Ikhlas. Bukan hanya kesediaannya menyerahkan jiwa kepada tuntunan kehendak Allah, namun ikhlas adalah tentang memohon untuk yang terbaik, berusaha untuk hasil terbaik sampai batas akhir sebuah kekuatan yang kemudian hasilnya kita terima dengan penuh syukur,dan atau kemudian lebih berusaha lagi demi yang lebih baik. Jiwa yang ikhlas tidak terlalu cerewet bertanya tentang keberlakuan takdir Allah atasnya, melainkan jiwanya berkata bahwa Allah yang paling tahu atas kebutuhan hidupnya. Dibesarkannya pemikiran positif atas sang maha pengatur hidupnya itu, karena kepastian diberikan dan dipenuhinya kepentingan atas hidup dan keberlangsungannya.
Jiwa yang ikhlas tidak akan berhenti hanya bertanya, tanpa bersungguh-sungguh mencoba. Dipertebal rasa malunya untuk memerintah sang maha kuasa guna mengharuskan mudahnya kebaikan itu datang baginya, sebelum dia ikhlas berupaya. Jiwa yang ikhlas akan menghentikan rengekan atas permintaan jaminan penghargaan oleh para makhluk ataupun dari penciptanya, karena kuatnya keyakinannya bahwa kebaikan adalah jaminan kepastian bagi yang ikhlas.
Jiwa yang ikhlas tidak akan gampang menyalahkan Allah atas kelemahan dan kealpaannya. matanya akan melihat dan kemudian berpikirbahwa ternyata banyak orang lain yang tidak sekuat dia namun akhirnya lebih berhasil dari padanya karena keikhlasannya. Jiwa-jiwa yang ikhlas menyadari dan mengakui serta menetapkan hati bahwa Allah subahanahu wata'ala adalah maha dalam segalanya. sungguh, ketetapan itu tidak diterimanya kecuali dengan damai.diperkuatnya kesungguhan,maka batinnya akan berkata bahwa Allah yang akan menghebatkan sekecil-kecil kekuatan,untuk merampungkan sebesar-besar tugas dan kepentingan hidupnya. Lihatlah, jiwa- jiwa yang ikhlas terlihat tampil lebih besar dari ukuran kemanusiannya. Sendirian dia bisa melakukan tugas dari seribu orang. Dia melihat yang tiada mampu dilihat manusia lain, dan dia dapat mendengar atas sesuatu yang tak tersuarakan. dia dapat mempelajari dan mengambil hikmah lebih banyak dari pada para batin manusia lain yang terlalaikan. Kelebihan kesaktian tersebut pasti akan dilebihkan oleh Allah sebagai sebuah harga yang lebih dari pantas. Jiwa yang ikhlas adalah jiwa yang sakti. Dan sesungguhnya Allah tidak akan pernah mencukupkan satu bahasa cukup untuk menggambarkan keindahan kehidupan bagi jiwa yang ikhlas, karena ikhlas adalah bagai sebuah siklus tanpa akhir yang membahagiakan dan memerdekakan manusia.

Selasa, 04 Oktober 2011

Maafkan Aku Istriku, Ujian Itu Seharusnya Membuat Aku Lebih Sabar


Ini adalah kisah tentang sepasang suami istri, yang dalam bahtera rumah tangga tersebut, Allah memberikan ujian dengan belum hadirnya buah hati ditengah- tengah kehidupan mereka. Semoga menjadi hikmah bagi kita semua, bahwa ujian adalah memang bagian dari kehidupan yang seharusnya membentuk kita agar menjadi pribadi yang lebih sabar. Alkisah, suatu hari seorang suami yang setelah pulang dari bekerja, mendapati rumahnya kosong tidak berpenghuni. Istrinya tidak berada dirumah kala itu.
Entah mengapa, tiba- tiba seketika itu, meledaklah emosinya. Hal ini semakin bertambah, apalagi setelah melihat istrinya yang tiba- tiba muncul dari balik pintu. Berkatalah sang suami dengan kemarahannya yang sangat, " Dari mana saja kau?, aku capek pulang kerja kau malah kelayapan di luar "
Si istri tersenyum, dia berniat menjawab pertanyaan suaminya untuk memberikan penjelasan, namun tiba- tiba lehernya terasa seperti tercekik. Sang suami menarik jilbab panjang yang dipakainya hingga nyaris sobek. Dan seketika itu pula si istri terjatuh di tanah. Sejenak sang istri menghela nafas, dan tak terasa air matanya jatuh. Tapi ditahannya mulutnya sendiri agar tidak mengucapkan sesuatu yang membuat kemarahan suaminya semakin menjadi- jadi." Aku akan membuatkan air hangat untuk kau mandi, suamiku" kata sang istri sambil menyeka air matanya dan mencoba berdiri. " Tidak usah!" Jawab sang suami dengan keras. " Semakin lama, aku bosan dengan keadaan seperti ini. Aku ingin anak darimu, tapi mengapa kau malah mandul. Dasar istri tidak berguna!" Lanjut suaminya dengan sangat marah.
" Maaf" jawab si istri pelan.
" Sudahlah! tidak ada gunanya kau minta maaf. Kau ku ceraikan saat ini juga. Aku ingin wanita yang bisa memberiku anak" Jawab suaminya.
Sang istri rasanya seperti tersambar petir, ketika suaminya mengatakan kata cerai yang begitu tanpa beban keluar dari mulutnya. Dia benar- benar tak habis pikir, mengapa suaminya begitu sangat tega kepadanya, bahkan sebelum dia memberikan penjelasan tentang apa yang dilakukannya tadi di luar.
Dia pun bertanya pada dirinya sendiri, mengapa setelah bertahun- tahun mereka menikah, dan dengan sepenuh hati dia telah melayani suaminya, namun dalam hitungan detik saja, suaminya telah tega menceraikannya. Sang istri terus memohon kepada suaminya agar tidak menceraikannya, namun suaminya bahkan semakin lagi dan lagi dalam mengucapkan kata cerai bahkan sampai 3 kali. Setelah itu, di usirlah sang istri dari rumahnya.
Keesokan harinya, datanglah seorang ibu tua yang ingin bertamu hendak menemui sang istri. Suaminya hanya menjawab singkat kalau sang istri sudah tidak menghuni rumah tersebut. Si ibu tua kemudian minta ijin menjelaskan sebentar tentang maksud kedatangannya kali ini. Dia berkata bahwa dia ingin melanjutkan pembicaraan yang terpotong di hari sebelumnya tentang niat sang istri tersebut untuk melamar putrinya tersebut untuk menjadi istri kedua bagi suaminya.

Mendengar hal itu, Sang suami benar- benar terkejut dan tidak menyangka,
" Benarkah itu? " tanyanya pendek " Ya, dia bilang dia ingin menyenangkanmu dengan memberikanmu istri yang baru, agar kau beroleh keturunan.Namun dia tergesa- gesa pulang, karena teringat pada jam itu kau pasti sudah pulang, dan dia sangat ingin menyiapkan kebutuhanmu di rumah" Jawab si ibu menjelaskan
Si suami tidak bisa berkata apa- apa lagi. Rasanya tercekat tenggorokannya untuk mengeluarkan bahkan hanya untuk sebuah kata. Dia tidak menyangka, bahwa sang istri telah begitu luas hatinya demi kebahagiaannnya. Namun dia balas semua itu dengan kata thalak 3 yang dengan mudah terlontar untuknya begitu saja, kemarin. Akhirnya...
Dengan perasaan penuh sesal, sang suami terus melanjutkan hidup.
Dan kali ini episode hidupnya telah sampai pada sebuah pernikahannya yang kedua. Dia menikahi anak dari ibu tua tersebut. Setelah setahun berlalu, merekapun ternyata belum kunjung dikaruniai seorang anak. Terbersit keinginan sang suami untuk memperoleh keterangan tentang kesehatannya kepada seorang dokter. Setelah beberapa hari, diperoleh keterangan ternyata bahwa dialah yang mandul.
Seketika, muncullah kembali bayangan istrinya terdahulu yang begitu sholihah, sangat pengertian, serta sabar menerima keadaan. Hal apapun dihadapi istrinya itu dengan ikhlas tanpa keluhan, walaupun batin sang istri sendiri sering disakiti oleh perangai suaminya yang mudah marah dan sering kali memukulnya.
Rasa penyesalan dan sedih berkepanjangan semakin menyeruak dalam benak sang suami saat itu. Dia merasa bahwa ini adalah hukuman dari Allah karena telah menyia- nyiakan istrinya yang terdahulu yang telah dengan setia menemaninya bertahun- tahun. Bertahun- tahun pula dia menuduh bahwa sang istri yang bermasalah karena tidak bisa mengandung seorang anak. Namun, ternyata kini semua telah jelas, bahwa dialah justru yang "bermasalah".Dan kini, tidak tersisa apapun baginya kecuali penyesalan yang sangat. Dalam sedih dia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menghormati istrinya, dan tidak akan dengan gampang mengumbar amarah kepada istrinya kembali, terutama dengan tindakan yang begitu ringannya dia mengobral kata cerai bagi pasangan hidupnya.
(Syahidah/voa-islam.com)

Selasa, 13 September 2011

Talak 1, 2, 3, 4 dan 5

Mendengar kata tersebut sebagian orang akan mengeryitkan dahi. Secara umum didapati pada
kalangan bahwa ketika menjalani kehidupan pernikahan yang begitu berliku, tidak
jarang salah satu pihak baik suami ataupun istri akan terbawa emosi sehingga khilaf
mengatakan talak, ataupun dengan kata ungkapan lain. Pernyataan ini menuntun untuk
kembali merujuk pada buku Tuhan, yang banyak dibahas dalam Surat Al Baqarah dan Hadist Bukhari Muslim dalam kitab Li'an. Banyak orang beranggapan ketika kata tersebut muncul dari salah satu pihak suami atau istri maka akan dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat diralat dan sejenisnya.
Mari kita coba lihat bersama-sama. Surat Al Baqarah 225: Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.
Dari ayat tersebut menjelaskan bahwa jika salah satu pihak secara emosional mengucap talak tanpa benar-benar memaksudkan, hal tersebut tidaklah otomatis menjadi talak 1, talak 2 atau talak 3, seperti yang banyak dipahami oleh sebagian kita. Perlu diperjelas disini, karena banyak kalangan mendapatkan pemahaman sepotong-potong tanpa terlebih dahulu melihat lebih jauh penjelasan Tuhan tentang hal ini. Pemahaman yang terpotong tersebut kemudian dipahami dan diyakin sebagai kebenaran utama, tanpa mencari second, third, fourth opinion, atau bahkan lebih, sehingga memperkeruh situasi. Meski demikian, harus disadari juga bahwa penggunaan kata talak ataupun kata-kata kasar lain yang bersifat menyinggung perasaaan harus dihindari, karena bagaimanapun masing-masing pihak harus saling menjaga perasaan.
Dalam kitab Li'an diperoleh riwayat sebagai berikut. Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Dari Said bin Jubair ia berkata: Aku pernah ditanya mengenai dua orang suami istri yang saling bersumpah li`an pada masa kepemimpinan Mush`ab, apakah keduanya harus dipisahkan? Aku tidak mengetahui jawabannya, lalu aku meluncur pergi ke rumah Ibnu Umar di Mekah. Aku berkata kepada anak kecil penjaga rumahnya: Izinkanlah aku masuk! Anak itu menjawab: Ibnu Umar sedang tidur siang. Namun Ibnu Umar mendengar suaraku, dari dalam ia bertanya: Apakah Ibnu Jubair? Aku menjawab: Ya! Ia berkata: Masuklah! Demi Allah, kamu tidak akan datang pada waktu seperti ini kecuali ada keperluan. Lalu aku masuk dan melihat ia sedang berbaring di atas pelana sambil bersandar pada sebuah bantal yang isinya serabut. Aku langsung bertanya: Wahai Abu Abdurrahman, apakah dua orang suami istri yang saling bersumpah li`an itu harus dipisahkan? Ibnu Umar menjawab: Maha suci Allah, ya! Dan sesungguhnya orang pertama yang menanyakan hal itu adalah fulan bin fulan, ia menanyakannya langsung kepada Rasulullah saw.: Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu jika salah seorang di antara kami mendapati istrinya melakukan perbuatan mesum. Apa yang harus ia lakukan? Jika ia katakan, maka ia telah mengatakan sesuatu yang besar, dan jika ia diam berarti ia diam menutupi masalah besar juga. Nabi saw. hanya diam tidak memberikan jawaban. Tidak berapa lama setelah itu, ia datang lagi kepada Rasulullah dan berkata: Sesungguhnya hal yang aku tanyakan kepadamu itu adalah masalah yang sedang menimpa diriku. Lalu Allah Taala menurunkan ayat-ayat berikut ini dalam surat An-Nuur: Dan orang-orang yang menuduh istri-istri mereka berzina. Rasulullah membacakan firman Allah tersebut kepada orang itu sambil menasihati dan mengingatkan serta memberitahukan bahwa siksaan dunia itu lebih ringan daripada siksaan akhirat. Orang tersebut menjawab: Tidak, demi Allah Yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak berdusta terhadap istriku. Lalu Rasulullah saw. memanggil istrinya dan menasihatinya, mengingatkannya dan memberitahukannya bahwa siksa dunia itu lebih ringan daripada siksaan akhirat. Wanita itu menjawab: Tidak, demi Allah Yang mengutusmu dengan kebenaran, sesungguhnya ialah yang telah berdusta! Kemudian Rasulullah saw. memulai dari pihak suami agar di bersumpah empat kali demi Allah bahwa ia adalah termasuk orang-orang yang benar, sedangkan sumpah kelima menyatakan bahwa laknat Allah atasnya jika ia termasuk orang-orang yang berdusta. Kemudian beliau melanjutkan dengan istri. Ia juga bersumpah empat kali demi Allah bahwa suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta. Dan sumpah kelima menyatakan bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar. Kemudian setelah itu Rasulullah saw. memisahkan antara keduanya. (Shahih Muslim No.2742)
Beberapa hal yang dapat dipetik dari hadist diatas, seorang Nabi kelas 1 tidak dengan mudahnya memberikan keputusan talak dengan mudah, sehingga diharuskan bersumpah sampai 5x dari masing-masing pihak, dalam konteks tuduhan kelas berat dalam pernikahan, yakni zina. Disamping itu, talak mensyaratkan adanya persetujuan masing-masing pihak berkaitan dengan keputusan tersebut dengan melihat permasalahan yang timbul secara dewasa. Tetapi, semuanya kembali kepada individu masing-masing, sejauh mana berkemauan untuk menscan kembali hati dan pikiran ketika semuanya dikembalikan kepada Buku Tuhan dan Nabi Muhamad SAW. Down 2 earth...kembali kepada ketidaksempurnaan sebagai manusia biasa.

Komitmen Sang Majikan dan Hambanya


Diceritakan Sang Majikan menempatkan sejumlah hamba sahayanya di sebuah tempat baru. Sebelum meninggalkan Sang Majikan memberikan sebuah buku bagi hamba-hamba tersebut tentang bagaimana mereka harus menjalani kehidupan di sebuah tempat baru tersebut. Sang Majikan berpesan kepada para hamba itu untuk membaca buku. Seraya waktu berlalu, tiap-tiap hamba merespos pesan Sang Majikan dengan beragam.
Hamba pertama, dia tidak terlalu tertarik dengan buku Sang Majikan. Dia lebih tertarik dengan tempat baru yang diberikan oleh Sang Majikan. Dia sangat menikmati tempat baru tersebut. Daya tarik tempat baru tersebut membuatnya lupa bahwa Sang Majikan telah menitipkan sebuah buku untuk dibaca. Kesadaran diri hamba tersebut akan Sang Majikan tidak terlalu dalam, karena sebagian besar waktu dia habiskan untuk menikmati pemandangan tempat baru tersebut. Dia sangat menikmati setiap detiknya berada di tempat baru tersebut karena dia tidak pernah berada di tempat bru tersebut. Gemerlap, kilau silau keindahan menggoda membuatnya lupa bahwa dia berkomitmen dengan Sang Majikan.
Hamba kedua, dia membaca buku tersebut hampir di setiap waktu yang dilaluinya, dia merasa puas dengan hal itu, selalu membaca buku tersebut dan merasa sangat nyaman dengan hal tersebut. Membaca dan menghafal isi buku dengan senang. Sekilas, hamba ini sangat taat dengan perintah Sang Majikan dan dia bahagia dengan hal itu. Tidak banyak tingkah dari hamba pertama ini, karena memang hamba ini adalah hamba yang baik.
Kepandaian membaca buku Sang Majikan membuatnya merasa dia dekat dengan Sang Majikan. Kepiawaiannya membaca buku memukau hamba-hamba lain. Hari berganti dan waktu berlalu, aktivitas rutin membaca buku tersebut seolah membuatnya lupa bahwa Sang Majikan bepesan untuk membaca buku itu dengan maksud tertentu. Kepandaiannya untuk membaca membuat hamba ini menjadi hafal sebagian besar dari isi buku tersebut. Di tempat baru tersebut dalam kondisi yang kadang naik dan turun dia selalu membaca buku tersebut dan merasa senang, puas dan nyaman dengan apa yang dilakukannya, tanpa berusaha berpikir bahwa Sang Majikan sebenarnya tidak hanya berpesan untuk membaca saja. Ada hal lain yang sebenarnya Sang Majikan inginkan.
Hamba ketiga, jarang membaca buku tersebut dan menjalani kehidupan di tempat baru tersebut berdasarkan naluri dan pegalaman trial and error, learning by doing (mistake maksudnya). Dalam tahapan selanjutnya, banyak hal-hal baru yang dia alami yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sampai pada sebuah saat dimana hamba ini mulai berpikir tentang pesan Sang Majikan untuk membaca buku yang dititipkan padanya. Tetapi sang hamba tersebut buta huruf, sehingga dia mulai berpikir untuk bagaimana mengetahui isi buku Sang Majikan. Akhirnya dia pun mendapatkan sebuah cara untuk mengetahui isi buku tersebut dengan cara yang berbeda dari hamba-hamba lainnya. Perlahan dia mengetahui isi dan pesan yang terdapat dalam buku tersebut, bertahap pula dia paham apa yang diinginkan oleh Sang Majikan kepadanya. Berbekal sedikit pengetahuan baru dari buku tersebut dan keyakinannya, dia berusaha untuk memaknai pesan yang disampaikan Sang Majikan. Dia mulai berpikir bahwa pesan Sang Majikan sebenarnya bukan membaca, akal dan nuraninya mulai bermain dalam kesadaran yang lebih baik. Kendati buta huruf, dia akhirnya sampai pada pemikiran bahw membaca hanyalah sebuah pintu anak tangga paling dasar. Melalui anak tangga pertama tersebut dia melangkah pada anak tangga kedua yakni mengetahui. Sampai pada tahap selanjutnya dia berpikir sedikit lebih keras, yaitu memahami isi buku tersebut. Bukan semakin mudah pada anak tangga selanjutnya, dia terpaksa sampai pada kecenderungan untuk melakukan hal-hal yang ada dalam isi buku tersebut secara bertahap. Sehingga dia menjadi lebih yakin dalam menjalani kehidupan karena dia sedikit memahami apa yang dinginkan Sang Majikan.

Senin, 12 September 2011

Mengapa Aku Memaafkan Suamiku ?


Saat suamimu berbuat kesalahan, dan itu menyakitimu, dengan sangat, menangislah, jika itu bisa melegakanmu. Jangan paksakan dirimu untuk tetap terlihat tegar, karena kau hanyalah manusia yang juga punya rasa kecewa, marah dan berhak protes atas sikap beliau. Maka biarkan air mata jatuh untuk kelegaan hatimu.
Namun...
Rapuhnya batinmu saat itu sebagai seorang perempuan, jangan sampai menghilangkan ingatanmu, bahwa dalam keadaan sedih dan sekalipun, kau harus tetap mengingat Allah.
Kau memang marah, kau kecewa terhadap beliau, tapi jangan kau menyimpannya terlalu lama sehingga Allah menilaimu sebagai istri yang pendendam dan pemarah. Bayangkan ketika kau mendapat julukan itu dari manusia, betapa keberatannya dirimu. Apalagi jika Allah yang memberikannya untukmu karena sudah tidak adanya kesabaran dari hatimu. Maka memang jika tidak bisa kau hentikan tangismu, tapi kendalikan hatimu untuk segera memaafkannya.
Beruntunglah karena beliau yang berbuat kesalahan dan bukan dirimu, karena itu adalah kesempatan untukmu, untuk menyadarkan beliau, bahwa kau adalah seorang yang dapat belajar untuk membahagiakannya, walaupun dalam keadaan kau kecewa dan beliau telah salah kepadamu sekalipun.
Rendahkan suaramu saat menyampaikan materi protesmu kepadanya. Sampaikan dengan kata- kata yang halus, dan memasang senyum terbaikmu. Maka yakinlah bahwa beliau akan mengerti, betapa kau belajar santun kepadanya, bahkan ketika akal sehat sudah mulai hilang karena kekecewaanmu. Tapi kau tidak mau membiarkan hatimu dikuasai oleh rasa. Rasa amarah dan dendam hanya akan membakar kasih sayang yang ada di hati beliau. Dan ingatlah tentang satu hal bahwa cara terbaik menghukum orang yang telah menyakitimu, adalah berbuat santun dan baik kepadanya.
...Dan ingatlah tentang satu hal bahwa cara terbaik menghukum orang yang telah menyakitimu, adalah berbuat santun dan baik kepadanya...
Jika kau bersabar dalam kemarahan karena kesalahan suamimu, maka lihatlah betapa bidadari akan begitu cemburu kepadamu. Lihatlah betapa suamimu akan senantiasa ridho untuk dirimu. Begitu bahagianya dia karena memiliki pasangan jiwa yang terlalu luas hatinya untuk dia sakiti lagi. Dan begitu menyesalnya dia karena telah dengan ceroboh dan khilaf menyakiti seseorang yang sangat perduli terhadapnya.
Ingatlah, bahwa setan selalu merasuki jalan darahmu, maka segera sebutlah nama Allah. Dan sadarilah bahwa suamimu pun hanya manusia, seperti halnya dirimu. Mungkin saat ini beliau yang bersalah, tapi siapa yang bisa menjamin bahwa suatu hari kaulah yang melakukan kesalahan?. Dan ketika kau pada posisi bersalah, bukankah kau juga menginginkan untuk dimaafkan, diingatkan dengan cara kasih sayang, dan dirangkul kembali oleh suamimu?. Maka mengapa kau harus menunggu beliau berbuat seperti itu, mulailah dengan mencontohkan kepadanya. Maka dia akan mengerti betapa sayang istrinya ini kepadanya, bahkan lebih dari cara beliau menyayangi dirinya sendiri.
Apakah kau percaya bahwa Allah selalu melihatmu? Dan apakah kau akan rela bahwa Allah akan menilaimu sebagai istri yang hanya sampai disitu kesabarannya, saat kau dengan mudah mengumbar amarah dan kesedihan hatimu. Ya, kau memang berhak kecewa, karena suamimu memang bersalah. Namun itulah skenario cantik Allah agar kau sadar, dan agar suamimu tahu seberapa jauh kualitas dirimu dalam bersabar dan memaafkan. Maka buktikanlah. Buktikan yang terbaik yang kau bisa.
Subhanallah, betapa cantik dirimu saat memaafkan. Bahkan Allahpun ridho kepadamu. Allah bangga terhadapmu, hambanya yang sabar dan begitu luas hatinya. Allah bangga terhadap hamba wanitanya yang berhias dengan sifat- sifat yang mulia. Ingatlah, Beliau tidak akan berada disismu selamanya. Semoga saat beliau mengusung tandu kerandamu nanti, suamimu itu akan senantiasa mengingatmu sebagai seorang istri yang begitu sangat pengertian, pemaaf, dan penyabar atas dirinya. Semoga (Syahidah/voa-islam.com)

Jumat, 09 September 2011

Para Relijius yang Egois


Ketika sejumlah orang diperintahkan untuk bersaksi dan menyatakan bahwa tiada tuhan selain Allah oleh Nabi Muhammad (Sang Utusan) sebagian besar melakukan itu. Dalam perintah baru tersebut terkandung juga sejumlah perintah lain, beribadah sholat 5 waktu dalam sehari. Sedikit agak susah bagi orang yang malas, tetapi sebagian orang melakukan hal tersebut tanpa rasa malas dan tepat waktu. Pada saat bulan Ramadhan diperintahkan oleh Sang Nabi, sebagian melakukan
perintah itu berlpar-lapar dan dahaga demi menunaikan perintah puasa itu. Ketika diperintahkan berzakat, sebagian melakukan perintah itu bagi yang mampu dan sebagian menjadi penerima zakat. Ketika bulan haji datang, perintah pokok untuk melaksanakan ibadah haji juga mampu dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kemampuan yang cukup untuk melakukannya. Tidak terasa 5 rukun Islam telah dilaksanakan komplit oleh sejumlah orang tertentu yang mengaku Islam, menjalankan perintah agama, menjaga kehidupan dari dosa, sebuah gambaran kehidupan yang ideal dan normatif. Sebagian dari kaum relijius tersebut mampu pelakukan kelima perintah dari sang Nabi dengan tingkat pelaksanaan yang relatif baik.
Melihat lebih ke dalam, ternyata Tuhan juga memberi perintah lain, untuk berperang di jalan-Nya dengan harta dan jiwa. Sebagian kalangan di atas berpendapat, perintah tersebut hanya berlaku ketika di zaman nabi Muhamad hidup dimana pada masa-masa awal kebangkitan Islam di jazirah Arab. Jawaban yang cukup menenangkan banyak pihak. Sebagian lain menjelaskan bahwa jihad tidak hanya dengan senjata, bekerja, belajar juga jihad. Lumayan masuk akal jika dipaksakan, tetapi jihad perang berbeda dengan dengan jihad semacam itu. Mari dilihat sebentar, jihad perang sebenarnya secara umum dibagi menjadi 2 jenis.
Pertama, jihad ofensif - dimana penundukan melalui perang yang dilakukan oleh bangsa muslim terhadap bangsa-bangsa non muslim untuk tegaknya kalimat Allah dengan terlebih dahulu memberikan
sosialisasi kepada pihak lawan. Pilihan yang diberikan cukup simple, masuk Islam, bayar jiyzah (pajak), atau diperangi. Kondisi jihad offensive mengharuskan adanya kekuatan bangsa muslim dalam segala bidang, baik ekonomi, milter, sosial budaya dll, sebenarnya hal ini bisa terjadi jika hukum-hukum yang diberlakukan dalam bangsa muslim tersebut adalah hukum-hukum Tuhan seperti yang terjadi di zaman Nabi Muhammad sehingga melahirkan kekuatan Islam yang handal dan disegani. Tetapi, untuk konteks zaman sekarang mungkin agak sedikit jauh panggang daripada ayam.
Yang Kedua adalah Jihad defensive - perang yang terjadi ketika muslim dalam suatu wilayah diserang oleh kelompok atau negara lain dengan berbagai alasan, mungkin karena kondisi geografis, sumber daya alam dan faktor lainnya. Misalnya pada zaman pendudukan RI oleh Belanda, sebenarnya perlawanan tersebut jika kita cukup sadar bisa dimasukkan dalam konteks jihad defensive. Hal itu mungkin yang menjadikan penundukan wilayah oleh Belanda di beberapa tempat, seperti misalnya Aceh menjadi tidak mudah karena dilatarbelakangi oleh semangat keagamaan yang intens. Hal ini juga kenapa Bung Tomo berteriak Allahu Akbar ketika Surabaya diserang oleh Belanda.
Kembali kepada kelompok relijius di atas, kelompok tersebut banyak didapati di sekita kita, banyak melakukan kebajikan, menjadi panutan masyarakat, jauh dari perbuatan dosa, suka memudahkan orang lain dalam kebaikan, singkatnya Islami sekali. Tetapi, sebagian besar banyak alergi ketika disuguhkan bahwa perintah perang sebenarnya juga didapati dalam Islam, sebagian besar mereka malah ada yang skeptis, tidak berusaha mencari dan menscan ulang tingkat pemahaman mereka. Sedikit ganjil memahami perilaku mereka tersebut, jika dikaitkan dengan pesan Nabi Muhamad bahwa Islam seperti satu tubuh, jika satu sakit, maka lainnya akan merasakan sakit tersebut. Kita lihat contoh kasus di Palestina, dimana sebagian besar orang Islam terzalimi oleh bangsa lain, terlalu jauh bagi kita dan kalangan di sekitar kita untuk berangkat ikut berperang di garis depan. Selama ini yang terjadi pada kelompok yang relijius tersebut adalah hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh Nabi MUhamad secara standar sekali sebenarnya. Mereka memang telah melakukan kelima rukun Islam, mereka memang menjaga diri dari dosa, mereka memang menjadi penutan di masyarakat. Tetapi, apakah sebagian besar pernah merasakan penderitaan mereka yang terwujud melalui doa harian mereka untuk saudara mereka yang terzalimi selama sekian lama?. Sebagian dari mereka malah cenderung lebih sibuk dengan diri dan keselamatan dunia akhirat mereka sendiri, mengharap surga bagi mereka dan famili mereka sendiri, tanpa berpikir untuk berdoa bagi para saudara mereka yang mengalami peperangan, penderitaan.  
Bukankan posisi para mujahid calon syuhada adalah lebih baik di depan Tuhan dari para penjaga masjidil haram dan pemberi minuman untuk jemaah haji?
Sekali lagi, terlalu jauh untuk berpikir bahwa kita mungkin akan menjadi syuhada, tertawalah dalam mimpi, karena para syuhada adalah para manusia pilihan dimana ketika berjumpa dengan Tuhannya dengan luka yang mereka dapatkan ketika perang; karena ketika gugur dalam medan perang ternyata mereka tidak mati tetapi bertengger di leher burung hijau; karena ketika semua manusi antri dihisab para syuhada telah antri di pintu surga. Sekarang, baru tahu kan betapa terhormat kedudukan posisi syuhada di depan Allah dibanding dengan ... maaf...jawab sendiri saja oleh kalian.

Kamis, 27 Januari 2011

True love or fake love?


True love dan media
Tema besar true love di hampir sebagian besar khususnya anak muda (atau setidaknya yang merasa muda) begitu konsisten mengalir dari waktu ke waktu. Konsep true love yang dimaksudkan di sini ialah cinta sejati dalam konteks roman percintaan antara lawan jenis, atau lebih praktisnya dalam konteks pacaran. Meskipun, percintaan antara sesama jenis (sebagai sebuah penyimpangan) dimungkinkan juga memakai konsep true love tersebu. Konsep true love (roman) yang begitu meluas mudah sekali kita temui di sekeliling kita, terutama banyak dijumpai da. Banyaknya pasangan yang berpacaran juga tidak hanya didominasi di kalangan kayawan, mahasiswa, smu, tetapi juga smp, atau mungkin saja sebagian kecil usia SD.
Trend yang berlanjut mulai dari dulu sampai sekarang pun disambut dengan baik oleh media baik cetak, maupun visual, tidak ketinggalan dunia industri juga merespon dengan sangat hangat. Sehingga apa yang kita dengar, lihat hampir tiap hari yang muncul selalu menyertakan konsep true love, meskipun dengan kemasan kata yang berbeda. Sebagai contoh, lagu-lagu yang beredar dah menjadi hits selalu berkisar pada masalah percintaan dalam berbagai bentuknya baik perselingkuhan, cinta segitiga, kehilangan kekasih dan contoh lain sejenis. Disadari atau tidak begitu deras konsep true love masuk dalam tiap jam kita beraktivitas kecuali kita sedang tidur.
Begitu besarnya dan pengaruhtersebut, sehingga kadang porsi yang tidak kalah penting lain dalam kehidupan kita kurang mendapat perhatian, kecuali pada saat- saat hari raya tertentu, seperti misalnya tema-tema tentang kemanusian, persaudaraan, keluarga menjadi isu-isu yang kurang populer. Padahal dalam kehidupan harus dipahami bahwa ada hal-hal lai yang lebih besar dan tidak kalah pentingnya.
Untuk lebih tidak memahami konsep true love dalam arti percintaan, mari kita sedikit pertanyakan seberapa pentingnya true love dalam dalam kehidupan.Sebagian besar mungkin akan menjawab sangat penting, dengan berbagai alasan personal, sebagian mungkin menjawab sangat penting karena tanpa hidup tidak lepas dari cinta, cinta kepada orang tua, sahabat guru, oang lain dsb. Jawaban yang terakhir ini sedikit konyol, karena di awal konsep trus love yang dimaksud bukan dalam artian tersebut.
Kita mulai dengan jika true love sebegitu penting dan besarnya dalam kehidupan, kenapa setelah kehidupan berakhir, hal tersebut tidak dipertanyakan oleh Tuhan. Diantara sejumlah besar pertanyaan dalam kehidupan, ketika kehidupan berakhir kenapa true love yang begitu banyak menjadi visi utama sebagian besar orang tidak bisa terhubung dengan kita sebagai pemilik platform tersebut. Ketika kita sudah tidak eksis lagi di dunia, hanya 3 hal besar yang menjadi ikatan antara kita dengan kehidupan, yakni harta yang kita sedekahkan, ilmu yang kita amalkan dan doa anak soleh. Ketiganya akan tetap terhubung dengan kita setelah kehidupan berakhir.
Mencermati hal di atas, apakah tidak sebaiknya kita kembali melakukan review atas apa yang pasti menjadi pertanyaan sekaligus menjadi investasi kita di dunia dan setelahnya. Memang sebaiknya unsur cinta roman dalam diri manusia tetap ada, tetapi hal ini tidak harus menjadi sebuah hal yang sangat dominan dan menafikan hal lain yang jauh lebih penting. Hal tersebut erat kaitannya dengan seberapa besar komitmen kita pada sebuah pernikahan. How low can you go, demikian tagline sebuah iklan rokok beberapa waktu lalu.

Rabu, 26 Januari 2011

Farah Quinn


Acara kuliner menjadi hal yang tidak terpisahkan dari berbagai program di hamper semua stasiun TV. Acara tersebut dikemas beragam mulai dari formal (di Indosiar pernah ada acara adu masak chef) sampai informal dengan latar belakang outdoor mulai pinggir pantai dan pegunungan. Pemandu acara kuliner juga tidak hanya dimonopoli oleh kaum wanita, para pria juga banyak berperan di bidang ini. Jenis masakan yang dibawakan sangat beragam, mulai dari jenis yang sederhana sapai dengan jenis yang rumit dalam proses pembuatannya.
Salah satu acara kuliner yang sangat megundang perhatian dan sedikit berbeda dari lainnya adalah acra kuliner yang dipandu oleh Farah Quinn. Program kuliner tersebut setidaknya menawarkan setidaknya beberapa hal, antara lain
Jenis masakan yang dibawa itu sendiri
Jenis masakan di tiap episode tentu mempunyai rasa, bahan dan tingkat kesulitan pembuatan yang beragam bagi pemirsa, diantara pemirsa mungkin saja ada yang mengikuti tiap episode acara guna menambah wawasan kuliner, dan mencoba mempraktekkan apa yang ditampilkan.
Setting tempat
Setting tempat program kuliner berlangsung yang berpindah dan tidak melulu dapur, tetapi juga setting tempat yang lain, outdoor, misalnya di pegunungan, membuat pemirsa tidak jenuh. Hal ini mungkin saja dipraktekkan oleh pemirsa juga, khususnya dalam kesempatan, misalnya ketika camping atau rekreasi dengan keluarga.
Daya tarik Farah Quinn
Daya tarik Farah Quinn sendiri dalam program tersebut tidak kalah besar dibanding 2 hal yang ditawarkan di atas. Sedikit sulit untuk menjelaskan kaitannya antara Sang pemandu acara dengan ketertarikan pemirsa kuliner tersebut, khususnya laki-laki secara umum. Selain mempunyai keahlian memasak, Farah Quinn secara fisik mempunyai daya tarik fisik di atas rata-rata pemandu program kuliner lain (meski hal ini mungkin relatively subjektif-jika ada yang berpendapat demikian). Pemirsa TV khususnya laki-laki normal secara umum akan mendapatkan 3 paket tawaran di atas.
Hal tersebut dapat dilihah di berbagai media cetak maupun on line dimana Farah Quinn terliput di dalamnya, gambar-gambar Quinn terekspos dengan maksimal, dimana tidak hanya citra seorang pemandu program kuliner yang tercipta, tetapi juga citra seorang wanita yang seksi absolute, khususnya jika dibanding dengan pemandu program kuliner lainnya.
Pakaian bagian atas Farah Quinn yang implicitly semakin memperkuat efek yang tercipta di benak pemirsa. Program kuliiner Farah Quinn merupakan representasi dari kombinasi antara program kuliner dan daya tarik fisik seorang wanita yang terekspos dengan baik. Bukan tidak mungkin, sebagai efek samping dari program kuliner Farah Quinn akan membuat lebih banyak pemirsa laki-laki gemar menonton, meskipun hal ini tidak otomatis akan menambah pemirsa laki-laki yang terampil memasak. Asal untuk beberapa resep kuliner tertentu yang dibawakan tidak disalahpersepsikan, misalnya ketika Farah memeragakan milk shake! Just Kidding

Sabtu, 06 November 2010

Upin Ipin

Film Upin Ipin begitu lekat di sebagian besar kalangan baik anak-anak maupun dewasa beberapa tahun belakangan. Sebenarnya film tersebut diproduksi untuk menanamkan nila-nilai Islam di kalangan anak-anak pada bulan suci Ramadhan, pad tahun 2007. Cerita film Upin-Ipin mengisahkan tentang cerita sederhana dua saudara kembar dengan bernama Upin dan Ipin dengan kisaran usia tahun. Upin dan Ipin hidup dengan Nenek, yang dipanggil Opa dan sang kakak bernama, Ros. Selain itu, ada juga figur lainnya sebagai teman sebaya si kembar Upin dan Ipin, yakni Mei-Mei yang dikenal cerdas, rajin,; Jarjit yang suka berpantun; Mail yang selalu komersil, Ehsan yang dikenal tajir, dan Fizi yang mudah bergaul (sepupu dar Ehsan). Selain tokoh-tokoh diatas adalah Tok Dalang, Raju, Sally (berjenis kelamin alternative).
Film Upin Ipin seolah melawan trend yang berlaku khususnya dengan tema sebagian besar film ataupun sinetron yang bayak diputar di stasiun TV di Indonesia, yang banyak berisi dengan kisan roman percintaan, perselingkuhan, didukung dengan gaya hidup kelas atas dimana mengajarkan pola hidup yang konsumtif. Kisah serial yang ditawarkan berputar pada kesederhanaan, kesetiakawanan, kenakalan anak-anak secara umum, nilai agama, nasioanalisme - beberapa hal yang sangat membumi dan mudah dijelaskan.
Jika dicermati Kelurga Upin dan Ipin bukan keluarga inti ideal seperti yang banyak dialami oleh keluarga kebanyakan, dimana peran ayah dan ibu begitu besar dalam proses tumbuh kembang seseorang di masa-masa penting anak-anak. Meski begitu, kekosongan fungsi orang tua digantikan dan dijalankan dengan relative baik oleh figure Opah dan Kak Ros. Terjadi pengambilalihan peran ayah oleh Kak Ros dan peran ibu oleh Opa, atau bahkan saling bertukan peran diantara keduanya. Sehingga multi peran keduanya tidak dapat dihindari.
Fungsi keluarga yang dijalankan keduanya mungkin saja bisa dikatakan sebagai sebuah simplikasi dari kerumitan sebuah keluarga yang tidak ideal- terlepas dari kelebihan dan kekurangan Opa dan dalam mendidik cucu dan Kak Ros dalam mendidik adiknya. Keluarga yang tidak ideal bukan disebabkan perpisahan, tetapi kematian kedua orangtuanya.